Ismuhadi: Berteman dan Berada di Tempat Salah?

Ismuhadi: Berteman dan Berada di Tempat Salah?
mediaaceh.co
Banda Aceh | Desas-desus informasi itu sudah tiga hari berseleweran di media pers nasional. Baik cetak, maupun elektronik (televisi-online). Kabar berhembus, dua warga Indonesia bersama tiga warga negara Malaysia, Stevan, Devan dan Mikael Jimpo, dibekuk Badan Narkotika Nasional (BNN). Diduga, mereka anggota sindikat narkotika Internasional China-Malaysia-Indonesia yang diciduk di Hotel Orchardz, Gunung Sahari, Jakarta Pusat, pada Kamis, (4/8/2016).

Awalnya, informasi itu tak begitu menarik perhatian awak redaksi MODUSACEH.CO. Maklum, peristiwa dan kejadian tersebut sudah lazim terjadi di negeri ini dan atau terus terjadi di Jakarta maupun daerah lain di Indonesia, termasuk Aceh. Betapa tidak, ‘operasi’ dan transaksi barang haram itu terus saja marak. Ibarat pepatah, tertangkap satu, kemudian muncul lagi seribu.

Namun, informasi ini menjadi seksi, ketika nama Aceh tersebut. Muncul kabar, dua diantara lima bandar narkoba tadi adalah warga Aceh yaitu: Ismuhadi dan Riki. Ismuhadi telah lama menetap di Jakarta, sementara Riki, warga Samalangga, Kabupaten Bireuen. Sehari-hari, Riki berprofesi sebagai pedagang baju di kawasan Samalangga.

Sebelumnya, atau dua pekan lalu, BNN Pusat, juga melakukan penggerebekan ‘pabrik’ sabu-sabu made in home industri di kawasan Paloh Lada, Kecamatan Dewantara, Kabupaten Aceh Utara.

Syahdan, bahan dasar dan alat pembuat barang haram ini, juga didatangkan dari Jakarta. Tapi, sejauh ini BNN Pusat belum mempublikasi secara terang menderang, terkait dua kasus tadi. “Sedang dalam pengembangan, “ kata Kombes Slamet Pribadi, Humas BNN Pusat pada media ini, Minggu siang (21/8/2016).

Penjelasan Slamet memang masuk akal. Sebab, apapun dalihnya, kita atau aparat penegak hukum tetap harus mengedepankan azas praduga tak bersalah. Namun, besarnya keingin-tahuan publik atau rakyat Aceh, terkait dua warga Serambi Mekah itu pun tak bisa disalahkan. Tentu, kita belum bisa melupakan praktik dugaan serupa yang kini menyeret Faisal dan Abdullah untuk menjalani hukuman di LP Lambaro, Aceh Besar.

Bagi awak media, nama Riki memang agak asing. Bisa jadi, berbeda dengan warga di Samalangga, Bireuen. Pria yang kabarnya adalah mantan kombatan GAM ini mendadak populer, setelah namanya tersebut sebagai salah satu anggota sindikat narkotika lintas negara oleh BNN.

Tak jelas, sejak kapan dan bagaimana kisah pertemanan antara Ismuhadi dan Riki. Yang jelas, sebagai warga satu daerah (Bireuen), Riki sempat dua kali menginap di rumah Ismuhadi. Itu, jika dia sedang berada di Jakarta.

Orang dekat Ismuhadi berkisah. Rabu pekan lalu, tiba-tiba Riki sudah berada di depan rumah Ismuhadi. Singkat kata, sebagai penghormatan terhadap tamu dari kampungnya, Ismuhadi tak kuasa menolak atau memberi izin Riki menginap di rumahnya.

Esok paginya, saat Ismuhadi hendak ke pusat penjualan sparepart mobil di Atrium Senen, Jakarta pusat. Riki ikut menumpang. Katanya, dia ingin bertemu teman di Hotel Orchardz, Gunung Sahari, Jakarta Pusat.

Karena satu arah jalan dan Ismuhadi punya keperluan pribadi. Maka, Riki menumpang mobil Ismuhadi. Tawaran mantan tapol/napol ini agar Riki menumpang taksi atau diantar oleh sopir Ismuhadi, ditolak Riki.

Tanpa basa-basi, Ismuhadi kemudian meluncur ke Hotel Orchardz, Gunung Sahari, Jakarta Pusat. Kepada Ismuhadi, Riki mengaku tak lama, hanya beberapa saat, menemui rekannya. Tak jelas, siapa rekan yang dimaksud Riki, sementara Ismuhadi menunggu dalam mobil. Benar saja, tak berapa lama kemudian, Riki kembali dan keduanya meluncur ke kawasan Atrium, Senen, Jakarta Pusat.

Entah kebetulan atau memang sudah dibuntuti sejak awal. Begitu sampai di kawasan Patung Kuda, Thamrin, Jakarta Pusat, petugas BNN memberhentikan mobil Ismuhadi. Keduanya, kemudian digelandang ke Hotel Orchardz, Gunung Sahari, Jakarta Pusat. Di sana, aparat BNN langsung membawa keduanya menuju kamar 809 dan bertemu dengan tiga warga Malaysia tadi.


Menariknya, saat Ismuhadi dan Riki bersama petugas BNN tiba di hotel, di sana sudah menunggu sejumlah awak media, khususnya televisi. Ibarat mendapat durian runtuh, para jurnalis pun mengarahkan kamera pada lima pria yang diduga sebagai sindikat narkoba internasional ini.

Hasilnya, 30 kilogram narkotika jenis sabu-sabu yang disimpan di atas platpon kamar hotel ditemukan. Deputi Pemberantasan Narkoba BNN, Irjen Pol Arman Depari menjelaskan, selain Ismuhadi, satu tersangka WNI lainnya juga berasal dari Aceh bernama Riki.

"Tiga lainnya merupakan WN Malaysia yaitu Stevan, Devan dan Mikael Jimpo," katanya seperti yang diberitakan merdeka.com, Kamis, (4/8/2016). Arman menambahkan, narkotika jenis sabu itu dibawa melalui jalur laut. "Para pelaku memanfaatkan kelengahan para petugas penjaga pelabuhan untuk menyelundupkan sabu-sabu itu," katanya.

Yang jadi soal adalah, benarkah Ismuhadi terlibat dalam kasus tersebut atau naas, karena berteman dengan orang yang salah dan berada di tempat yang salah? Atau, bukan mustahil Ismuhadi dijebak oleh Riki?

Sekali lagi, apapun bisa serta mungkin saja terjadi. Dan, hukum tetap memberi ruang pada semua pihak untuk menjunjung tinggi azas praduga tak bersalah. Karena, musibah yang kini diderita Ismuhadi, tak hanya melahirkan tekanan dan goncangan batin bagi diri secara pribadi, tapi juga istri dan anak-anaknya.

Karena itu, biarlah proses hukum yang sedang berjalan untuk menjawabnya. Yang benar, pasti benar dan yang salah tetap salah. Sebab, Allah SWT tak pernah tidur. Kepada keluarga Ismuhadi, bersabarlah!***
"Pileg dan Pilpres 2019" - vote sekarang juga -

Komentar

Loading...