Breaking News

Staf Khusus Bidang Politik dan Keamanan

Irwandi Yusuf Memilih Muhammad MTA

Irwandi Yusuf Memilih Muhammad MTA
FB MTA
Rubrik

Banda Aceh | Mantan Komisioner Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) Aceh, Muhammad MTA, dipilih Gubernur Aceh Irwandi Yusuf sebagai staf khususnya, Bidang Politik dan Keamanan. Penetapan itu berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Aceh, Nomor: 821.21/1009/2017, tentang pengangkatan/penunjukan penasehat khusus Gubernur Aceh, persis pada HUT TNI Ke-72, 5 Oktober 2017.

Munculnya nama MTA, begitu dia disapa, mampu mematahkan spekulasi adanya orang dekat Irwandi Yusuf yang dinilai layak serta tepat untuk menduduki posisi tersebut. Bahkan, sejumlah akademisi serta pengamat politik dan keamanan Aceh. Misal, ada nama Munanawar Liza, Nur Djuli serta Bakhtiar Abdullah, ketiganya merupakan mantan anggota juru runding Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Bahkan Aryos Nevada, seorang pemerhati masalah politik dan keamanan Aceh yang produktif menulis dan menerbitkan buku. Kabarnya, Aryos juga orang dekat Irwandi Yusuf.

“Ya, kesannya seperti itu, tapi Bang Wandi lebih memilih MTA dengan pertimbangan khusus. Namun, tak berarti tiga nama tadi tidak diperhatikan. Bang Wandi akan mencari posisi yang lebih tepat dan strategis untuk mereka,” begitu jelas salah satu orang dekat Irwandi Yusuf pada media ini, Jumat malam kemarin (13/10/2017).

Terkait nama MTA, sumber yang tak ingin ditulis namanya ini menjelaskan. Selain mantan kombatan GAM dan aktivis HAM serta demokrasi Aceh. MTA juga sebagai salah satu pengurus Partai Nanggroe Aceh (PNA). Karena itu, Irwandi menilai perlu menunjuk MTA sebagai staf khususnya Bidang Politik dan Keamanan. “MTA juga mampu berkomunikasi dengan berbagai pihak, termasuk jajaran TNI dan Polri,” ulasnya singkat. 

Muhammad MTA lahir di Sigli 1 Mei 1979. Masa kecilnya ia habiskan di Simpang Tiga Pidie, dan menamatkan sekolah dasar hingga menengah di sana. MTA melanjutkan kuliahnya di IAIN Ar-Raniry Banda Aceh tahun 2000. Saat kuliah, MTA aktif dan bergabung dengan Sentral Informasi Referendum Aceh (SIRA), sebuah lembaga gerakan sipil masyarakat Aceh yang berjuang demi terlaksananya referendum di Aceh. Atas kegiatannya dengan SIRA yang dianggap sayap politik GAM saat itu, MTA mengalami empat kali penangkapan.

Yang paling fenomenal bersama kawan-kawan Himpunan Anti Militer (HANTAM) saat menggelar aksi cease-fire (gencatan senjata) dan menaikkan bendera GAM di bundaran Simpang Lima Banda Aceh. Selamat!***

Komentar

Loading...