Irwandi, Demokrat dan SBY Efek

Irwandi, Demokrat dan SBY Efek

Setelah malang melintang dengan wacana independen (jalur perseorangan), Irwandi Yusuf akhirnya kembali ke rumah besar: Partai Demokrat.

Ini terkait dengan langkahnya menuju bakal calon (balon) Gubernur Aceh pada Pilkada, 15 Februari 2017 mendatang.

Keputusan ini, tentu bukanlah  check kosong. Sebab, mantan Gubernur Aceh 2006-2011 ini, menggandeng Ketua Partai Demokrat Aceh Nova Iriansyah, sebagai wakilnya. Syarat ini pula yang membuat Irwandi meraih tiket dari Ketua Umum DPP Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhono (SBY).

Terbukanya pintu partai politik yang dilahirkan Presiden ke-6 Indonesia, Susilo Bambang Yudhono (SBY) ini pun bukan tanpa sebab. Maklum, hingga Februari 2016 lalu, posisi Irwandi masih memiliki elektabilitas tertinggi atau setingkat di atas Muzakir Manaf (Mualem). Itu berdasarkan hasil survei sejumlah lembaga.

Jadi, sangatlah wajar jika Partai Demokrat (PD) Aceh dan DPP di Jakarta, menerima kembali kehadiran Irwandi, walau sempat wara-wiri, mencari ‘peruntungan’ ke Partai Golkar. Toh, partai ini akhirnya bertepi dan mendukung Tarmizi A. Karim.

Itu sebabnya, bersama sejumlah partai pendukung seperti PDA, PDI-P dan PKB, Irwandi haqqul yakin akan meraih kursi yang sempat gagal diperolehnya pada Pilkada serupa, 2012 lalu. Inilah pertaruhan kedua Irwandi, setelah sukses pada Pilkada 2006 silam.

***

Harus diakui, naiknya elektabilitas Irwandi, tak lepas dari kondisi sosial, budaya dan ekonomi Aceh saat ini yang karut marut. Dibawah nahkoda dr. Zaini Abdullah-Muzakir Manaf, Aceh memang belum sepenuhnya lepas dari kemiskinan, pengangguran serta kesetaraan ekonomi. Kesenjangan kian terbuka.

Begitupun, peluang dan kesempatan itu saja tidak cukup. Sebab, untuk bisa menuju dan meraih kursi kekuasaan, popularitas bukanlah penentu utama. Jika tanpa kendaraan politik, mustahil semua itu bisa diraih.

Pendapat dan asumsi ini tentu saja sudah pernah dirasakan Irwandi pada Pilkada 2012 silam. Walau posisinya sebagai mantan penguasa Aceh, dengan segudang program dan kebijakan pro rakyat seperti Jaringan Kesehatan Aceh (JKA), beasiswa anak yatim, santri serta putra-putri cerdas Aceh ke manca negara. Toh, perjuangannya menuju Aceh-1 kandas. Termasuk gugatannya di Mahkamah Konstitusi (MK).

Hasil pahit ketika itu memang susah untuk dipercaya. Tapi, itulah proses politik di negeri ini. Apa pun bisa terjadi, jika kekuasaan yang lebih tinggi (Jakarta) tak restu. Ibarat pepatah, tak satu jalan untuk menjegal Irwandi menuju Aceh-1, saat itu.

Banyak premis yang beredar saat itu. Gagalnya Irwandi, karena memang Jakarta tak restu. Ini semua, tak lepas dari komunikasi politik yang dia bangun cenderung bias dengan sejumlah elit di Jakarta, baik sipil (politisi-partai politik) maupun kalangan militer (TNI-Polri). Akhirnya, pil pahit tersebut mau atau tidak harus dia ditelan dalam-dalam.

***

Kondisi ini tentu saja sudah berubah dan bergeser. Sejalan dengan dukungan penuh yang dia raih dari SBY, sebagai calon Gubernur Aceh Periode 2017-2022 mendatang. Yang jadi soal kemudian adalah, jika Irwandi direstui Allah SWT untuk kembali memimpin Aceh, apakah semua hasil tersebut, mutlak karena popularitas serta elektabilitas yang dia miliki?

Pertanyaan ini menjadi penting. Sebab, rakyat Aceh tak mau lagi menerima kisah ‘suram’ tentang perseteruan antara gubernur versus wakil gubernur, paska terpilih dan berkuasa.

Kalaulah sedikit mau jujur, masuknya Irwandi dalam lokomotif besar bernama Partai Demokrat (PD), sadar atau tidak telah memberi begitu besar peluang dan ruang bagi dirinya untuk menuju kursi Aceh-1. Disisi lain, walau SBY sudah tak lagi sebagai Presiden RI, namun pengaruhnya di negeri ini, tak kecuali Aceh, masihlah cukup kuat.

Dari hasil amatan media ini, nama Irwandi memang masih begitu harum di Aceh, terutama di kawasan pantai barat-selatan. Sisanya di pantai timur dan Banda Aceh. Namun, keharuman itu semakin merebak, tat kala dia diusung PD dengan sosok SBY sebagai perekat.

Bagi Aceh, sosok SBY tidaklah asing. Selain dikenal cerdas, juga sangat berjasa dan berperan dalam proses perdamaian Aceh. Sebagai kepala negara, SBY juga konsen dengan pembangunan kembali Aceh paska bencana dahsyat, gempa dan tsunami, 26 Desember 2004 silam.

Itu sebabnya, menuju Pilkada 2017 mendatang, para tim sukses Irwandi janganlah melihat semua peluang dan kesempatan yang ada dalam persepsi Irwandi ansih bahwa mantan propaganda Gerakan Aceh Merdeka (GAM) ini, memiliki program yang populis serta memiliki elektabilitas tinggi, dibandingkan paslon lain. Semua itu, tentu saja tak lepas dari Partai Demokrat dan SBY efek.

Kenapa? Sebagai mantan Presiden RI dua periode dan pimpinan salah satu partai politik terbesar di negeri ini. SBY sungguhnya masih memiliki jaringan kuat pada semua level institusi dan lembaga negara. Kondisi ini sangat menguntungkan Irwandi, terutama dalam menghalau berbagai anasir yang ingin menjatuhkan dan mengagalkan dirinnya untuk meraih kursi Aceh-1.

Tak hanya itu, SBY juga masih menjadi magnet bagi negara-negara di Asia, Eropa, Amerika Serikat dan Timur Tengah. Karena itu, menjadi sangat ekstra hati-hati bagi siapa saja yang berhadapan face to face dengan mantan Menkopolkam RI ini. Dan, akan menjadi modal dasar yang kuat bagi Irwandi Yusuf-Nova Iriansyah jika terpilih sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh dalam membangun Aceh masa depan.

Begitupun, satu hal yang patut diingat: semuanya sangat tergantung pada ketentuan Allah SWT. Kun fayakun (jadi maka jadilah). Sebab, janji Allah itu pasti dan mutlak. Langkah, rezeki, pertemuan dan maut. Jadi tak ada yang lebih berkuasa kecuali keputusan Allah Azza wa Jalla***

Komentar

Loading...