Iran: Kekuatan Dunia Tidak akan Hasilkan Kesepakatan Nuklir yang Lebih Baik

Iran: Kekuatan Dunia Tidak akan Hasilkan Kesepakatan Nuklir yang Lebih Baik
Foto: aljazeera.com
Penulis
Rubrik
Sumber
aljazeera.com

Tak menggubris peringatan AS bahwa Republik Islam tidak akan pernah diizinkan untuk membangun senjata atom, Teheran terus meningkatkan kapasitas nuklirnya.

Iran | Amerika Serikat menegaskan Republik Islam tidak akan pernah memiliki senjata nuklir. Namun, Iran memperingatkan kekuatan-kekuatan dunia bahwa mereka tidak bisa menegosiasikan kesepakatan yang lebih baik dari perjanjian nuklir tahun 2015 yang ditandatangani oleh mantan presiden AS Barack Obama.

Teheran menegaskan pada hari Senin akan mengaktifkan kembali mesin sentrifugal yang sempat dinonaktifkan dan meningkatkan kemurnian uranium menjadi 20 persen sebagai langkah besar berikutnya ditinggalkan Amerika tahun 2018 .

Perang kata-kata terakhir terjadi pada hari yang sama ketika Iran mulai meningkatkan uranium hingga 4,5 persen, yang melanggar batas yang ditentukan dalam perjanjian 2015 yaitu 3,67 persen, disepakati bersama mantan presiden Barack Obama.

Wakil Presiden AS Mike Pence, mengatakan perjanjian internasional itu hanya menunda Iran untuk memperoleh senjata nuklir sekitar "satu dekade", dan memberikan miliaran bantuan ekonomi yang kemudian bisa digunakan Iran untuk melancarkan serangan "teroris".

“AS tidak akan pernah mengizinkan Iran memperoleh senjata nuklir", Pence mengatakan kepada organisasi Kristen pro-Israel pada hari Senin.

"Iran harus memilih antara menjaga rakyatnya atau  terus saja mendanai jaringan kelompok yang menyebarkan kekerasan dan terorisme ke seluruh wilayah dan menyebarkan kebencian terhadap Israel," katanya.

Pence menambahkan sanksi AS telah berhasil menghentikan kemampuan Iran untuk mendukung kelompok-kelompok bersenjata di Timur Tengah, ia juga menuduh Republik Islam telah meningkatkan "gencatan fitnah dan kekerasan di kawasan mereka" selama beberapa bulan terakhir.

Ketegangan di kawasan itu meningkat dalam beberapa pekan terakhir, setelah tanker minyak diserang di dekat Selat Hormuz dan Iran menjatuhkan pesawat pengintai militer AS tanpa awak.

Penembakan drone hampir menyebabkan serangan balik dari militer AS terhadap Iran. Namun disaat akhir, Presiden AS Donald Trump memerintahkan pembatalan serangan padahal AS telah mengirim ribuan tentara, kapal induk, bom B-52 berkemampuan nuklir, dan jet tempur canggih ke Timur Tengah.

"Saya jelaskan," kata Pence. "Iran seharusnya tidak menyalahartikan tindakan Amerika sebagai tindakan yang kurang tegas dan juga terlalu mengekang."

Kesepakatan yang Merapuh

Ancaman Iran untuk memulai kembali program nuklir mereka, yang dibuat oleh juru bicara badan nuklir Teheran Behrouz Kamalvandi, akan jauh melampaui langkah-langkah kecil yang telah diambil Iran dalam sepekan terakhir untuk menyentuh stok material fisil yang melampaui batas dalam fakta. Langkah tersebut bisa menimbulkan pertanyaan tentang kelayakan kesepakatan nuklir.

Kedua ancaman itu akan membalikkan pencapaian besar dari perjanjian, yang dimaksud untuk mencegah Iran membuat senjata nuklir, meskipun Iran menghilangkan rincian penting tentang seberapa jauh kemungkinan kembalinya mereka ke status quo (keadaan tetap) saat sebelum fakta tersebut.

Pengayaan uranium hingga kemurnian 20 persen akan menjadi langkah dramatis, karena itu adalah level yang dicapai Iran sebelum kesepakatan 2015, meskipun saat itu Iran memiliki uranium yang jauh lebih besar. Ini dianggap sebagai tahap perantara penting untuk mendapatkan 90 persen uranium fisil murni yang dibutuhkan dalam sebuah bom.

Salah satu pencapaian utama kesepakatan itu adalah kesepakatan Iran untuk membongkar sentrifugal IR-2M canggihnya, yang digunakan untuk memurnikan uranium. Iran memiliki 1.000 sentrifugal, di antaranya yang dipasang di situs besar Natanz sebelum kesepakatan. Berdasarkan perjanjian tersebut, Iran hanya diperbolehkan mengoperasikan hingga dua sentrifugal untuk pengujian.

Namun, beberapa isi kesepakatan yang mengancam Iran sepertinya tertulis secara ambigu dalam perjanjian tersebut menahan diri dari sepenuhnya menolak kesepakatan.

Kamalvandi tidak merinci berapa banyak uranium yang akan dimurnikan Iran ke tingkat yang lebih tinggi, atau berapa banyak sentrifugal yang akan dipertimbangkan untuk diaktifkan kembali. Iran telah mengatakan semua langkah yang direncanakannya mungkin saja dapat dibalikkan.

Diplomasi Darurat

Trump berkonsultasi dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron tentang ancaman Iran untuk meningkatkan aktivitas uranium.

"Mereka membahas upaya yang sedang berlangsung untuk memastikan bahwa Iran tidak mendapatkan senjata nuklir dan untuk mengakhiri perilaku labil Iran di Timur Tengah," kata juru bicara Gedung Putih dalam sebuah pernyataan.

Penasihat diplomatik top Macron akan  terbang ke Iran pada hari Selasa dan Rabu untuk mencoba mengurangi ketegangan antara Teheran dan AS, kata seorang pejabat presiden. Pejabat Prancis itu mengatakan Iran dan AS sama-sama menekan, tetapi kedua pihak pada akhirnya ingin memulai pembicaraan.

"Yang penting dalam situasi krisis seperti ini adalah menemukan titik tengah yang membawa kita dari ketegangan ekstrem menuju negosiasi, itulah yang kami coba lakukan," kata pejabat itu.***

Komentar

Loading...