Di Balik Lima Pesawat Parkir di Komplek Bandara SIM

Ini Penjelasan Kadis Perhubungan Aceh

Ini Penjelasan Kadis Perhubungan Aceh
Kepala Dinas Perhubungan Aceh Zulkarnain/Foto Juli Saidi
Penulis
Rubrik

Banda Aceh | Kepala Dinas Perhubungan Aceh Drs. Zulkarnain, M. Si  melalui staf Bidang Penerbangan Ir. Yudianto, menjelaskan. Lima unit pesawat yang parkir di Komplek Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) Internasional Airport, Blang Bintang, Aceh Besar

Kata Ir. Yudianto, Jumat sore (05/01/2018), tiga unit pesawat udara Ultralight Type CTsw, itu merupakan hibah dari Yayasan Leuser Internasional kepada Pemerintah Aceh, dalam hal itu Dinas Perhubungan Aceh. “Kalau untuk CTsw itu ada tiga unit, hibah dari Yayasan Leuser,” kata Yudianto di depan Kepala Dinas Perhubungan Aceh Zulkarnain.

Menurut Yudianto, pesawat CTsw itu masuk ke Indonesia melalui Singapura pada tahun 2014 lalu.

“Jadi di Singapura itu tertahan lima tahun. Kemudian Pemerintah Aceh itu mencari cara bisa free,” ujar Yudianto.

Itu sebabnya, akhirnya Menteri Keuangan mengeluarkan surat tiga unit pesawat tersebut masuk ke Aceh free pajak.

“Kalau kita beli pakai pajak hampir Rp 5-6 miliar juga. Karena pajak 67, 5 persen. Itu dulu,” sebut Yudianto diamini Kadis Dishub Aceh Zulkarnain.

Lanjutnya, pesawat CTsw itu dibuat pada tahun 2004 silam yang diproduksi di Jerman. “Setelah free pajak, pesawat ini masih dalam kotak, sampai di sini (Aceh) baru kita rakit. Sehingga Pemerintah Aceh menyerahkan kepada kami  untuk merakit,”  sebut Yudianto.

Lantas kenapa pesawat itu parkir? Karena untuk  bisa terbang ada aturan yang harus dipatuhi dan lengkapi. “Nah pesawat ini terbang harus ada aturan. Setelah pergantian kepemimpinan, pesawat ini tetap tidak kita hidupkan, sudah kita rakit dan tetap di situ. Tidak kita apa-apakan, karena harus ada sertifikat kelayakan udara. Ini yang belum ada,” katanya.

Jelas Yudianto, kalau sudah ada sertifikat kelayakan udara, keluarlah plat (PK) yang disertai angkanya. “Kalau pakai angka, istilahnya SK sementara,” ujar Yudianto.

Katanya, pesawat itu hampir 10 tahun.  Lima tahun di Singapura dan masuk ke Aceh 2014. Setelah masuk belum ada pilot, belum ada sertifikatnya. Jadi belum dibolehkan terbang. Kalau sertifikat ada juga harus cek kembali. Waktu terima, barangnya bagus. Masih kotak.

Pesawat udara ultralight CTsw itu berisi dua kursi. Satu untuk pilot dan satu penumpang. Sedangkan kegunaan pesawat itu untuk memantau hutan. Sementara rencana penempatan tiga unit pesawat tersebut, satu unit di Banda Aceh, satu di Sumatera Utara dan satu lagi di Aceh Tenggara.

Sementara, dua unit pesawat Aceh Pilot School itu diakui Yudianto milik Lembaga Dirgantara Aceh (LDA). “Kalau tidak salah rencananya untuk sekolah Pilot, setelah selesai pendidikan mereka pulang lalu mengajar,” sebutnya.

Namun yang jadi persoalan kemudian, saat dr. Zaini Abdullah menjabat Gubernur Aceh, lembaga yang dibentuk pada Pemerintah Aceh Irwandi Yusuf-Muhammad Nazar, sudah dibekukan. “Sedangkan LDA sudah ditutup, sudah dibekukan Gubernur Aceh dr. Zaini Abdullah. Karena  sudah dibekukan, ini harus kita tanya pada pimpinan. Kalau CTsw itu diserahkan ke Dishub,” kata Yudianto.

Yudianto mengakui bahwa saat dibawa pulang ke Aceh, dua unit ini pesawat masih bagus. Selain dua unit tadi, juga ada tiga unit pesawat tanpa mesin sebagai alat praktek. “Tiga unit lagi itu tidak ada mesin, untuk bongkar pasang. Dua unit pesawat Aceh Pilot School waktu pulang itu bagus. Karena sudah lama terduduk harus cek. Sertifakat (SK) juga sudah mati,” ujar Yudianto.

Merespon keinginan SMK Penerbangan Aceh agar pesawat itu bisa diberikan untuk mereka, secara lisan sudah dibicarakan untuk buat surat. Tetapi Dinas Perhubungan Aceh juga tidak bisa mengambil keputusan. Sebab, itu bukan diserahkan pada Dinas Perhubungan Aceh.***

Komentar

Loading...