Ini Keseharian Dita Oepriarto, Otak Pengeboman Tiga Gereja di Surabaya

Ini Keseharian Dita Oepriarto, Otak Pengeboman Tiga Gereja di Surabaya
Kapolrestabes Surabaya Kombes Rudi Setiawan menunjukkan foto keluarga pengebom gereja di Surabaya. Foto: detikcom
Penulis
Sumber
Merdeka.com

Surabaya | Rekaman CCTV milik seorang pemilik rumah makan bebek di Wonorejo Asri, Kecamatan Rungkut, sempat mengabadikan aktivitas yang dilakukan Dita Oepriarto dan Puji Kuswanti bersama empat anaknya. Dita melakukan bom bunuh diri dengan melibatkan keluarganya di tiga gereja di Surabaya, Jawa Timur.

Seorang pemilik rumah makan Armuji mengaku terkejut saat petugas kepolisian meminta rekaman CCTV di rumah makannya, pada Minggu malam, 13 Mei kemarin. Petugas memberi tahu, bahwa rekaman CCTV tersebut untuk penyelidikan. Akibat bom bunuh diri di tiga gereja itu 14 orang tewas dan 43 terluka.

Tiga gereja tersebut adalah Gereja GKI di Jalan Diponegoro Surabaya dan Gereja Pantekosta di Jalan Arjuno Surabaya serta Gereja Santa Maria Tak Bercela di Jalan Ngagel Madya Surabaya.

Rumah makan milik Armuji letaknya tidak jauh dengan rumah milik Dita yang berada di Wonorejo Asri Blok K/22A. Empat anak Dita masih bersekolah, satu masih di jenjang SMA, satu SMP, dan dua jenjang SD. Dua laki-laki dan dua perempuan.

"Saya kaget dan tidak mengira kalau punya tetangga pelaku pengeboman," kata Armuji yang juga menjabat sebagai Ketua DPRD Surabaya.

Armuji tak mengira, jika Dita yang sebelumnya dikenal sebagai sosok santun dan ramah pada warga menjadi pelaku pengeboman. Dilihat dari cara berpakaiannya, Dita dinilai biasa oleh pemilik rumah makan ini. Menurut Armuji, tidak ada yang mencurigakan dari Dita. Bahkan dia tak menyangka kalau Dita jadi otak pelaku bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya.

Bahkan, Dita terlihat bersama kedua anak lelakinya sering berboncengan naik motor menuju ke musala untuk salat berjemaah.

Meski demikian, sosok Dita yang diketahui bekerja sebagai distributor obat herbal ini diketahui tidak banyak bicara dan bersosialisasi dengan warga semenjak dua tahun terakhir. Padahal, tiga tahun yang lalu, Dita pernah menjadi Ketua Sub RT 2/RW 3 Kelurahan Wonorejo.

Begitu juga dengan sosok istri Dita yang tidak terlihat mencurigakan. Meski tidak memakai cadar, Puji jarang keluar rumah. Namun, tidak dengan anak-anaknya, mereka kerap bermain bersama anak-anak yang lain.

"Kata tetangga lainnya, sering ada tamu di rumah Dita. Namun, tetangga tidak terlalu memperhatikannya," kata Armuji.

Dita juga dikenal tidak pernah membuat permasalahan serius dengan warga setempat. Hanya saja, dia sempat mendapat protes dari warga karena pernah membuang limbah hasil usahanya, yakni minyak kemiri, ke saluran air.

Oleh karena itu, warga setempat kaget ketika mengetahui tim Densus 88 menemukan 3 paket bom rakitan siap ledak di rumah Dita. Hasil penelusuran kepolisian, Dita diketahui adalah Ketua Sel Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Surabaya.

Dita diduga meledakkan diri di Gereja Pantekosta Jalan Arjuno Surabaya menggunakan mobil miliknya.

Sedangkan istri Dita, Puji meledakkan diri di Gereja GKI di Jalan Diponegoro, dengan membawa dua anak perempuannya. Sementara dua anak Dita yang lain yang masih belum teridentifikasi diduga meledakkan diri menggunakanan motor di Gereja Santa Maria Tak Bercela di Jalan Ngagel Madya Surabaya.

Aparat kepolisian menemukan tiga bom berdaya ledak tinggi (high explosive) saat menggeledah rumah terduga pengebom gereja di Surabaya, di Perumahan Wonorejo Asri Blok K/22A, Rungkut, Surabaya.

Kapolrestabes Surabaya, Kombes Rudi Setiawan, mengatakan tiga bom tersebut langsung diledakkan tim penjinak bom di rumah pelaku pengeboman. Dari tim olah TKP, sebelum diledakkan, bom sempat dirakit di rumah tersebut.***

"Pileg dan Pilpres 2019" - tentukan pilihan Anda! -

Komentar

Loading...