Petugas Belum Dapat Gaji dan THR

Ini Jawaban Wakil Penanggungjawab Museum Tsunami Aceh Rasyidah   

Ini Jawaban Wakil Penanggungjawab Museum Tsunami Aceh Rasyidah   
Dok. MODUSACEH.CO
Penulis
Rubrik

Banda Aceh l Sempat tidak menjawab konfirmasi media ini, Wakil Penanggungjawab Museum Tsunami Aceh yang juga Sekretaris Dinas Pariwisata Aceh, Drs Rasyidah  akhirnya angkat bicara terkait pengakuan sejumlah petugas Museum Tsunami Aceh yang belum menerima gaji satu bulan dan Tunjangan Hari Raya (THR).

Dia menerangkan, sesuai dengan perjanjian atau MoU antara Pemerintah Aceh dengan Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Manusia (ESDM) RI dan hasil rapat di Bandung (Jawa Barat) pada Mei 2018 lalu. Gaji petugas bulan Mei yang akan diterima  pada Juni 2018 masih ditanggung Badan Geologi ESDM. 

"Sebenarnya, hasil rapat dengan Kepala Museum Geologi beserta Kepala Tata Usaha di Bandung bahwa, gaji petugas untuk bulan Mei 2018 masih dibayar oleh Museum Geologi. Namun, kami juga sudah  meminta surat pemberitahuan, apabila  gaji mereka (petugas) tidak dibayar lagi oleh pihak Museum Geologi," jelas Rasyidah melalui  pesan WhatsApp Rabu (13/6/18) pagi.

Sambung Rasyidah, pihak Badan Geologi ESDM baru membalas surat pemberitahuan pada 7 Juni 2018 yang menyatakan bahwa Badan Geologi ESDM tidak lagi membayar  gaji dan THR petugas. Namun, dia mengakui belum berani mengambil kebijakan karena yang digunakan dana Anggaran Pendapatan Belanja Aceh (APBA).

"Keesokan harinya (8/6/2018), kita langsung bahas surat tersebut. Namun,  karena butuh waktu dan mengingat cuti lebaran Idul Fitri 1439 H. Maka, kita akan membahasnya usai lebaran nanti," kilahnya.

Dia berkomitmen akan membayar seluruh gaji petugas Museum Tsunami Aceh sesuai dengan yang diterima sebelumnya dari Badan Geologi ESDM. "Dan, untuk membantu mereka, kami telah memberikan pinjaman sementara melalui koperasi yang ada di Museum Tsunami Aceh," ungkapnya.

Sebelumnya, para petugas Museum Tsunami Aceh mengaku belum menerima gaji bulan Mei 2018 dan THR. Mereka mengaku sebelum dikelola Pemerintah Aceh dibawah Dinas Parawisata Aceh, gaji mereka lancar-lancar saja. Bahkan, saat menjelang lebaran idul fitri, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Manusia (ESDM) RI juga memberikan kami Tunjangan Hari Raya (THR). Dibayar satu bulan gaji penuh dan tepat waktu.

Petugas tadi juga mengaku tak bisa berbuat banyak, sebab hal sama juga dirasakan oleh 46 petugas Museum Tsunami Aceh lainnya,"kalaupun tidak mendapat THR, tolong kasih gaji bulan Mei kemarin. Kami sangat butuh uang tersebut. Apalagi, ini menjelang Hari Raya Idul Fitri," harapnya.

Dia mengakui, bersama teman-temannya telah mempertanyakan masalah gaji dan THR pada manajemen. Namun, katanya manajemen hanya memberikan uang pinjaman dibawah Rp. 1 juta per orang.

"Setelah kita marah-marah, diberikanlah uang pinjaman. Itupun dibatasi, hanya diberikan Rp. 1 juta per petugas. Dapat apa dengan uang segitu, apalagi saya tidak kerja tempat lain, hanya mengharapkan upah dari situ dan harus menghidupi istri dan satu anak," ucapnya kesal.

Menurut ayah satu anak ini, manajemen Museum Tsunami Aceh sekarang tak ubah seperti manajemen kekeluargaan. Sebab, ada sejumlah petugas yang merupakan famili dari oknum tertentu tidak pernah masuk kerja namun selalu mendapatkan gaji.

"Kalau kita cerita panjang lebar, banyak kejanggalan yang terjadi. Tapi, saya tidak mau masuk lebih jauh. Yang penting gaji kami, hak kami segera dibayar. Itu air keringat kami," tegasnya dengan muka memerah.

Untuk diketahui, sejak Museum Aceh dibuka untuk umum 2011 silam, pengelolaan dan operasional menjadi tanggungjawab Badan Geologi ESDM RI. Namun, kerjasama atau Memorandum of Understanding (MoU) telah berakhir pada Mei 2018 dan diambil alih oleh Pemerintah Aceh dibawah Dinas Pariwisata Aceh, yang pembiayaannya melalui Anggaran Pendapatan Belanja Aceh (APBA).

Kemudian, pengelolaan Museum Tsunami Aceh menuai polemik. Pemerintah Aceh memilih mengakhiri MoU dengan Badan Ekologi ESDM RI dan memutuskan mengelola sendiri situs bersejarah itu. Namun, berbagai tanggapan miring dialamatkan pada manajemen Museum Tsunami Aceh sekarang. Disinyalir, banyak praktek KKN terjadi di sana. Bahkan, Gubernur Aceh diduga telah mengeluarkan SK Koordinator Museum Tsunami Aceh baru, padahal SK kepengurusan yang lama belum diberhentikan.***

Komentar

Loading...