Breaking News

Hadiri Zikir Internasional

Ini Isi Tausyiah Ustadz Abdul Somad di Taman Ratu Safiatuddin

Ini Isi Tausyiah Ustadz Abdul Somad di Taman Ratu Safiatuddin
IST
Penulis
Rubrik

Banda Aceh l Dihadiri puluhan ribu orang, zikir internasional untuk memperingati 13 tahun tsunami Aceh, 26 Desember 2004, diadakan di Taman Ratu Safiatuddin, Lampriet, Banda Aceh, Selasa malam, (26/12/17).

Selain itu, acara tersebut juga dihadiri sejumlah ulama perwakilan dari negara Thailand, Brunai Darussalam, Singapura, Malaysia. Sementara dari Indonesia hadir Ustadz Habib Novel Alaihidrus dan Ustadz Abdul Somad, Lc., M.A.

Dalam tausiyahnya Ustadz Abdul Somad menceritakan pada 24 Desember 2004, dirinya pergi ke negara Marocco, karena mendapat beasiswa. Namun, dia mendengar seseorang yang menangis tersedu sedu disamping kamarnya tinggal. "Ternyata dia itu orang Aceh, yang mendapat kabar jika keluarganya meninggal karena tsunami Aceh 26 Desember 2004. Jadi saat itu saya ikut sedih apa yang dialami kawan saya ini," kisah Abdul Somad mengawali tausyiahnya.

Setelah itu, seluruh civitas akademika mengadakan doa bersama, dan melakukan pengumpulan dana untuk disumbangkan ke Aceh. "Setelah 13 tahun, saya baru datang kemari. Walaupun sudah berceramah di Meulaboh dan Langsa. Namun, ke Banda Aceh inilah  yang pertama kalinya," tegas Ustadz Abdul Somad.

Bercerita tentang tsunami Aceh 26 Desember 2004, tentu banyak keluarga korban yang hingga kini masih merasa sedih. Namun, kata Abdul Somad semua korban telah mendapatkan tempat yang baik disisi Allah SWT. Karena telah mati syahid.

"Yang kita pikirkan, nanti kita mati bagaimana? Jangan mati dengan buruk," ujar Abdul Somad.

Itu sebabnya, dia mengajak seluruh warga Aceh untuk meningkatkan amalan sedekah untuk menghindari mati secara buruk. "Banyak-banyaklah kita bersedekah apakah pada jalan Allah. Kalau banyak tanah belilah pada ustadz untuk dibangun sekolah keagamaan. Itu baik untuk menyelamatkan generasi muda Aceh pada jalan Allah," ungkapnya.

Selain itu, menurut Abdul Somad, orang Aceh sejak dulu sudah dikenal dunia, cerdik dalam berperang dan terus menyebarkan agama Islam ke seluruh  semenanjung  Asia Tenggara. Bangsa  Aceh adalah turunan raja-raja dan juga bangsawan. Maka tak heran, hingga kini Aceh masih dikenal di seluruh dunia. "Syeh Abdul Rauf Assingkili, yang menerjemahkan dalam bahasa Melayu adalah orang Aceh. Jadi orang Aceh bukan hanya pandai dalam mengusir kafir. Tapi, juga pandai dalam ilmu agama Islam. Itu tidak diragukan lagi, dan diakui dunia," ujar Abdul Somad.

Untuk itu, dia meminta kepada seluruh masyarakat Aceh, untuk mempertahankan marwah para ulama dan pahlawan Aceh, yang telah bersusah payah mempertaruhkan jiwa dan raga, demi memperjuangkan negeri Aceh yang syariat. "Syariat Islam yang sudah berlaku sekarang hendaknya dipertahankan. Jangan takut pada intervensi orang asing. Kita punya hukum sendiri. Pertahankan Aceh menjalankan syariat Islam, sehingga menjadi model di Indonesia dan dunia," harap dosen Bahasa Arab di Pusat Bahasa Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau ini.***

"Pileg dan Pilpres 2019" - tentukan pilihan Anda! -

Komentar

Loading...