Orasi Politik Agus Harimurti Yudhoyono (bagian lima)

Bukan Soal Benar dan Salah, Patut atau Tidak; It Is a Never Ending Journey!

Bukan Soal Benar dan Salah, Patut atau Tidak; It Is a Never Ending Journey!
Foto: Kompasiana.com

Persoalan keamanan dan ekonomi yang tadi kita bicarakan adalah muara dari persoalan bangsa yang lebih fundamental.

MODUSACEH.CO |  Pada acara peringatan Reformasi Nasional yang digelar oleh ICMI (Ikatan Cendikiawan Muslim se-Indonesia). Pada kesempatan itu, saya satu panggung dengan Mbak Puan Maharani, Mbak Yenny Wahid, dan Mas Ilham Habibie. Kami menyampaikan refleksi 20 tahun Reformasi, berdasarkan perspektif dan pengalaman masing-masing. Secara khusus, saya berbicara tentang keberhasilan dan tantangan Reformasi TNI/Polri.

Saya katakan, TNI telah memenuhi amanat Reformasi untuk meninggalkan politik praktis dan bisnis militer, serta memisahkan Polri dari ABRI ketika itu. TNI kembali fokus pada jati dirinya, sebagai Tentara Rakyat, Tentara Pejuang, Tentara Nasional, dan Tentara Profesional.

Saya juga katakan, keluarnya saya, AHY, dari institusi TNI yang amat saya cintai, adalah wujud komitmen dan konsistensi seorang Perwira terhadap semangat Reformasi TNI. Jika ingin berpolitik, keluar dari TNI. Jika ingin di TNI, jangan berpolitik. Kita berharap, ini juga berlaku bagi seluruh aparat Polri.

20180611-ahy7

Foto: Partai Demokrat

Sikap ini merupakan bagian dari etika berpolitik. Meskipun usia relatif muda, sedapat mungkin saya juga ingin memberikan contoh yang baik dalam kehidupan berpolitik. Etika berpolitik juga terkait dengan kebesaran jiwa dalam menyikapi hasil sebuah kompetisi. Sangat sering kita mendengar deklarasi “siap menang, siap kalah” sesaat sebelum dimulainya kontestasi politik, apakah itu Pilkada, atau Pemilu. Namun pada praktiknya, banyak yang sangat siap untuk menang, tapi sangat tidak siap untuk kalah. Secara kesatria, mengakui kekalahan yang kita alami dan menerima kemenangan lawan kita, juga merupakan bagian dari etika berpolitik.

Persoalan etika inilah yang paling fundamental dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ini bukan semata-mata soal benar atau salah, tetapi juga, soal patut atau tidak patut, persoalan tentang baik atau buruk, serta hak dan kewajiban. Etika berbangsa dan bernegara, sangat ditentukan oleh karakter bangsa kita sendiri. “Kita sadari, sifat-sifat luhur bangsa Indonesia kian hari kian memudar. Saat ini, sepertinya mudah sekali kita saling menyalahkan satu sama lain. Semakin banyak yang mendahulukan ego masing-masing, merasa paling benar, ketimbang mengedepankan kebesaran hati dan keikhlasan”.

Sulit rasanya, negara yang besar dan majemuk ini, bisa bersatu dan maju jika yang dikedepankan adalah egoisme dan sikap ingin menang sendiri. Kita perlu meneladani para Bapak Bangsa dan generasi-generasi pendahulu yang berhasil mengatasi ego masing-masing, dengan karakter yang mengedepankan persatuan. Karakter inilah yang menghadirkan berbagai momentum  penting, dan menentukan dalam sejarah kita. Mulai dari Kebangkitan Nasional 1908, Sumpah Pemuda 1928, Proklamasi Kemerdekaan 1945, sampai dengan Reformasi Nasional 1998. Karakter ini pula, yang seharusnya menjadi hulu dari etika politik kebangsaan kita.

Dengan demikian, pembangunan karakter bangsa untuk membentuk manusia Indonesia yang beretika dalam kehidupan bermasyarakat, menjadi sangat mendesak disamping pembangunan fisik. Bangunlah jiwanya! bangunlah badannya! “Bangunlah jiwanya bangunlah badannya, untuk Indonesia Raya”.***

Komentar

Loading...