Sidang Penyeludup Narkoba

Ibrahim Hongkong dan Ibrahim Jampok Cs Dituntut Hukuman Mati

Ibrahim Hongkong dan Ibrahim Jampok Cs Dituntut Hukuman Mati
Foto: faktapers.id
Rubrik
Sumber
Kontributor Aceh Tamiang

Aceh Tamiang | Tuntutan hukuman mati, kembali dilakukan Jaksa Penuntut Umum (JPU) terhadap penyulup barang haram bernama: narkoba! Itu terjadi di Pengadilan Negeri (PN) Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang, Selasa, 2 April 2019 lalu.

Kontributor MODUSACEH.CO di Kuala Simpang melaporkan. Kedelapan terdakwa yang dituntut hukuman mati  ini adalah, Ibrahim bin Hasan alias Ibrahim Hongkong, Abdul Rahman, Firdaus, Ibrahim Ahmad, Ibrahim Jampok, Joko Susilo, Renaldi Nasution dan Safwadi. Sementara satu terdakwa atas nama Amat Atib, dituntut penjara seumur hidup.

Teddy Lazuardi, Ketua tim JPU Kejari Aceh Tamiang kepada awak media pers mengatakan. Tuntutan ini sesuai dengan Pasal 112 jo Pasal 132 Ayat (1) UURI Nomor 35/2009, tentang narkotika.

Menurut dia, para terdakwa merupakan jaringan internasional yang sudah mengedarkan sabu-sabu di sejumlah wilayah di Aceh Timur dan Lhokseumawe. Untuk melancarkan bisnis haram ini, pelaku menggunakan sandi khusus 88 untuk menghindari kecurigaan aparat keamanan. “Amat Atib dalam kasus ini hanya ikut-ikutan saja, makanya tuntutan dia berbeda,” kata Teddy didampingi Kasipidum Kejari Aceh Tamiang, Roby Syahputra, usai persidangan.

Majelis hakim yang dipimpin Fadhli tersebut, selanjutnya menunda sidang hingga pekan depan dengan agenda pleidoi (pembelaan). Hakim memberi waktu satu pekan untuk tim kuasa hukum terdakwa mempersiapkan nota pembelaan. “Sidang dilanjutkan pada 9 April 2019,” kata Fadhli.

Kuasa hukum Ibrahim Hongkong dan Ibrahim Jampok,  Anwar MD, belum mau memberikan keterangan, terkait tuntutan mati dua kliennya. Tapi, dia memastikan tetap mengajukan nota pembelaan. “Akan saya sampaikan secara rinci di persidangan,” kata Anwar.

20190406-ibrahim-hongkong-cs

Ibrahim Hongkong Cs saat ditangkap Tim BNN beberapa waktu lalu (Foto: metro-online.co)

Kecuali itu, Suryawati dari LBH PP3M Aceh yang mendampingi tujuh terdakwa menilai. Tuntutan itu ini tidak sesuai dengan peran kliennya. Menurutnya terlalu berat, karena tujuh kliennya hanya berperan sebagai kurir. Bahkan Amat Atib yang dituntut seumur hidup sama sekali tidak tahu tentang keberadaan narkoba.

“Dia cuma tukang engkol kapal dan tidak tahu kalau barang yang dibawanya ada sabu-sabu,” bebernya. Senada dengan Anwar MD, Suryawati mengaku belum bisa membocorkan hal-hal yang meringankan kliennya. “Tidak bisa disampaikan sekarang, nanti di persidangan seluruh hal-hal yang meringankan akan kami sampaikan,” tuturnya.

Sekedar informasi, Ibrahim Hongkong ditangkap BNN saat melakukan sosialisasi bacaleg di Pangkalansusu, Kabupaten Langkat, Sumut, akhir tahun lalu. Itu terjadi dalam serangkaian operasi penangkapan. Hasilnya, petugas menyita sejumlah barang bukti, di antaranya tiga karung berisi 70 bungkus sabu-sabu, enam bungkus pil ekstasi yang disembunyikan di dalam palka KM Reni 2, mobil Fortuner BK 5 IH, uang tunai Rp 1.550.000, paspor nomor 6019 0045 31376 8511, kartu anggota DPRD Langkat atas nama Ibrahim.***

Komentar

Loading...