Breaking News

Humas: Bila Tak Paham dan Kering Ide, Ya Lemas!

Humas: Bila Tak Paham dan Kering Ide, Ya Lemas!
Foto: google

Berbekal pengetahuan ilmu jurnalistik, hasil pendidikan (training) di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Lhokseumawe dan Lembaga Pers PB HMI Jakarta. Saya bernasib baik dapat diterima sebagai karyawan kontrak di PT. Arun NGL.Co. Itu terjadi sekitar tahun 1994 hingga 1996.

Jalan tersebut terbuka lebar berkat seorang alumni HMI Cabang Malang, asal Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) yang ketika itu Supervisor Bagian Humas di PT. Arun, Kota Lhokseumawe. Namanya Kertasih Suherman. Dialah yang merekrut saya, mendampinggi Roby Sulaiman atau akrab disapa Bang Roby yang galak tapi tak pelit berbagai ilmu.

Antara saya dan Bang Kertasih, begitu kami memanggilnya di HMI, sering bertemu di Masjid Istiqamah, Komplek PT. Arun, Batuphat, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe. Masjid ini sekaligus  sebagai pusat kegiatan Ke-Islaman dibawah Badan Dakwah Islam (BDI) Arun.

Dan, dari berbagai pertemuan antara senior dan junior itulah, muncul beberapa ide. Termasuk menganti nama Remaja Masjid Istiqamah (Remais) menjadi Remaja Islam Arun serta menyusun program dan silabus materi perkaderan yang kami bungkus dengan Pesantren Kilat bagi putra dan putri karyawan PT. Arun, saat bulan ramadhan tiba. Untuk satu periode kepengurusan, saya pernah pula dipercaya sebagai Ketua Remaja Islam Arun.

Tak jauh berbeda dengan Bang Roby. Sebagai atasan langsung, putra purnawirawan Polri (Brimob) asal Medan, Sumatera Utara ini pun tak susah berbagi ilmu. Terutama tentang photograpy dan cara membuat pers rilis atau siaran pers. Bayangkan, satu hari bisa lebih dari satu siaran pers yang harus saya buat dan distribusikan kepada wartawan atau kantor perwakilan media di Kota Lhokseumawe. Termasuk PWI.

Secara internal, Bagian Humas Arun dibawah Bang Kertasih dan Bang Azhari Ali (Section Head) ketika itu, juga memproduksi Bulettin Mingguan dan Majalah Bulan Arun. Maka, lengkaplah sudah tantangan yang harus saya hadapi.

Maklum, selain harus mampu mengunakan Camera Nikon F4 saat itu, saya bersama seorang rekan, Abdul Karim namanya, juga wajib menguasai program page maker untuk mendesain (lay out) bulettin serta majalah. Beban kerja semakin bertambah, saat Abdul Karim pindah kerja ke PT. Aromatic, juga di Lhokseumawe.

Nah, tugas itu kami lakukan secara bersamaan, sambil meliput berbagai kegiatan dan pertemuan manajemen PT. Arun. Baik ketika menerima tamu asing maupun daerah dan Jakarta. Bahkan, setingkat menteri serta Panglima TNI.

Itu sebabnya, untuk beberapa acara dan pertemuan penting manajemen PT. Arun, saya diminta dan dipercaya Bang Roby untuk membuat siaran pers, sekaligus membagikan kepada wartawan di Lhokseumawe. “Humas itu mata dan telingga perusahaan. Karenanya harus kreatif dan menguasai masalah yang ingin disampaikan kepada media pers. Jika tak paham dan kering ide, maka lemaslah,” kata Bang Roby sekali waktu.

Namun, walau memiliki pemahaman ilmu jurnalistik, tapi sejujurnya soal Ilmu Kehumasan awalnya saya blong!. Makanya, sebelum siaran pers dinyatakan clear untuk disiarkan, saya wajib menyerahkan kepada Bang Roby dan Bang Kertasih untuk check and ricek.

Hasilnya? Sempat beberapa kali siaran pers yang saya buat disobek dan masuk tong sah. “Apa yang ingin kamu sampaikan dari siaran pers ini, itulah yang harus kamu tulis dan sampaikan secara rinci. Jangan sampai, wartawan salah mengutip,” jelas Bang Roby, serius.

Begitulah berulang-ulang dia ingatkan.Termasuk nomor surat dan tanggal penerbitan serta tanda tangan Bang Kertasih atau H. Azhari Ali sebagai penanggungjawab sumber berita yang kami publikasi. “Jangan lupa nomor surat dan tanggal. PT. Arun bukan pabrik kecap,” tegas Bang Roby, menginggatkan kembali.

Nah, semua rasa lelah terobati, ketika siaran pers tadi, esok harinya termuat di berbagai media cetak seperti Harian Serambi Indonesia, Waspada, Analisa serta lainnya. Maklum, saat itu belum ada media online. Dan, satu per satu, kata dan kalimat yang saya tulis, saya baca kembali. Tujuannya, melihat mana yang dipakai dan dibuang dari rangkaian bahasa yang saya tulis.

Pernah sekali waktu, karena terburu-buru dan kurang perhatian, siaran pers yang saya buat ditolak H. Basri Dhaham, Kepala Biro Harian Serambi Indonesia Lhokseumawe. Kami memanggilnya Bang Basri. “Siaran pers apa ini. Tanggal berapa dikeluarkan dan siapa yang bertanggungjawab. Kenapa tidak ada tanggal, nomor dan tandatangan. Jangan-jangan ini siaran pers abal-abal,” kata Bang Basri ketus dan serius.

Alasan Bang Basri ketika itu memang masuk akal. Sebab, untuk menjamin akurasi dan validasi dari informasi yang kami sampaikan. Terlebih, Aceh masih dilanda konflik bersenjata, sehingga dibutuhkan narasumber yang terpercaya.

20190210-basri-daham

Berbeda dengan era digital dan milenial saat ini, penyampaian undangan liputan dan siaran pers cukup melalui email atau pesan singkat (SMS) serta WhatsApp (WA). Bahkan tanpa tanggal, nomor surat serta tertera pihak yang bertanggungjawab dari siaran pers tersebut. Ironisnya, tidak sedikit media pers (cetak maupun online) langsung melahapnya mentah-mentah.

Dari pengalaman itulah, saya belajar dan semakin akrab dengan Bang Basri hingga akhirnya dia mengajak saya untuk bergabung sebagai korespoden surat kabar terbesar di Aceh ini. Dan, itulah langkah awal saya menjadi seorang wartawan hingga kini.

Dan, tidaklah berlebihan jika saya sedikit memahami tentang dunia Kehumasan serta kewartawan, karena dua profesi itu sudah dan sedang saya jalani. Termasuk mendapat pendidikan di LPDS Dr. Soetomo Jakarta serta pernah mengenyam pendidikan Magister  Komunikasi (S2) di Universitas Indonesia (UI) walau tak sempat selesai dan tuntas.

“Saya lihat kamu ada bakat jadi wartawan. Kalau mau buat lamaran, tapi kamu mulai dari nol,” tantang Bang Basri saat itu. Antara percaya dan tidak, akhirnya saya putuskan untuk mengundurkan diri dari karyawan kontrak di Humas PT. Arun dan bergabung dengan Harian Serambi Indonesia. Saya bersyukur, Allah SWT memberi jalan dan kesempatan saya memulai karir sebagai wartawan di media terbesar di Aceh, bukan media abal-abal.

Hari-hari berikutnya, tantangan belum juga berakhir. Terutama saat saya membuat berita dan “menyetornya” kepada Bang Basri, sebelum dikirim ke redaksi di Banda Aceh. “Berita itu harus lengkap dan rinci 5 W + 1 H, check and ricek, akurat dan valid, terutama soal data, fakta dan peristiwa yang terjadi. Kalau tidak bukan berita namanya, tapi mengarang,” kritik Bang Basri. Saya ingat betul itu.

Pendidikan dan arahan serupa juga saya dapatkan saat menjadi wartawan di beberapa majalah mingguan di Jakarta. "Shaleh, kekuatan berita itu ada pada deskripsi, akurasi dan validasi narasumber, data, fakta dan peristiwa," kata almarhum Budiman Hartoyo atau kami memanggilnya Pak De, seorang wartawan senior yang juga alumni Majalah Tempo, Jakarta.

Kini, setelah belasan tahun berlalu dan memperingati Hari Pers Nasional 2019, tiba-tiba saya teringat kembali tentang sosok Bang Roby, Bang Kertasih, Bang Basri Daham serta Pak De. Atasan sekaligus guru. Alfatihah! Buat yang telah almarhum.

Sekali waktu, saya pun bertemu dengan Bang Roby di Bandara Internasional Kuala Namu, Sumatera Utara. Sementara, ada kerinduan kepada Bang Kertasih, sosok senior dan alumni HMI yang telah memberi jalan untuk saya, menjadi seorang wartawan hingga saat ini.***

Komentar

Loading...