Iklan HUT 16 TAHUN MODUS ACEH

Senior Advisor Wali Nanggroe Aceh

Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda.

How Millennials Kill Everything? 

How Millennials Kill Everything? 
Ilustrasi. Foto: etsy.com

How Millennials Kill Everything?  Judul tulisan ini bakal menjadi judul buku baru. Mudah-mudahan bisa terbit dalam dua atau tiga bulan mendatang.

Coba googling dengan kata kunci “millennials kill”, maka Anda akan mendapati betapa millennial adalah “pembunuh berdarah dingin” yang siap membunuh apa pun.

Di halaman pertama hasil pencarian Google, saya menemukan judul-judul menyeramkan seperti; “RIP: Here Are 70 Things Millennials Have Killed”. “Things Millennials Are Killing in 2018”. “Millennials Kill Again. The Latest Victim? American Cheese”. “Millennials Are Killing the Beer Industry” dan “How Millennials Will Kill 9 to 5 Job?”

Bahkan ada situs yang menulis; “The Official Ranking of Everything Millennials Have Killed”, yang  didalamnya menulis tentang peringkat produk dan layanan paling cepat, kemudian “dibunuh” oleh milenial.

Nah, itu ada dalam urutan peringkat produk-produk seperti; berlian di urutan 29,  golf (23), department store (20), sabun batang (15), kartu kredit (10) dan bir (5).

Millennials Kill Everything New

Kenapa milenial bisa menjadi “pembunuh berdarah dingin” bagi begitu banyak produk dan layanan? Karena perilaku dan preferensi mereka berubah drastis sehingga produk dan layanan tersebut menjadi tidak relevan lagi, alias punah ditelan zaman.

Contohnya golf. Tren dunia menunjukkan, sepuluh tahun terakhir viewership  ajang-ajang turnamen golf bergengsi turun drastis setelah mencapai puncaknya di tahun 2015. Tahun lalu bahkan turun drastis 75 persen. Porsi kalangan milenial yang menekuni olahraga ini juga sangat kecil hanya 5 persen.

Olahraga elit ini memang digemari kalangan Baby Boomers dan Gen-X, namun tidak demikian halnya dengan milenial. Celakanya, semakin surut populasi Baby Boomers dan Gen-X, maka semakin tidak populer pula olahraga yang lahir sejak abad 15 ini. Dan bisa jadi suatu saat akan puhah.

Yang sudah kejadian sekarang adalah departement store. Tahun lalu kita menyaksikan departement store di seluruh dunia termasuk Indonesia (Matahari, Ramayana, Lotus) pelan tapi pasti mulai berguguran.

Sumber penyebabnya adalah, milenial yang bergeser perilaku dan preferensinya. Pertama karena mereka mulai berbelanja via online. Kedua, milenial tak lagi heboh berbelanja barang (goods). Ketiga, mereka mulai banyak mengonsumsi pengalaman (experience/leisure). Keempat, mereka ke mal bukan untuk berbelanja barang, tapi cuci mata, nongkrong dan dine-out mencari pengalaman dan penghilang stres.

Pasar properti beberapa tahun terakhir seperti diam di tempat. Alih-alih semua pelaku berharap ini hanya siklus “bullish-bearish”  dan nanti biasa naik dengan sendirinya.

Saya curiga ini adalah kondisi “bearish  berkelanjutan” sebagai dampak terbentuknya “new normal” perekonomian kita yang melesu dalam jangka panjang.

Mungkin, biangnya bisa berasal dari pergeseran perilaku dan preferensi milenial. Beberapa kemungkinannya, milenial mulai menunda nikah, punya rumah, dan punya anak.

Belum lagi minimalist lifestyle yang kini banyak diadopsi milenial, sehingga mendorong mereka untuk memilih rumah ukuran mini.

Program keluarga berencana (KB) yang sukses membuat late Baby Boomers dan Gen-X, membentuk keluarga kecil dengan dua anak. Dengan jumlah anggota keluarga yang kecil, maka anak-anak mereka (milenial), cenderung menempati rumah orang tua dan sharing dengan sesama saudara.

Dan, tak perlu beli rumah baru lagi. Ini yang menjadi biang kenapa market size properti cenderung mandek.

Tak hanya itu, tempat kerja pun nantinya pelan tapi pasti bisa “dibunuh” oleh milenial. Bagi Baby Boomers dan Gen-X, bekerja rutin tiap hari masuk kantor dari jam 08.00 WIB sampai 17.00 WIB (“8-to-5”) adalah sesuatu yang lumrah. Namun tak demikian halnya dengan milenial.

Milenial mulai menuntut fleksibilitas dalam bekerja, di manapun dan kapanpun bisa, asal kinerja yang dikehendaki tetap tercapai.

Kini mereka mulai menuntut pola kerja “remote working”, “flexible working schedule”, atau “flexi job”. Survei Deloitte menunjukkan, 92 persen milenial menempatkan fleksibilitas kerja sebagai prioritas utama.

Tren ke arah “freelancer”, “digital nomad” atau “gig economy”, kini kian menguat. Kerja bisa berpindah-pindah. Tiga bulan di Ubud (Bali), empat bulan di Raja Ampat (Papua) dan tiga bulan berikutnya lagi di Chiang May. Istilah kerennya, workcation (kerja sambil liburan).

Apa dampak dari millennial shifting tersebut terhadap kantor-kantor yang masih menerapkan working style ala Baby Boomers dan Gen-X? Pasti kantor-kantor jadul itu akan ditinggalkan angkatan kerja yang nantinya bakal didominasi milenial. Kantor itu akan punah dan melapuk.

Millennials Will Kill Everything!

Have we change the way we do our business in order to face the millenials way of life. Karena itu, ada beberapa prediksi menarik. Pertama, bengkel perbaikan kendaraan akan hilang. Kedua, mesin yang menggunakan bensin memiliki 20 ribu bagian.

Motor yang menggunakan listrik hanya memiliki 20 bagian. Mobil listrik dijual dengan garansi seumur hidup dan hanya diperbaiki oleh dealer. Hanya perlu waktu 10 menit untuk mencopot dan mengganti motor yang menggunakan listrik.

Ketiga, motor listrik tidak diperbaiki pada dealer tetapi akan dikirim ke bengkel perbaikan regional yang akan memperbaikinya menggunakan robot. Keempat, motor listrik Anda yang gagal fungsi akan ditunjukkan oleh lampu yang menyala. Lalu, Anda akan pergi ke tempat yang menyerupai mesin cuci mobil, dan mobil Anda akan ditarik, sementara Anda ngopi dan motor mobil Anda akan diganti dengan yang baru.

Kelima, SPBU atau pomp bensin akan hilang. Keenam, meter parkir akan digantikan dengan meter dispenser listrik. Banyak perusahaan akan memasang stasiun isi ulang listrik dan hal ini sebenarnya sudah dimulai.

Ketujuh, kebanyakan pabrik kendaraan (yang cerdas) telah mengalokasikan uangnya untuk mulai membangun pabrik yang hanya membuat mobil listrik. Kedelapan, industri batu bara akan hilang. Begitu juga perusahaan minyak dan gas. Pengeboran minyak akan hilang. Ucapkan selamat tinggal kepada OPEC.

Kesembilan, rumah-rumah akan menghasilkan dan menyimpan energi listrik pada siang hari dan akan menggunakan serta menjual listriknya ke grid. Grid akan menyimpan dan menyalurkannya ke industri yang banyak menggunakan listrik. Apakah Anda sudah melihat atap Tesla?

***

Memaknai kondisi masa depan ini, sudah seharusnya para pejabat di Aceh, memiliki visi dan memahami informasi dan teknologi tersebut. Sebab, Management  Bureaucracy Skill, merupakan salah satu yang memangkas birokrasi dan mereduksi korupsi interes melalui short bureaucracy online system management.

Pertanyaannya adalah, apakah para pejabat di Aceh memiliki dan memahami ini? Termasuk era 4G atau 5G yang saat ini popular dengan industri 4 melenial?

Jika tidak paham atau masih memakai literatur abad 20, maka bersiap-siaplah manajemen Pemerintah Aceh masuk kembali pada dunia purba.

Jangan bicara pertumbuhan ekonomi dan investasi. Jangan berangan-angan untuk menerapkan sistem birokrasi yang mampuni. Dan jangan berharap meningkatnya kinerja dengan out put yang mampu melayani masyarakat.

Pernahkah dibayangkan oleh para pejabat atau pemegang kekuasaan di Aceh saat ini, setelah sumberdaya alam kita habis karena diurus oleh pejabat yang cuma tahu hit and run? Apa jadinya setelah kita terpuruk miskin? Sayangnya, next generation  Aceh baru paham kemudian, setelah semua sumber daya alam tadi terkuras.

Lihatlah, saat ini saja, seminar, workshop atau pertemuan apapun yang diselengarakan di universitas-universitas, narasumber yang dihadirkan atau konten yang dibicarakan, lebih kepada produk ujaran kebencian. Padahal, lembaga universitas harusnya melahirkan resolusi-resolusi ilmiah dan problem solving untuk penyempurnaan, bukan resolusi ujaran kebencian.

Disisi lain, seberapa banyak produk regulasi yang dilahirkan dan digagas para pejabat birokrat kita, yang berorientasi pada masa depan dan mampu menjawab tantang yang ada? Sebaliknya, justeru terjebak pada ketakutan-ketakutan hilangnya sumber daya alam dan potensi ekonomi, tanpa memberi solusi yang berarti.

Yang kita khawatirkan adalah, Aceh dengan stempel negeri syariah, justeru memproduksi manusia-manusia yang lebih senang mengujar kebencian dan non etika, dari pada gagasan inovasi untuk menuju masa depan.

Nah, minus moral ini harus diwaspadai. Sebab, jangan hanya ingin terkenal, lalu tanpa sadar telah  dialihkan perhatian dan keputusan non produktif, sementara hasil sumber daya alam terus dikuras orang lain.***

Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi!
Rubrik

Komentar

Loading...