Sehubungan Libur Nasional Hari Raya Idul Adha 2018, Tabloid MODUS ACEH Tidak Terbit, Senin, 20 Agustus 2018. Terbit Kembali 27 Agustus 2018. Redaksi.

Terkait ‘Pencurian’ Sawit PT. Makmur Inti Bersaudara

Hasanuddin Tak Kebal Hukum, Polda Aceh Perpanjang Masa Tahanan

Hasanuddin Tak Kebal Hukum, Polda Aceh Perpanjang Masa Tahanan
Hasanuddin (media realitas)
Rubrik

 

Banda Aceh | Masih ingat Hasanuddin (HS), mantan manager lapangan PT. Dwi Semesta Kencana di Idi, Kabupaten Aceh Timur? Nah, sejak dua puluh hari lalu, dia sudah bermalam di ruang  tahanan Polda Aceh di Banda Aceh. Ini terkait dugaan perbuatan pencurian yang menjeratnya, Minggu dini hari, 22 April 2018 lalu.

Akibatnya, Hasanuddin terpaksa tak bisa berhari Raya Idul Fitri, 1 Syawal 1439 H, mendatang bersama keluarga. Maklum, tim penyidik Polda Aceh memperpanjang masa tahanan untuk 20 hari kedua atau selanjutnya kepada Hasanuddin. “Ya, karena memang penyidik masih membutuhkan keterangan dari tersangka,” ungkap sumber media ini di jajaran Direktorat Reserse dan Kriminal Umum, Polda Aceh, Jumat (8/6/2018) di Banda Aceh.

Perpanjangan masa penahanan ini, sekaligus membuktikan bahwa Hasanuddin tidak kebal hukum. Walau pun sempat dua malam ditahan di Polres Aceh Timur, lalu diberi penangguhan, namun ‘sayap’ Hasanuddin justeru sangkut di Polda Aceh.

Sekedar mengulang, Tim Reskrim Polres Aceh Timur, Minggu malam (22/4/2018) menangkap dua pekerja yang juga warga Desa Seunebok Bayu, Kecamatan Indra Makmur, Kabupaten Aceh Timur. Penangkapan itu terkait dugaan adanya pencurian dua pengangkut atau setara tujuh ton tandan buah segar (TBS) sawit, milik PT. Makmur Inti Bersaudara, di lokasi tersebut.

Kabarnya, aksi tak patut ini telah berlangsung sejak tujuh tahun lalu dan menurut taksiran ahli perkebunan sawit, hasil kebun yang ”bocor” alias dikuasai secara tidak sah ini mencapai Rp 17 miliar. Dan, dana sejumlah itu pula, negara melalui Bank BNI merugi, Rp 17 miliar. Yang jadi soal, kemana dana segar itu mengalir dan siapa yang menikmatinya?

20180609-sawit-curian

Sawit curian yang berhasil diamankan polisi (dok. MODUSACEH.CO)

Sumber media ini di Polsek Indra Makmur dan Polres Aceh Timur membenarkan penangkapan dua pengangkut sawit tersebut. “Benar, kami telah menangkapnya dan barang bukti telah kita amankan,” kata sumber media ini dijajaran kepolisian setempat. Namun, dia tak bersedia memberi keterangan lebih rinci. Begitupun, pihaknya telah meminta keterangan sejumlah saksi. Termasuk dua pengangkut sawit tadi.

Nah, untuk sementara muncul dugaan, aksi sepihak dan tanpa izin itu, disutradarai seorang mantan manager lapangan yaitu Hasanuddin HS). Sebab, sejak perkebunan sawit itu disita oleh negara, melalui kurator Bank Negara Indonesia (BNI), mantan pemiliknya yakni Razali Rohimun masih berhubungan dengan manager lapangan dan sejumlah pekerja.

Sekedar mengulang, perkebunan sawit itu awalnya berada di bawah bendera PT. Dwi Kencana  Semesta milik Razali Rohimun yang berdomisili di Medan, Sumatera Utara. Untuk mengarap kebun seluas 6.775 hektar lebih ini. Razali mengambil kredit pada BNI. Namun, sejak tujuh lalu, Razali tak mampu melunaskan utangnya pada bank milik negara (BUMN) ini.

Akibatnya, kebun tersebut disita untuk negara atau BNI. Selanjutnya, BNI melakukan pelelangan dan dimenangkan PT. Makmur Inti Bersaudara.  Ini sesuai dengan Surat Penetapan Pengadilan Negeri Kelas 1-A Medan No.06/Pdt.Sus-Pailit/PN Niaga Medan, tanggal 21 Maret 2018.

Itu sebabnya, sejak pengalihan kepemilikan, seluruh aset dan tata kelola kebun, sepenuhnya menjadi hak dan milik PT. Makmur Inti Bersaudara. "Sejak menerima surat penetapan Pengadilan Negeri Kelas 1-A Medan, 21 Maret 2018, perusahaan perkebunan Sawit PT. Dwi Kencana Semesta sudah beralih kepemilikan kepada PT. Makmur Inti Bersaudara," tegas Alexander Leonardo Siagian, perwakilan PT. Makmur Inti Bersaudara pada media ini, Kamis, 12 April 2018 lalu di ruang kerjanya.

Menurut Alex, adapun aset PT. Dwi Kencana Semesta yang telah menjadi kepemilikan PT. Makmur Inti Bersaudara berupa tiga bidang tanah/kebun sawit dalam satu hamparan/satu kesatuan, berikut bangunan beserta sarana dan prasarana lainnya/segala sesuatu yang berada di atasnya.

Selain itu, Sertifikat Hak Guna Usaha (SHGU) Nomor: 98/Desa Alue Minyeuk/Alue Muedang dan SHGU No 100/Desa Jambo Reuhat dan Seunebok Bayu yang dijaminkan kepada PT Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk, serta SHGU No 144/Desa Seunebok Bayu yang berlokasi di Aceh Timur, dengan total luas 6.775,99 Ha, sudah terjual kepada PT Makmur Inti Bersaudara sejak 21 Maret 2018.

“PT. Makmur Inti Bersaudara, merupakan pembeli dan penawar dengan harga terbaik yang terpilih," terang Alex. Karena itu, segala wewenang penjagaan, pengelolaan dan pemeliharaan atas nama aset PT. Dwi Kencana Semesta, beralih kepada PT. Makmur Inti Bersaudara sebagai pemilik baru yang sah, "tegas Alex.

Begitupun, saat penataan manajemen baru oleh PT. Makmur Inti Bersaudara, terkesan ada usaha untuk menghalang-halangi dari Hasanuddin, manager lapangan PT. Dwi Kencana Semesta. Misal, mengelola hasil kebun secara sepihak dan pengelolaan keuangan yang tidak jelas. Padahal, seluruh pertanggungjawaban atas keuangan dari hasil penjualan sebelum peralihan, tanggal 21 Maret 2018, tentu saja menjadi tanggungan jawab Hasanuddin selaku pihak yg memperjualbelikan tandan buah segar (TBS) milik PT Dwi Kencana Semesta.

“Begitu juga dengan pertanggung jawaban atas uang-uang dari hasil penjualan, ditransfer kemana saja? Itu juga menjadi tanggung jawab saudara Hasanuddin,” kejar Alex. Alasannya, kemana saja dana atau pemasukan yang bertahun-tahun dan mencapai miliaran rupiah hingga 21 Maret 2018. Semua itu menjadi tanggung jawab saudara Hasanuddin,” tegas Alex. Alasan Alex memang sangat masuk akal. Sebab, luas tanaman perusahaan DKS mencapai 1.750 hektar yang sudah berbuah atau panen. Secara hitungan pasar atau menurut para pemilik kebun sawit, maka pendapatan per bulannya dari kebun seluas 1.750, bisa mencapai  ratusan juta. “Tinggal dikali tujuh tahun kredit DKS yang macet di Bank BNI,” ulas Alex.

Sekali lagi, yang jadi tanda tanya adalah, kemana semua uang hasil kebun tersebut? Apakah Bank BNI turut menikmati hasil kebun PT.DKS selama kredit macet? Atau hanya dinikmati keluarga Hasanudin dan eks pemilik, yang menerima hasil bersihnya setelah dipotong biaya operasional dan gaji karyawan? Termasuk, apakah selama tujuh tahun beroperasi, PT Dwi Kencana Semesta ada membayar pajak pada Kantor Pelayanan Pajak (KPP) di IDI, Aceh Timur. Bahkan, disinyalir, ada aliran dana kepada pemilik lama melalui nomor rekening pribadi Hasanuddin.

Ironisnya, meski kebun itu sudah beralih kepemilikan, namun aktivitas “pencurian” sawit terus terjadi dan sudah berlangsung sejak tujuh tahun lalu, tanpa diketahui Bank BNI. Diduga, diam-diam, pemilik lama masih mengelola seluruh hasil panen kebun dimaksud. Atas berbagai tanda tanya besar tadi, mantan manager lapangan PT Dwi Kencana Semesta Hasanuddin yang dihubungi MODUSACEH.CO tak memberi penjelasan banyak. Dia mengakui jika perkebunan PT DKS telah beralih pada PT Makmur Inti Bersaudara.

“Memang betul Pak, tapi kami tak bisa menjelaskan melalui handphone. Kalau bapak mau tahu lebih banyak, datang saja ke Idi atau saya akan beri keterangan dua hari lagi,” kata Hasanuddin. Sayangnya,  setelah sepekan ditunggu, Hasanuddin tak bisa dihubungi lagi dan diketahui kemudian, dia telah diciduk aparat kepolisian setempat.

“Benar kita sudah tetapkan HS sebagai tersangka. Dia sempat ditahan dan akhirnya ditangguhkan atas permohonan dan jaminan keluarga,” kata Kapolres Aceh Timur Wahyu Kuncoro.S.I.K, melalui Kasat Reskrim AKP. Erwin Satrio Wilogo.SH.S.I.K.MSi pada media ini melalui telpon seluler, Kamis (17/5/2018).

Penetapan tersangka dan penangkapan Hasanuddin, sekaligus menjawab teka-teki siapa pelaku pencurian sekitar lima ton sawit, tandan buah segar (TBS), milik PT Makmur Inti Bersaudara, 23 April 2018 lalu. Tim penyidik Polres Aceh Timur akhirnya menetapkan Hasanuddin (HS), mantan manager PT. Dwi Kencana Semesta sebagai tersangka. Sekali lagi, tak ada yang kebal hukum di negeri ini!***

Komentar

Loading...