Breaking News

Orasi Politik Agus Harimurti Yudhoyono (bagian tiga)

Hampir Setiap Tempat Rakyat Berteriak!

Hampir Setiap Tempat Rakyat Berteriak!
politiktoday.com

Bagi saya, berada di tengah-tengah rakyat adalah kemewahan yang sesungguhnya, dimana “muka ketemu muka, hati ketemu hati, gagasan ketemu gagasan”. Berdialog dan mendengarkan keluhan mereka secara langsung, tidaklah tergantikan. Betapapun majunya teknologi informasi dan komunikasi yang kita miliki sekarang.

MODUSACEH.CO | Hasil dari pertemuan-pertemuan itu saya tindaklanjuti dengan diskusi bersama para kepala daerah, wakil rakyat, akademisi, pelaku dunia usaha, juga para politisi senior, dan tokoh nasional. Intinya, kita sepakat isu ekonomi harus menjadi prioritas bangsa saat ini. Jika kita peras isu ekonomi ini, maka ada dua persoalan utama, yaitu: daya beli dan lapangan kerja.

Soal daya beli misalnya. Meski angka-angka indikator ekonomi makro relatif baik, namun pada kenyataannya di lapangan, masyarakat merasakan hal yang berbeda. Hampir di setiap tempat yang kami datangi, rakyat berteriak, “Pak, bagaimana ini? Harga-harga kebutuhan pokok naik! Barang-barang makin mahal.” Bahkan, ada satu perkataan seorang ibu di Jawa Tengah yang selalu terngiang di telinga saya, “Jangankan untuk sekolah anak, untuk hidup sehari-hari saja, susah.”

Di satu sisi, harga-harga kebutuhan naik secara signifikan. Di sisi lain, kemampuan dan kesempatan masyarakat makin terbatas untuk memperoleh penghasilan yang layak. Sebagai contoh, di laut Pangandaran, para nelayan menunjukkan kepada saya minimnya  tangkapan mereka. Petani garam di Kabupaten Cirebon, mengeluhkan melimpahnya garam impor. Buruh, di berbagai tempat mengadukan upah minimum mereka yang sulit mengejar kenaikan harga barang. Para pekerja honorer – guru dan bidan – mengadukan, ketidakpastian masa depan mereka yang tidak kunjung diangkat menjadi PNS.

Sekarang, mari kita lihat gambar besarnya. Konsumsi rumah tangga, menurun. Padahal, konsumsi rumah tangga merupakan, komponen utama dalam ekonomi kita, mewakili lebih dari setengah Produk Domestik Bruto (PDB) kita.

20180611-ahy-di-banda-aceh

AHY di Banda Aceh (Foto: Serambi Indonesia)

Ada yang berpendapat, bahwa penurunan konsumsi rumah tangga ini, akibat pergeseran pola pembelian dari ritel fisik menjadionline. Tapi faktanya, ritel online hanya mewakili satu hingga dua persen dari nilai total penjualan barang konsumsi. Angka ini tidak bisa menutupi turunnya pembelian ritel fisik.

Harus diakui, daya beli rakyat memang menurun. Utamanya, rakyat berpenghasilan rendah dan kurang mampu. Indikator lain dari menurunnya daya beli adalah penjualan sepeda motor. Kita tahu, betapa akrabnya masyarakat dengan sepeda motor. Bahkan jutaan sepeda motor digunakan sebagai moda transportasi untuk mudik Lebaran.

Saya sempat berbincang dengan para sales sepeda motor. Mereka mengeluh angka penjualan turun drastis. Angka gagal kredit naik. Target penjualan dari bulan ke bulan makin sulit dicapai. Data penjualan Gaikindo (Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia) menunjukkan, selama tiga tahun terakhir, penjualan sepeda motor turun dua juta unit. Dari 7,9 juta unit di tahun 2014 menjadi 5,9 juta unit di tahun 2017.

Selain itu, biaya hidup dan pengeluaran rumah tangga juga terus meningkat. Contohnya, kenaikan tarif listrik. Tarif listrik naik lebih dari 140 persen, antara bulan Desember 2016 hingga Juli 2017. Pencabutan subsidi listrik untuk golongan 900 Voltase Ampere, berdampak terhadap hampir 19 juta pelanggan rumah tangga. Ini tentu secara langsung berpengaruh terhadap daya beli rakyat.***

"Pileg dan Pilpres 2019" - vote sekarang juga -

Komentar

Loading...