SBY, Perdamaian, Kesejahteraan dan Pilkada Aceh

Gubernur, Bupati dan Wali Kota Bertanggungjawab

Gubernur, Bupati dan Wali Kota Bertanggungjawab
Foto: cyberspaceandtime.com

Saya masih menyampaikan saran dan pandangan-pandangan pemikiran melalui media sosial: youtube, twiter, facebook. Ibu Ani juga punya isntagram. Kami selalu hadir untuk Aceh.

Bahkan sedang di luar negeri saat memperingati 10 tahun tsunami, 26 Desember 2014 lalu, SBY masih sempat menuliskan artikel. Ini jelas menandakan SBY memang masih mengingatkan bangsa ini. "Ingat Aceh, jangan sia-siakan perdamaian ini!" tegasnya.

SBY juga masih aktif di dunia internasional, dan masih sangat peduli pada Indonesia dan Aceh. "Sekaligus saya katakan (pada dunia internasional), tsunami luar biasa dampaknya, teruslah bermitra dengan Indonesia, berikan perhatian terhadap Indonesia termasuk Aceh."

Dan jangan lupa, dalam kapasitas SBY sebagai pimpinan partai politik, dirinya juga menginstruksikan agar Partai Demokrat di Aceh benar-benar peduli dan memberi solusi untuk Aceh. Yang penting, kata SBY, kekuasaan itu digunakan sebaik mungkin, meskipun semua orang berlomba-lomba untuk mendapatkannya, yang lebih penting bagaimana amanah ini dijalankan.

Inilah cara SBY agar parpol yang dia pimpin tetap mengabdi untuk rakyat. Politik memang panas, politik memang saling intip mengintip, tapi parpol yang SBY pimpin betul-betul berpikir untuk Aceh. "Apa yang kurang, kalau perlu dikoreksi ya koreksi, tapi kalau perlu didukung, maka perlu didukung. Itu (Demokrat Aceh) perpanjangan  tangan saya untuk Aceh, mewujudkan mimpi menjadi kenyataan," kata SBY.

SBY juga minta pada kader Partai Demokrat di Aceh dan anggota DPR RI asal Aceh memastikan rakyat Aceh saat ini damai, tentram dan merasa betul-betul aman. "Taburkan keadilan. Janganlah hanya sebagian orang yang menikmati pembangunan di Aceh. Kasihan yang di hutan dan gunung, puluhan tahun menderita."

Kemajuan, tegas SBY, harus nyata. Sebab itu adalah idealisme dan cita-cita, termasuk dirinya. "Karena itu, sekarang sudah diberikan kesempatan untuk memimpin Aceh dan laksanakan amanah ini."

SBY menceritakan, dirinya pernah diwawancarai teman-teman wartawan di Jakarta dan sudah dibukukan. "Pak SBY, sebetulnya apa sih yang diinginkan Aceh?" SBY menirukan wartawan itu. "Saya katakan ada tiga hal. Pertama, mereka ingin kedamaian, hidup aman dan tentram, yang itu pernah hilang selama puluhan tahun. Kedua, mereka ingin keadilan. Hidup layak, tidak terlalu melebar kesenjangannya sehingga merasa adil. Ketiga,  ingin lebih sejahtera pendidikan, kesehatan, lapangan pekerjaan, penghasilan atau income perkapita. Karena itu, jika Aceh ingin berubah setelah damai, maka sentuhlah tiga elemen tadi."

Membangun kembali daerah paska konflik, kata SBY, tantangannya tidak sedikit. Setelah konflik berakhir, kesepakatan damai di tandatangani, undang-undang diberlakukan. Masih ada proses reintegrasi yang harus dijalankan. Trust building itu tidak mudah.

Banyak negara, setelah kesepakatan damai di dapat, namun proses lanjutannya gagal, karena tidak bisa berintegrasi, setelah sekian puluh tahun berjalan, di antara kompenen yang dulu saling berhadapan.

Selain itu, pemimpinnya juga baru. Karena itu harus mengerti betul membangun perencanaan, manajemen dan pengendalian daerah. Itu juga tantangan. "Saya harus katakan: memang kondisi pembangunan Aceh saat ini belum seperti yang kita harapkan! Tetapi, kemajuannya ril ada di sana sini, karena itu harus lebih maju lagi."

Tentu yang paling bertangungjawab adalah tetap gubernur, para bupati dan wali kota, tidak lagi Jakarta. Karena sudah desentralisasi dan otonomi luas. Sebelum reformasi, sentralisme penuh dan konflik, memang lebih banyak tangan Jakarta yang berperan. "Sekarang bola di depan mata, meskipun Jakarta tetap bertangungjawab, tetap memberikan sumber daya dan anggaran yang memadai."***
"Pileg dan Pilpres 2019" - yuk ikutan polling-nya! -

Komentar

Loading...