Gerakan Aceh Menggugat (GAM) dan Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa DKI Jakarta Tolak PT. Emas Mineral Murni (EMM) di Nagan Raya

Gerakan Aceh Menggugat (GAM) dan Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa DKI Jakarta Tolak PT. Emas Mineral Murni (EMM) di Nagan Raya
Aksi demo mahasiswa Aceh di Jakarta (Foto: Ist)

Jakarta | Gerakan Aceh Menggugat (GAM) dan Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa DKI Jakarta, menolak keras kehadiran perusahaan tambang emas, PT Emas Mineral Murni (EMM) di Kabupaten Nagan Raya, Provinsi Aceh.

Penolakan itu disampai melalui aksi demontrasi di depan Kantor Kementerian ESDM, Senin (17/12).

Presiden Mahasiswa Stebank Islam, Andi Prayoga, yang juga putra Aceh mengatakan. Mahasiswa yang hadir pada demo tersebut dari petinggi Mahasiswa Kampus STEBANK Jakarta, Universitas Az Zahra, Universitas Islam Jakarta, Universitas Esa Unggul dan Perwakilan Mahasiswa Universitas Teuku Umar, Aceh Barat.

Andi menyebutkan, aksi penolakan perusahaan tersebut akibat penambangan emas dalam kawasan hutan. Masyarakat cemas dengan berdampak negatif terhadap lingkungan hidup dan sosial di daerah itu.

20181218-demo-mahasiswa-aceh-di-jakarta2

“Kami menolak perusahaan itu karena khawatir akan terjadi bencana ekologis yang diakibatkan hadirnya perusahaan pertambangan, menciptakan lubang-lubang besar yang ditimbulkan dari aktifitas perusahaan,” kata Andi melalui siaran pers yang dikirim ke redaksi media ini, Senin malam kemarin.

Kata Andi, jika perusahaan PT EMM tetap beroperasi, akan mengancam sumber kehidupan masyarakat sekitar serta menurunnya kualitas air. Selain itu, tingginya sendimentasi terhadap sungai di sekitar lokasi perusahaan. Termasuk akan mempersempit ruang kelola rakyat terhadap sumber daya hutan, yang selama ini menjadi sumber kehidupan utama masyarakat di kawasan itu. Ironisnya lagi, bakal menghilangkan situs sejarah perjuangan Cut Nyak Dhien di Beutong Ateuh Banggalang.

Itu sebabnyam Andi Prayoga meminta PT EMM untuk menghentikan operasi Eksplorasi Tambang Emas di kawasan Hutan Lindung Beutong dan Gayo. PT EMM yang mengklaim hutan lindung sebagai area tambang emas seluas 10 ribu hektar, juga harus diperjelas pada semua pihak.

Presiden Mahasiswa STEBANK, Andi Prayoga,  juga menolak audiensi dengan pihak Kementerian ESDM, karena dia menilai orang yang menerima audiensi bukan tugas dan fungsinya dalam menangani kasus tambang di Aceh.

“Kami hanya menerima audiensi dengan Menteri dan Dirjen ESDM, Selain itu kami menolak untuk audiensi, karena yang memegang kebijakan dan keputusan ada di Menteri dan Dirjen Minerba,” kata Andi Prayoga.

Selain itu, massa yang tergabung dalam aksi juga mendatangi Istana Negara untuk meminta Presiden Republik Indonesia Joko Widodo menghentikan tambang di Beutong, Aceh dan mencopot Menteri ESDM kalau izin tambang tidak di cabut.

“Kami akan melakukan aksi Tolak Tambang jilid II jika tuntutan kami tidak dilaksanakan, dan kami juga menuntut Presiden Jokowi untuk mencopot Menteri ESDM, Ignasius Jonan dari jabatannya, kalau tuntutan ini tidak dilakukan, maka kami siap melakukan revolusi.***

Komentar

Loading...