Massa Terpecah, Dukungan Terbelah

Gejolak Politik Belum Bertepi di Negeri Tgk Diujung Simeulue

Gejolak Politik Belum Bertepi di Negeri Tgk Diujung Simeulue
Ribuan massa yang mengatasnamakan Gerakan Masyarakat dan Mahasiswa Peduli Simeulue (GM2PS), melakukan aksi demontrasi di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Simeulue, Senin, 19 Agustus 2019 (Foto: MODUSACEH.CO)
Rubrik

Hanya empat hari usai memperingati Hari Damai Aceh, 15 Agustus 2019 dan dua hari, paska memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan RI ke 74, tanggal 17 Agustus 2019. Ribuan massa yang mengatasnamakan Gerakan Masyarakat dan Mahasiswa Peduli Simeulue (GM2PS), melakukan aksi demontrasi di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Simeulue.

HARI ini, Senin, 19 Agustus 2019, histeria massa bercampur aduk dengan amarah, menuntut pencabutan rekomundasi DPRK setempat, terkait pemakzulan Bupati Simeule Erli Hasyim yang “dihukum” sepihak oleh DPRK setempat, karena beredarnya video mesra dengan seorang perempuan yang diakui telah dinikahinya.

Kasus video panas yang diduga melibatkan Bupati Simeulue Erli Hasim ini, membawa suasana politik di kabupaten kepulauan itu bertambah panas. Sejumlah massa yang menamakan diri aliansi Gerakan Masyarakat Anti Pejabat Amoral (Gempar) melancarkan aksi demonstrasi di Sinabang, Senin, 29 Juli 2019.

Rupanya, gejolak politik di Negeri Teungku (Tgk) Halilullah atau akrab disebut Tgk Diujung ini belum juga bertepi. Bahkan, menebar aura semakin panas. Betapa tidak, massa  GM2PS, juga menuntut wakil rakyat di sana, mengungkap dan membentuk panitia khusus (Pansus) terhadap dugaan perbuatan “mesum” yang pernah dilakukan Afridawati tahun 2001 silam di Banda Aceh.

Afridawati adalah Wakil Bupati Simuelue saat ini. Dia istri mantan Bupati Simuelue Darmili yang kini sudah bermalam di Hotel Prodeo, Lapas Kahju, Kabupaten Aceh Besar. Diduga, dia terjerat dan terlibat praktik korupsi pada Perusahaan Daerah Kabupaten Simeulue (PDKS) tahun 2002-2012. Selain Darmili, nama Afridawati dan anaknya, juga  ikut dibidik tim penyidik Kejaksaan Tinggi Aceh. Diduga, keduanya ikut menikmati aliran dana tadi.

Tak hanya itu, Afridawati juga sempat diterpa isu mengunakan ijazah palsu saat maju dan mendampinggi Erli Hasyim sebagai calon Bupati dan Wakil Bupati Periode 2017-2024 pada Pilkada 2017 lalu.

Saat itu di tahun 2016, sekelompok massa dari pemuda dan mahasiswa asal Simuelue di Banda Aceh, mengelar aksi demontrasi di Kantor Gubernur Aceh. Mereka menuntut nama Afridawati sebagai calon Wakil Bupati Simeulue dibatalkan atau digugurkan, karena terindikasi mengunakan ijazah palsu.

Namun, seiring bergulir waktu dan Erli Hasyim-Afridawati terpilih sebagai orang nomor satu dan dua Simeulue, kedua isu “panas” itu pun raib. Tapi, tak bertahan lama atau hanya dua tahun keduanya berjalan “mesra” memimpin kabupaten kepulauan tersebut, gejolak politik justeru kembali memanas.

20190819-demo-erli

Warga berunjuk rasa menuntut Bupati Simeulue Erli Hasyim dicopot dari jabatannya. (Liputan6.com/ Rino Abonita)

Tak jelas apa yang menjadi sebab musabah dari semua itu. Namun sejumlah pihak menyebutkan. Gerakan massa tadi tak lepas dari klik dan intrik yang terjadi antara Erli Hasyim versus Afridawati.

Sayangnya, upaya konfirmasi yang dilakukan media ini kepada Afridawati tak berhasil. Saat ditemui di Kantor Bupati Simuelue, dia tak berada di Sinabang. Dihubungi melalui telpon seluler, dia tak angkat. Dikirim pesan singkat melalui WhatsApp (WA),  juga tak berbalas. tidak aktif.

Kini, massa terpecah, dukungan terpelah. Sampai kapan? (selengkapnya baca Liputan Khusus pekan ini).***

Komentar

Loading...