Fasilitas Tak Sesuai Harapan, Penduduk Transmigrasi Ibarat Tinggal di Pengasingan

Fasilitas Tak Sesuai Harapan, Penduduk Transmigrasi Ibarat Tinggal di Pengasingan

Simeulue | Komplek perumahan transmigrasi Unit Latiung Blok B Desa Lataling, Kecamatan Teupah Selatan, Kabupaten Simeulue yang dibangun menggunakan dana Otsus Tahun 2018 lalu saat ini kondisinya jauh dari harapan.

Bagaimana tidak, perumahan yang menghabiskan anggaran mencapai Rp 3 miliar lebih tersebut, saat ini fasilitasnya belum juga disiapkan. Mulai dari air bersih, lahan perkebunan hingga fasilitas penerangan tak kunjung disediakan. "Kami di sini ibarat tinggal di pengasingan, air bersih belum tersedia, lahan yang dijanjikan juga belum ada, untuk penerangan masih dalam angan-angan," jelas narasumber yang enggan disebut namanya pada MODUSACEH.CO, Kamis, 12/4/2019.

Penduduk trans yang saat ini masih berjumlah 20 Kepala Keluarga (KK) yang dalam perencanaan nantinya akan dibangun sebanyak 400 KK. Saat ini untuk kebutuhan air hari-hari mereka mengunakan air sungai yang agak lumayan jauh dari komplek perumahan tempat tinggal mereka. "Untuk kebutuhan air warga trans menggunakan air yang mengalir di sungai, yang tingkat kebersihannya tidak dijamin," kata narasumber tersebut.

Terkait lahan perkebunan serta listrik untuk penerangan yang saat ini belum diberikan pihak pengelola yaitu Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dusnakertrans) Kabupaten Simeulue. Padahal mereka sudah tinggal di sana hampir setengah tahun lamanya.

"Masalah lahan belum ada yang diserahkan pada kami, yang terlihat baru disediakan kurang lebih baru empat hektar itu pun belum diserahkan, sementara dalam perjanjian tiap KK diberikan dua hektar lahan perkebunan, sementara masalah listrik belum ada banyangan," jelasnya.

Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Simeulue melalui Kepala Bidang Transmigrasi Rudi Afriansyahmengatakan, masalah air bersih yang dikeluhkan penduduk trans sebenarnya telah disipakan. Tetapi fasilitas tersebut belum berfungsi secara maksimal, disebabkan adanya gunung yang dilintasi pipa air, sehingga bak penampung terlalu rendah. "Sehingga menyebabkan air tidak bisa naik melalui pipa yang telah disediakan," jelasnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan, ke depan pihaknya akan melakukan koordinasi dengan sejumlah penduduk trans, untuk sama-sama mencari solisi terkait kondisi itu. "Dalam waktu dekat ini kami akan berkoordinasi dengan penduduk trans untuk mencari solisi terkait dengan hal ini, diharapkan sebelum bulan puasa ini permasalahan air ini telah selesai," kata Rudi.

Saat ditanyakan keluhan warga trans yang belum ada lahan, dia menyebutkan, untuk lahan perkebunan telah disiapkan namun belum diserahkan dikarenakan masih ada perlengkapan administrasi yang harus disiapkan, beberapa minggu yang lalu pihaknya telah datang ke sana untuk menyerahkan lahan.

"Namun dikarenakan sejumlah pejabat serta tokoh-tokoh masyarakat dalam desa tersebut tidak hadir sehingga acara penyerahan lahan dibatalkan. "Lahannya sudah disiapkan, minggu lalu kami ke sana dan ingin menyerahkan pada mereka, namun dikarenakan sejumlah pejabat desa tidak hadir, sehingga kami tunda Senin mendatang," ungkap Rudi.

Terkait tidak adanya listrik untuk penerangan, ia juga menjelaskan, dari pihak trans ada menyediakan anggaran pemasangan listrik, namun hanya pemasangan instalasi ke rumah penduduk, tidak ada anggaran pembangunan tiang serta kabel listrik dari jalan raya.

Sementara diketahui jarak perumahan dari jalan raya hampir satu kilo meter jauhnya. "Untuk listrik ini pihak trans hanya menyediakan pemasangan ke rumah penduduk, namun untuk tiang serta kabel dari jalan itu tidak ada, sebab itu hingga saat ini listrik belum dimasukkan, dikarenakan anggaran untuk pembangunan tiang serta kabel belum ada," jelasnya.*** 

Komentar

Loading...