Mengaku Salah Pahami Makna Referendum

Empat Pemuda Tarik Ucapan akan Sumbang Rp 500 Juta

Empat Pemuda Tarik Ucapan akan Sumbang Rp 500 Juta
Muhammadi, Dedi Suwandi SH, Muhammad Ilyas dan Abu Khairan (Foto: Aidil Firmansyah)

Meulaboh | Masih ingat nama Muhammadi, Dedi Suwandi SH, Muhammad Ilyas dan Abu Khairan? Nah, empat pemuda ini awalnya mengaku termotivasi untuk mengikuti jejak tokoh Aceh sebelumnya, mengorbankan harta dan pikiran untuk membantu Indonesia, memperoleh kemerdekaan dari penjajah Belanda dengan membeli Pesawat 01 Seulawah.

Itu sebabnya, semangat tersebut akan mereka lakukan kembali dengan wacana referendum yang disampaikan Ketua KPA/DPA Partai Aceh, Muzakir Manaf atau akrab disapa Mualem pekan lalu. Keempat mereka pun sepakat untuk menyumbang dana Rp 500 juta. “Yang disampaikan Mualem merupakan keinginan yang sudah ditunggu-tunggu lama, itu adalah momen yang sangat pas untuk melangsungkan wacana referendum untuk Aceh,” kata perwakilan empat pemuda, Muhammadi, kepada MODUSACEH.CO, Rabu (29/5/2019).

Begitupun, entah karena ada tekanan dari pihak tertentu, terkait rencana tadi. Empat pemuda di Kabupaten Aceh Barat  ini, akhirnya menarik pernyataan dan rencana tersebut. Alasannya, mereka salah serta keliru memahami makna referendum. Mereka mengaku, referemdun sama dengan aksi menyatakan pendapat dimuka umum.

“Uang Rp 500 juta itu hanyalah angan-angan saja. Kami sudah salah paham dengan makna referendum. Kami mengira referendum itu sama dengan menyatakan pendapat di muka umum, sesuai dengan undang-undang seperti layaknya aksi damai  yang sering dilangsungkan mahasiswa di jalan raya,” ujar Dedi Suwandi, salah seorang dari keempat pemuda itu mengklarifikasi kepada MODUSACEH.CO, Sabtu (1/5/2019).

Sebelumnya, ada empat pemuda di Kabupaten Aceh Barat yang mengaku siap menyokong dana pribadi Rp 500 juta, agar agenda tersebut dapat terlaksana secara maksimal dan dapat diimplementasikan. Bahkan, mereka berharap wacana referendum tadi bukan sebagai ucapan panas belaka. Mereka mengatasnamakan Generasi Aceh Barat setuju dan sepakat untuk Aceh bisa berjaya dan mengelola sumber daya yang dimiliki secara mandiri.

Menurut mereka, kondisi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) saat ini begitu amburadul dan tak karuan, baik jika dilihat dari segi ekonomi maupun politik. Aceh dengan sumber daya berlimpah tidak mungkin terus menanggung beban pemerintah pusat. Bahkan terlihat kesenjangan terkait MoU Helsinki antara Aceh dengan Pemerintah RI.

Apalagi lanjut Madi begitu dia akrab disapa, faktanya saat ini MoU Helsinki terkesan sudah diabaikan Pemerintah Pusat, sehingga pengalaman Aceh dalam berapa dekade telah sering kali ditipu Pemerintah Pusat. Mulai dari pasca Kemerdekaan RI tokoh Aceh masa itu ialah, Daud Beureueh hingga sekarang.

“Sampai hari ini Aceh selalu tertipu oleh janji-janji pemerintah pusat dan statemen Mualem waktu yang tepat dan telah lama ditunggu masyarakat Aceh. "Kamisebagai generasi Aceh berharap para pemuda dan masyarakat tidak diam saja, segera ambil andil dalam upaya memperjuangkan kejayaan Aceh,” tuturnya.

Secara nominal yang disumbangkan mereka memang tidak seberapa, namun itu merupakan bentuk penghargaan terhadap para syuhada yang telah banyak gugur dalam memperjuangkan dan mempertahankan Nanggroe Aceh Darussalam dari masa ke masa.

Mereka menginginkan, wacana referendum itu segera dinyatakan, sehingga tidak berlarut-larut dan kemudian hilang ditelan masa. Tokoh-tokoh politik di Aceh jangan diminta untuk tidak mengeluarkan pernyataan kontroversi, seolah-olah tak mendukung upaya Aceh untuk menuju kejayaannya kembali.

“Kepada pemuda Aceh, ayo kita bersatu untuk bisa meraih cita-cita Aceh yang telah lama diperjuangkan para syuhada. Tentu, dengan cara-cara yang sesuai aturan serta hukum dan tidak terjebak pada perbuatan melanggar hukum,” ajak Muhammadi saat itu.

Namun, tak sampai sepekan setelah mengeluarkan pendapat tadi, keempatnya mengaku menarik kembali ucapan dan keinginan tersebut. Makanya, sebelum bicara, berpikirlah lebih jauh dan matang, bukan asal bunyi (asbun), Bung!***

Komentar

Loading...