Eks Kombatan GAM Geruduk Kantor Partai Aceh

Eks Kombatan GAM Geruduk Kantor Partai Aceh

Meulaboh | Seratusan massa dari Eks Kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang tergabung dalam Komite Peralihan Aceh (KPA), Kader Partai Aceh (PA) dan anak-anak yatim korban konflik mendatangi Kantor PA setempat, Selasa, 14 Mei 2019.

Mereka mengaku kesal dengan petinggi partai yang terkesan abai dan tidak peduli dengan nasib mereka selama ini.

Eks GAM, Mawardi mengaku kesal sehingga mendatangi kantor partai itu, lantaran sudah berulang kali menagih janji dan komitmen orang nomor satu di Aceh Barat yang diusung partai tersebut, yakni Bupati Ramli MS.

“Sebelum terpilih kita (KPA) punya komitmen dengan Bupati, namun saat kita menagih janji itu kepadanya, bupati selalu menghindar. Bahkan ada kader partai yang masuk penjara tidak dipedulikan, padahal dia tahan badan demi melindungi ketua partai,” ungkap Mawardi kepada MODUSACEH.CO, Rabu (15/5/2019) dini hari.

Detailnya, kontrak politik yang dibuat pihaknya dengan Bupati Ramli tidaklah tertulis, namun secara lisan janji itu diikat karena hubungan emosional. Namun, hingga saat ini Mawardi mengaku dirinya dan semua rekan belum pernah diperhatikan sedikit pun oleh Bupati.

Dikatakannya, dalam tubuh PA sendiri, saat ini juga tidak begitu demokratis lagi, partai seolah olah dijadikan sebagai milik pribadi ketua yakni Yusaini alias Abu Yus yaitu saudara kandung Bupati Ramli MS.

Massa yang hadir juga mengamuk di dalam kantor tersebut dan beberapa peralatan di ruang tamu terlihat sudah berantakan.

“Kami punya kontrak politik 30-70 dengan bupati, 30 untuk kami dan 70 untuk mereka, itu tidak perlu dijelaskan apa, dan itu lisan bukan tertulis. Tapi ketika kami jumpai bupati menagih janji itu dia selalu saja tidak dipenuhi, beralasan selalu bayar hutang. Lalu, partai sudah dijadikan seperti milik pribadi, bahkan kader dipecat tanpa kejelasan dan teguran sama sekali, kalau membangkang dengan ucapan ketua maka langsung digaris merah,” jelas Mawardi dalam bahasa Aceh.

Mawardi menuturkan, sebelum ada kejelasan dari Ketua Partai PA dan Bupati untuk memenuhi janji serta komitmen dengan pihaknya, maka kami meminta ketua mundur saja. Bahkan dirinya menginginkan Pimpinan Pengurus Pusat Partai Aceh, Muzakir Manaf alias Mualem memberi respon terkait hal tersebut.

Sejauh ini kedatangan mereka tidak direspon oleh pimpinan. Jika hal itu tidak diselesaikan secepat mungkin, maka Mawardi beserta rekan lainnya memastikan tidak ada lagi aktivitas di partai tersebut.

"Belum ada respon, kalau ini tidak selesai maka kami akan hentikan aktivitas di kantor Partai Aceh,” tegasnya.***

Komentar

Loading...