Analisis Hasil Sementara Pilpres 2019 (bagian satu)

Duh! Kenapa Suara Jokowi-Ma’ruf Anjlok di Aceh?

Duh! Kenapa Suara Jokowi-Ma’ruf Anjlok di Aceh?
Foto: Dok.MODUSACEH.CO

Hasil sementara perolehan suara Joko Widodo-Ma’ruf Amin pada Pilres 2019 di  Aceh hanya meraih 16.89 persen dari 3.523.774 jiwa (pemilih). Sementara pada Pilpres 2014 lalu dengan jumlah 3.330.719 pemilih, Joko Widodo-Jusuf Kalla justeru berada posisi 45,61 persen. Padahal, berbagai cara dilakukan, termasuk memperlebar sayap tim pemenangan.

MODUSACEH.CO | WALAU Komisi Pemilihan Umum (KPU) Pusat, Jakarta belum mengumumkan secara pasti hasil akhir kontestasi Pilpres 2019. Namun, hingga hari ini (18/4/2019), berdasarkan hasil perhitungan cepat (quik count), untuk sementara pasangan calon (paslon) Joko Widodo-Ma’ruf Amin, dinyatakan unggul dari Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Itu sebabnya, berbagai suka cita muncul dari para pendukung dan tim sukses. Baik melalui media pers cetak, elektronik maupun media sosial (medsos). Tak kecuali di Aceh. Begitupun, satu pertanyaan besar patut diajukan. Kenapa perolehan suara Joko Widodo-Ma’aruf Amin pada Pilpres 2019 di Aceh begitu anjlok?  Padahal, berbagai upaya telah dilakukan.

Misal, sebagai Presiden RI (2014-2019), Jokowi tak sekali datang ke Aceh. Ini tidak lepas dari pengakuannya bahwa Aceh adalah “rumah kedua” setelah Solo, Jawa Tengah. Maklum, Jokowi muda sempat beberapa lama tinggal dan bekerja di Aceh, khususnya Kabupaten Aceh Tengah (saat ini menjadi Kabupaten Bener Meriah).

Dia pun merambah sejumlah kabupaten dan kota, meresmikan beberapa proyek strategis nasional di Aceh. Terakhir, Jokowi melaksanakan kampanye Pilpres di Kota Lhokseumawe. Tak hanya itu, sebagai petahana, pasangan calon (paslon) Jokowi-Ma’aruf juga membentuk secara resmi Tim Kampanye Daerah (TKD) di Aceh.

Termasuk sejumlah relawan seperti Komunitas Aceh Jokowi Amin Kuat (Kajak), yang mampu menarik tiga pentolan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) seperti Sofyan Daud (Pembina KAJAK) , Irwandyah alias Tgk Maksalmina (Ketua TKD Aceh) dan Kamaruddin Abu Bakar (Abu Razak), Ketua Sekber Pemenangan Caleg DPR DRI Partai NasDem, yang juga parpol pengusung Jokowi-Ma’ruf.

Selain itu, ada gerbong parpol pendukung seperti, PDIP, Partai Golkar, NasDem,  PPP serta PKB dan parpol gurem lainnya, yang diprediksikan akan terhempas dari ambang Parliamentary Threshold (PT) 2019 yaitu, Perindo, PKPI, Hanura, PBB serta PSI. Belum lagi basis Nahdatul Ulama (NU) di Aceh.

Disisi lain, menerjunkan pula tiga menteri kabinet Jokowi-JK seperti Sofyan Djalil (Menteri Agraria Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), yang juga menyisir seluruh kabupaten dan kota di Aceh. Ada juga Siti Nurbaya (Menteri Kehutanan), Menteri PUPR Basuki Hadimuljono.  Bahkan, ada pula “gerakan bawah tanah” yang dimainkan sejumlah perwakilan BUMN di Aceh maupun institusi negara lainnya.

Nah, berbeda dengan hasil Pilres 2014 silam, paslon Jokowi-Jusuf Kalla (JK), mendapat sokongan dukungan dari Gubernur Aceh dr. Zaini Abdullah dan mantan Menteri Pertahanan GAM, Zakaria Saman. Bisa jadi, munculnya dukungan ini tak lepas dari sosok Jusuf Kalla yang memang diakui sebagai arsitek perdamaian antara GAM dengan Pemerintah Indonesia.

Sementara di kubu Prabowo-Hatta Rajasah, hanya satu figur perekat yaitu, Muzakir Manaf (Mualem) bersama Partai Aceh dan Komite Peralihan Aceh (KPA). Namun, hasilnya justeru tak begitu jauh yaitu; Paslon 01, Prabowo-Hatta meraih  1.089.290 suara (54,39 persen)  dan paslon 02, Jokowi-Jkmeraih  913.309 (45,61 persen)  dengan total suara sah: 2.002.599. Adakah yang salah?

Pertanyaan ini memang patut diungkap. Sebab, Pilres 2014 dan 2019 memang kontestasi berbeda bagi Joko Widodo untuk Aceh. Sebagai pendatang baru misalnya, Joko Widodo-Jusuf Kalla ketika itu tidak begitu banyak memiliki logistik.

20190418-infografis1

Kedua, walau Aceh tak asing bagi Jokowi, namun  daya pikatnya masih kalah dari Jusuf Kalla. Apalagi, partai pengusung utama yaitu, PDIP, yang hingga kini masih meninggalkan sejumlah trauma bagi rakyat Aceh, khusus para korban konflik. Karena itu dapat dipastikan, walau menuai kekalahan di Aceh, tapi perolehan suara 1.089.290 suara (54,39 persen), tak lepas dari figur JK yang memang masih sangat dihargai di Aceh. 

Yang menarik justeru Pilres 2019, sebagai petahana dengan jaringan tim pemenangan yang luas serta logistik yang berlimpah, tapi hasilnya justeru tidak mengembirakan. Di Aceh, paslon Jokowi-Ma’ruf Amin hanya meraih hasil sementara 16.89 persen dari 3.523.774 jiwa (pemilih).

Lantas, dimana peran tim pemenangan, relawan serta partai politik pengusung? Termasuk beberapa institusi negara yang memang sejak awal sudah bekerja, memenangkan paslon ini di Aceh?

Komentar

Loading...