Breaking News

Terkait BAP Kasus penganiayaan

Dua Terdakwa Lapor Penyidik Polresta Banda Aceh ke Polda Aceh

Dua Terdakwa Lapor Penyidik Polresta Banda Aceh ke Polda Aceh
Azhari Usman/ MODUSACEH.CO
Penulis
Rubrik

Banda Aceh | Dua terdakwa kasus penganiayaan, Julia Zulkarnaen (33) dan ayahnya Zulkarnaen Ibrahim (60) melaporkan penyidik Polresta Banda Aceh, terkait dugaan pemalsuan tanda tangan dan berkas acara pemeriksaan (BAP) ke Polda Aceh.

Laporan itu disampaikan pada Sentral Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) dan bagian Profesi dan Pengamanan (Propam) Polda Aceh, pada 24 Maret 2018, dengan nomor BL/59/IV/YAN.2.5/2018/SPKT, Laporan Pidana dan STPL/40IV/YAN.2.5./2018/Yanduan.

Julia Zulkarnaen mengatakan. Kasus penganiayaan yang didakwakan kepada dirinya dan sang ayah telah masuk sidang ke lima di pengadilan negeri Banda Aceh. Namun, dugaan pemalsuan BAP baru diketahui saat persidangan, setelah melihat langsung salinan dakwaan berbeda dengan BAP yang disampaikan pada penyidikan di Polresta Banda Aceh.

"Coba lihat Bang. Banyak sekali perbedaan antara BAP yang satu dengan yang satunya lagi. Dalam BAP ini juga saya rasa berbeda tanda tangan, Ujar Julia Zulkarnaen sambail membandingkan, BAP yang ditandatangi di Mapolresta Banda Aceh dengan BAP di persidangan, di Banda Aceh, Kamis (12/4/18).

Selain itu, menurut Julia Zulkarnaen, kejanggalan lain yang dia lihat adalah BAP yang hanya 4 halaman tidak teratur halamannya dan tandatangan dirinya dan sang ayah berbeda, antara BAP yang ditangdatangi di Mapolresta Banda Aceh dengan BAP yang ada pada Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Banda Aceh.

Selanjutnya, berdasarkan putusan pengadilan terhadap dr. Desi Rosiana, semua barang bukti telah dimusnahkan. Namun, dalam BAP muncul lagi barang bukti tersebut dan dijadikan penyidik untuk menjeratnya dengan sang ayah sebagai tersangka,"lalu saya dikenakan pasal 351 tentang penganiayaan," ujarnya. 

Dia berharap, jika betul penyedik telah melakukan dugaan pemalsuan BAP, dapat diproses secepatnya oleh Propam Polda Aceh,”kasus saya sudah berjalan satu tahun. Saya yakin tidak bersalah, dan saya merasa dirugikan dan melihat ada unsur paksaan menginginkan saya masuk penjara.  Karena, saya menduga ada unsur pemalsuan dokumen dengan oleh penyidik Polresta Banda Aceh, dengan pasal 263 di SPKT dan dugaan pelanggaran kode etik profesi Polri di Propam Polda Aceh,”ungkapnya.

Dihungi terpisah, Kapolresta Banda Aceh AKBP Trisno Ryanto, SH menyangkal telah terjadi pemalsuan BAP yang diduga dilakukan bawahannya. Namun, dia mempersilahkan jika ada masyarakat yang ingin melaporkan penyidik Polresta Banda Aceh pada Polda Aceh,”kalau laporan itu sih sah-sah saja, kalau merasa keberatan, atau ada hal yang dianggap tidak benar. Silahkan saja, biar diproses dengan peraturan yang berlaku,” harap Trisno Ryanto pada media ini di Banda Aceh, Kamis (12/4/18) malam.

Trisno Ryanto juga telah mendengar jika ada dua terdakwa telah melaporkan bawahannya pada Propam Polda Aceh,”betul memang, ada orang yang melaporkan ke Propam atas pekerjaan yang dilakukan penyidik Polresta Banda Aceh dan kasusny sudah P21, dan sedang proses persidangan,” ungkap Trisno Ryanto mengakhiri penjelasannya.

Sebelumnya, kasus penganiayaan yang melibatkan Julia Zulkarnaen dan ayahnya Zailkarnaen Ibrahim terjadi pada April 2017 lalu, dimana Sonya--nama panggilan Julia Zulkarnaen didatangi oleh seorang dokter umum bernama Desi Rosiana di tempat praktek ayahnya di jalan Pari nomor 46 Lampriet, Banda Aceh.

Saat itu, dr Desi diduga mengancam Sonya dengan mengunakan pisau. Melihat kejadian itu, Zulkarnaen Ibrahim selaku ayahnya mencoba menyelamatkan dengan cara memegang dr. Desi yang memegang pisau.

Kasus penganiayaan ini berlanjut pada jalur hukum. Kedua pihak merasa paling benar dan melaporkan kasus itu pada Polresta Banda Aceh. Dalam persidangan, dr. Desi telah dijatuhkan hukuman percobaan. Sedangkan, Julia Zulkarnaen dan ayahnya Zulkarnaen Ibrahim sedang berjalan.***

Komentar

Loading...