Dua Kaki PAN di Bayang-bayang Amien Rais

Dua Kaki PAN di Bayang-bayang Amien Rais
CNNIndonesia.com
Penulis
Sumber
CNNIndonesia.com

Jakarta | Partai Amanat Nasional (PAN) bersikap pragmatis dan terkesan main dua kaki karena sampai hari ini belum menentukan pilihan politik. Satu kursi Kabinet Kerja sudah dimiliki, di sisi lain PAN masih coba menjalin keakraban dengan koalisi Prabowo Subianto. Faktor Amien Rais dalam hal ini sangat signifikan.

Sikap resmi soal dukungan pada Pilpres 2019 diakui baru akan diambil usai menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) pada Kamis (9/8), atau sehari sebelum pendaftaran capres-cawapres di Pemilu 2019 ditutup.

Pada Pilpres 2014, PAN memilih membangun Koalisi Merah Putih (KMP) bersama Partai Gerindra, PKS, Partai Golkar, dan PPP. Saat itu, PAN menempatkan ketua umumnya Hatta Rajasa sebagai calon wakil presiden mendampingi Prabowo. Pasangan Prabowo-Hatta keok melawan pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla yang diusung PDIP, Partai NasDem, Partai Hanura, PKB, dan PKPI.

Usai kekalahan itu, PAN bersama KMP menjadi opisisi serius Jokowi-JK, terutama di parlemen. Manuver-manuver KMP sukses mengamankan kursi Ketua DPR, yang diduduki Setya Novanto dari Partai Golkar, dan Ketua MPR yang dimiliki Zulkifli Hasan.

Namun, koalisi oposisi tak langgeng. Satu per satu partai dalam koalisi itu putar haluan mendukung pemerintah, seperti Partai Golkar, PPP, hingga PAN. Ini tak lepas dari pergantian susunan kepengurusan parpol itu. Misalnya, Zulkifli yang menggusur Hatta Radjasa di kursi Ketum PAN.

Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan (kiri) bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto (kanan), di Jakarta, Senin (25/6).Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan (kiri) bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto (kanan), di Jakarta, Senin (25/6). (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)

Hanya Partai Gerindra dan PKS yang konsisten menjadi oposan selama empat tahun belakangan ini.

Pilihan politik PAN itu kemudian diganjar Jokowi dengan satu kursi menteri. Kader PAN, Asman Abnur, ditunjuk menjadi Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, di 2016. Namun demikian, PAN masih tampak mesra dengan Partai Gerindra dan PKS. Bahkan dalam beberapa kesempatan, sikap PAN bertolak belakang dengan pemerintah. Misalnya, saat menolak UU Ormas pada akhir 2017. Jokowi sendiri masih mempercayakan satu kursi di Kabinet Kerja kepada PAN sampai hari ini.

Kemesraan PAN dengan oposisi terlihat ketika Zulkifli melakukan beberapa kali pertemuan dengan Prabowo dan Presiden PKS Sohibul Iman, serta Ketua Umum Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono, yang belakangan merapat ke Gerindra.

Belakangan di sela-sela upaya membangun koalisi bersama Gerindra, PKS, dan Demokrat menghadapi Pilpres 2019, Zulkifli sendirian bertemu dengan Jokowi dua kali. Yakni, di Istana Bogor, akhir Juli; dan di Istana Negara, Jakarta, Selasa (7/8).

PAN akan menegaskan keberpihakannya untuk Pilpres 2019 setelah menggelar Rakernas, H-1 penutupan pendaftaran pasangan capres-cawapres alias detik akhir tenggat. Rakernas itu mengalami penundaan beberapa hari, dari yang semula dijadwalkan pada Minggu (5/8). Alasannya, ada sejumlah DPW PAN yang belum menyelesaikan rapat pleno dan memberikan rekomendasinya.

Langkah PAN yang baru akan memutuskan sikap sampai H-1 sebelum pendaftaran ditutup dinilai sebagai bentuk main aman. Partai yang dibidani oleh Amien Rais itu juga dianggap bermain dua kaki antara Jokowi atau Prabowo. "PAN masih mencari aman. Bisa juga sedang bermain di dua kaki," kata pengamat politik dari Universitas Al-Azhar Indonesia, Ujang Komarudin kepada CNNIndonesia.com, Selasa (7/8).

Ujang mengatakan sikap galau PAN ini timbul lantaran masih memiliki seorang kader di lingkaran pemerintahan. Di satu sisi PAN tetap ingin membangun komunikasi dengan Jokowi, namun di sisi lain mempersiapkan koalisi bersama Prabowo. "PAN tidak cepat memutuskan untuk bergabung dengan Prabowo karena bisa jadi agar kadernya aman di kabinet," ujarnya.

Tak kunjung bergabungnya PAN dalam barisan Jokowi, meski telah diberikan satu kursi menteri, ditengarai karena keberadaan Amien Rais, Ketua Dewan Kehormatan PAN, yang selalu mengkritik keras Jokowi dan kebijakannya.

Misalnya, kritik soal pembagian sertifikat tanah yang disebut tipu-tipu, pengesahan UU Ormas sebagai pisau politik melemahkan umat Islam, hingga kesepakatan divestasi saham Freeport adalah bohong. Bahkan, Amien pernah meminta agar Asman mundur dari kursi menteri.

Ujang mengamini bila Amien adalah tokoh antagonis di tengah upaya PAN untuk benar-benar bergabung ke koalisi pemerintah. Meskipun, kata Ujang, sikap Amien merupakan hal wajar yang dilakukan politisi terhadap sebuah pemerintahan. "Masing-masing partai memiliki tokoh antagonis masing-masing, yang kadang terlihat keras bagi pemerintah," kata dia.

Pengamat politik dari Universitas Negeri Jakarta Ubedilah Badrun juga sependapat bahwa faktor Amien yang membuat PAN sulit bergabung dengan koalisi Jokowi. Menurut pria yang karib disapa Ubed itu, posisi ini yang membuat PAN berada di dua kaki. "Iya, [Amien] itu juga menjadi faktor. Salah satu dilema PAN adalah berada di dua kaki," kata dia kepada CNNIndonesia.com.

Ubeid mengatakan PAN terlihat pragmatis karena memiliki kader di Kabinet Kerja sekaligus membangun komunikasi dengan Prabowo.***

"Pileg dan Pilpres 2019" - pilihan Anda sangat menentukan -

Komentar

Loading...