Keputusan Dewan Juri Kegiatan FL2SN Dirubah Sepihak

Disdik Aceh Barat Dinilai Membunuh Karakter Anak

Disdik Aceh Barat Dinilai Membunuh Karakter Anak
Pertemuan di SDN 2 Meulaboh, DPRK dan Guru

Ayah dari Fahratu Zahira Afra (11) pemenang juara satu lomba tari dalam kegiatan lomba FL2SN di Aceh Barat, terus memprotes atas pembatalan juara yang dikeluarkan Dinas Pendidikan Aceh Barat secara sepihak, meski pertandingan tingkat provinsi untuk maju ke tingkat nasional telah usai, Sabtu kemarin.

Meulaboh | Kehadiran Dodi Gusnandar di Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Barat, Senin (5/8/2019) siang masih terbalut kesal atas pembatalan juara yang diperoleh tim anaknya pada Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FL2SN). Ia pun mengaku akan terus memprotes hingga pihak dinas mendapat sanksi atas tindakan tak profesional itu.

Disambut Ketua Komisi D DPRK Aceh Barat, Banta Lidan dan anggota komisi terkait. Dodi menceritakan apa yang menimpa anaknya sehingga harus menghadapi traumatis dan emosi tak berujung sampai dengan saat ini.

Penyebabnya, posisi pertama yang diperoleh anak kandungnya Fahratu (11) siswa Sekolah Dasar (SD) Negeri 2 Meulaboh bersama rekannya pada lomba dengan tema Tari Peucicap Aneuk, Selasa, 29 Juli 2019 lalu digeser menjadi nomor atau jura dua secara sepihak oleh Dinas Pendidikan Aceh Barat.

Akibatnya, persiapan tim dari SD N 2 Meulaboh untuk berangkat ke Banda Aceh mewakili Aceh Barat harus pupus, meski persiapan sudah sangat matang dari pihak sekolah untuk bertanding dengan daerah lain, Sabtu 3 Agustus 2019. Tapi apa daya, anak-anak tersebut harus pasrah menerima kenyataan karena tidak dekat dengan penguasa.

Begitupun, sebagai orang tua, Dodi tetap tidak terima dengan perlakuan tersebut. Bahkan walau mengadu ke DPRK Aceh Badar dan  tetap tidak ada titik temu, dia pun berencana membawa masalah ini ke ranah hukum. Tujuannya, agar permasalah ini tak berlarut dan terulang lagi di kemudian hari.

“Anak saya sudah mempersiapkan barangnya karena bahagia untuk ke Banda Aceh mengikuti lomba tari. Namun ketika mendapat kabar dari pihak sekolah tidak jadi berangkat, dia kemudian menanggis tidak berhenti, karena kecewa berbalut sakit hati,” kata Dodi kepada MODUSACEH.CO.

Dodi Gusnandar

Padahal, usai lomba pada Selasa pekan lalu, Dewan Juri sudah menetapkan perwakilan SD N 2 Meulaboh sebagai juara 1. Nah, pada Rabu besoknya, malah ada keputusan baru ditanda tangani Nuriyah, Kepala Bidang Pendidikan Dasar (PPTK) yang mengugurkan keputusan dewan juri sebelumnya.

Anehnya lagi, dewan juri dalam penetapan keputusan kedua berbeda dengan juri pada pelaksanaan lomba. Berdasarkan keterangan yang diperoleh media ini, dewan juri perlombaan tersebut walk out (keluar) karena ada panggilan dari Disdik Aceh Barat untuk merubah keputusan mereka.

Lalu, keputusan juri sebelumnya diprotes salah satu pemenang yang tidak terima SDN 2 Meulaboh menjadi juara satu.

Kembali pada curahan hati Dodi, dalam ruang kerja Ketua Komisi D DPRK Aceh Barat. Dirinya terus menceritakan dengan raut wajah yang berubah, kadang tampak sedih dan berganti marah.

Nada suaranya begitu tak karuan ketika membicarakan kejadian tersebut sembari menunjukan percakapannya dengan guru SDN 2 Meulaboh melalui pesan singkat WhatsApp saat mempertanyakan alasan.

“Keterangan dari pihak sekolah, para guru dipanggil pihak Disdik untuk menonton ulang video lomba tari itu. Hasilnya, malah dikeluarkan alasan bahwa anak kami tidak pantas memerankan tarian tersebut karena tidak sesuai dengan umur, dengan berat hati ya pihak sekolah menerima keputusan itu,” cetus Dodi.

Ketua Komisi D DPRK Aceh Barat, Banta Lidan

Tak cukup di sana, Dodi kemudian mendatangi Kantor Disdik Aceh Barat untuk mempertanyakan hal serupa kembali. Namun malah mendapat sambutan tak sedap yang membuat dia emosi dan menganggap aparatur negara tidak becus dan tak profesional dalam menjalankan tugas.

“Yang tidak bisa dirubah itu hanya Al–Quran dan Hadist, selain itu bisa dirubah semua,” kata Dodi meniru ucapan Kepala PPTK Nuriyah.

Tanpa pikir panjang, dirinya pulang ke rumah untuk rehat. Namun sifat anaknya mulai berubah serta menjadi negatif dan mulai mengeluarkan kata-kata kotor maupun cacian untuk tim yang mengantikan posisi mereka bertanding di Banda Aceh, Ibu Kota Provinsi Aceh.

“Fahratu sekarang sering berdoa yang bukan-bukan, saya takut sikapnya seperti itu akan terus berlanjut. Masa kecil yang harusnya dia ceria malah dihadapkan dengan kondisi seperti ini,” keluh Dodi.

Sekolah Memilih Diam Sebab Takut Dimutasi

Protesnya berlanjut dengan mengadu ke DRPK, pihak legislatif merespon apa yang menjadi aspirasi warganya. Banta Lidan,  Ketua Komisi D mengaku akan memanggil pihak Disdik untuk meminta klarifikasi atas keputusan tersebut.

DPRK menilai, Disdik Aceh Barat telah membuat keputusan ulang hasil ketetapan dewan juri itu, tidaklah profesional dan merusak citra Dinas Pendidikan sendiri. “Ini menunjukkan kualitas SDM di Disdik Aceh Barat tidak berkualitas dan profesional dalam menjalankan tugasnya, jika mereka profesional harusnya (pembatalan) ini tidak terjadi,” katanya.

Tak lama kemudian ia dan dua anggota DPRK lainnya, Eliana dan Masrijal mendatangi SDN 2 Meulaboh untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Hasilnya sangat mengejutkan, pihak sekolah terpaksa menerima dengan berat hati keputusan Disdik karena satu alasan pasti yakni ketakutan akan di mutasi oleh pemerintah. Nah, kalau begitu frontal beragumen dan melangsungkan protes. Tentu sangat disayangkan, padahal dana telah dikucurkan pihak sekolah untuk menyiapkan alat-alat untuk berlomba.

Alat peraga tari yang sudah dipersiapkan sekolah untuk lomba di Banda Aceh.

Dihadapan DPRK Aceh Barat, dewan guru SD Negeri 2 Meulaboh menyampaikan rasa khawatirnya dipindahkan dari sekolah itu ke pelosok desa, jika persoalan pembatalan ini dilakukan protes. Atas dasar tersebut para guru tadi, lebih memilih tidak memperpanjang persoalan pembatalan itu meski menerima keputusan dengan rasa kecewa.

Bahkan Kepala Sekolah SD itu, Junidar, sempat dihubungi orang yang tak dikenal agar tidak meributkan masalah tersebut, jika tidak mau berbuntut dimutasi ke daerah pelosok.

"Saya kemarin ditelepon orang yang saya tidak kenal. Dia bilang jangan diributkan lagi masalah itu, nanti takutnya bisa dipindah. Saya jadi khawatir, padahal saya baru saja disini sebelumnya dari sekolah percontohan dipindahkan ke Woyla," kata Junidar.

Junidar dan para dewan guru lainnya berharap, anggota DPRK bisa melindungi mereka dari isu mutasi tersebut, pasca komplain yang disampaikan wali murid ke media dan anggota dewan. Namun, para guru yang mengajar di sana akan siap berhenti mengajar apabila satu guru saja dimutasi pihak Dinas Pendidikan Aceh Barat.

“Satu orang dimutasi maka kami akan berhenti mengajar semua, kami sudah siap disini dengan segala risikonya, jika ada rekan satu orang saja yang berani dimutasi,” tegasnya.

Kepala SDN 2 Meulaboh, Junidar

Saat ini kondisi tiga siswanya tersebut terus merengek untuk pergi ke Banda Aceh, pihaknya terus berupaya untuk menenangkan mereka dan berjanji akan membawa siswanya untuk jalan-jalan ke sana agar kondisi psikologis mereka kembali normal seperti semula.

Keputusan itu, tentu akan berdampak negatif bagi peserta didik apalagi masih SD. Dia menilai, itu sama halnya dengan mengajarkan cara berbohong kepada anak, atas peristiwa pembatalan kemenangan siswa SDN 2 Meulaboh dalam kompetisi.

Ahli Psikologi, Diah Pratiwi, Psi menjelaskan. Tindakan dinas yang membatalkan kemenangan terhadap Fahratu dan rekannya Cut Putri Widya Weta dan Cut Putri Maulida, sama dengan mengajarkan si anak jika kemenangan tersebut bukan sesuatu yang mahal dan dapat dirubah begitu saja, sesuai keinginan orang tersebut.

Kondisi ini bahkan akan lebih mudah tergambarkan bagi si anak yang memiliki kepribadian introvert atau berkepribadian fokus pada pikiran, perasaan, yang berasal dari dalam diri sendiri.

“Anak introvert akan menilai sebuah kemenangan itu bukan sesuatu yang mahal karena bisa dirubah begitu saja oleh orang dewasa, dan keinginan orang dewasa tentang siapa yang ingin dimenangkan bukan karena kerja keras mereka. Ini sama dengan mengajarkan anak cara berbohong,” kata Diah Pratiwi.

Padahal kemenangan sesuatu yang sangat berharga, karena harus didapat melalui perjuangan dan proses yang panjang, bukan sesuatu yang bisa didapat sesuai keinginan orang lain yang bisa merubah ketika diinginkan.

Apa yang dilakukan Disdik Kabupaten Aceh Barat itu kata dia, sangat tidak bisa ditolerir karena tindakan tersebut telah membunuh karakter bagi anak-anak tersebut. Dan peristiwa ini sebutnya, tidak boleh terjadi.

Dari sisi psikis kata dia, banyak hal dan tekanan yang dihadapi oleh jiwa si anak terhadap karakter mereka. Misal, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya karakter diri anak, membunuh konsep diri anak, dan cara pandang anak.

Akibat lain, menghilangkan kepercayaan anak terhadap suatu kompetisi apalagi anak masih memiliki sifat yang polos. Bukan hanya anak, menurutnya orang dewasa pun akan berontak jika telah dinyatakan menang lalu dibatalkan tanpa adanya kecurangan.

“Ini aneh, kalau memang tidak layak kenapa tidak dari awal dan baru dibatalkan setelah pertandingan. Kalau memang dianggap tidak layak, ini kesalahan pada orang dewasa bukan malah si anak yang dikorbankan," ucap Wiwik.

Bagi Wiwik, apa yang dilakukan dinas tersebut sama dengan mempermalukan diri mereka sendiri, lantaran mengambil kebijakan di luar wewenang dinas ataupun panitia lomba.

Dalam setiap kompetisi, apa yang menjadi keputusan dewan juri merupakan sesuatu yang sifatnya mutlak dan tidak dapat diganggu gugat, apalagi dewan juri tersebut tidak hanya satu orang dan mereka masing-masing menilai dan hasil penilaian tersebut menjadi kesepakatan bersama untuk dimenangkan tentunya dengan berbagai bentuk yang dinilai dari setiap hal masuk dalam katagori penilaian.

"Apa yang dilakukan mereka (dinas) itu sama dengan memukul air didulang terpercik ke muka sendiri. Dinas sama dengan mempermalukan diri mereka atas peristiwa ini. Mereka bertanggung jawab penuh atas hal ini," ujarnya.

Itu sebabnya, dia meminta Disdik Aceh Barat meminta maaf kepada si anak dan mampu menjelaskan semua hal, tentunya dengan pola pikir anak. Jika hal tersebut tidak bisa dilakukan maka kata dia, sampai dewasa psikis anak akan terguncang dan meruntuhkan kepercayaan mereka terhadap lingkungan sekitar.

Sejauh ini MODUSACEH.CO belum memperoleh keterangan dari Dinas Pendidikan Aceh Barat. Kepala Dinas Ridwan Yahya. Saat dihubungi tidak menjawab panggilan dan malah merejeknya. Sementara pesan singkat yang dilayangkan belum juga mendapat balasan.***

Komentar

Loading...