Khutbah Idul Adha

Din Syamsuddin: Kekuatan Politik dan Uang Umat Islam Indonesia Berada di Pihak Lain 

Din Syamsuddin: Kekuatan Politik dan Uang Umat Islam Indonesia Berada di Pihak Lain 
Penulis
Rubrik

Bireuen | Ribuan masyarakat Bireuen berbondong-bondong mendatangi Masjid At-taqwa Muhammadiyah, Bireuen, untuk melaksanakan shalat Idul Adha 1438 H, Jumat, 1 Sepetember 2017.

Bertindak sebagai khatib di masjid itu Ketua Dewan Pembina MUI Pusat Prof Dr Din Syamsuddin.

Banyak nasehat yang disampaikan Prof Dr Din Syamsuddin dalam khutbahnya. Salah satunya kebenaran itu datang dari TuhanMu maka jangan menjadi orang yang ragu-ragu. Mari memberikan komitmen pada kebenaran agar menjadi seorang muslim yang hanif, bertekad berada di jalan yang lurus dan tidak bertentangan dengan nilai-nilai agama.

Di sisi lain dia juga menyinggung tentang kekuatan politik dan ekonomi di Indonesia, kekuatan politik dan ekonomi umat Islam katanya berada di pihak lain.

“The power of money, kekuatan uang berada di tangan pihak lain yang kemudian dapat mempengaruhi umat Islam  dan dipakai untuk membeli umat Islam. Sehingga dalam agenda-agenda politik tidak hanya umat Islam yang berada di lapis bawah, bahkan banyak tokoh-tokoh umat ini yang terpengaruh dan dapat dibeli,” ungkapnya.

Terangnya lebih dari lima puluh persen aset nasional dikuasi pihak lain, hanya satu persen aset itu dikuasi umat Islam. 

Nah, melalui momentum Idul Adha, Din Syamsuddin mengajak dan berpesan kepada umat Islam di Indoensia untuk bangkit kembali.

“Jadikan Idul Adha ini sebagai momentum bagi umat Islam di Indonesia untuk menyatakan kebesarannya, tidak hanya dalam jumlah bilangan dan juga dalam mutu dan kualitas,” sebutnya.

Selain itu Din Syamsuddin mengajak umat Islam agar kembali ke jalan kebenaran.

“Marilah kita kembali kepada agama yang bernar, marilah kita kembali pada al-hadis, kita kembali kepada ajaran tauhid. Kita adalah orang-orang yang berpegang teguh kepada kebenaran, mempunyai rasa kepada sesama termasuk terhadap non muslim yang mempunyai kenyakinannya sendiri,” ungkap profesor itu. Selama hubungan  dengan non muslim terjalin baik dan tidak ada dusta dalam pergaulan itu

”Nah, apalagi terhadap sesama muslim yang berbeda pendapat, berbeda organisasi namun kita tetap satu sebagai umat Nabi Muhammad SAW,” jelasnya.***

Komentar

Loading...