Breaking News

Din Minimi: The Untold Story

Din Minimi: The Untold Story
Sekarang, gerakan massa yang sangat kuat sedang dibangun. Mereka (gerakan massa ini) akan gunakan taktik yang berbeda. Bukan taktik Bolshevik, karena dunia telah berubah. Ini adalah sebuah era ketika senjata tidak lagi dapat menyelesaikan persoalan. Sebuah periode baru telah dimulai; kesadaran politik rakyat, kebutuhan sejarah, dan gagasan, yang mengubah dunia. (Fidel Castro Ruz, 2001)
***

SATU unit rumah sederhana di Gampong Ladang Baro, Kecamatan Julok, Aceh Timur, hingga pekan lalu masih ramai didatangi warga, wartawan serta tokoh sipil dan militer. Berbeda sebelumnya, jangankan untuk merapat, melintas saja pasti jadi masalah. Ini terkait status si pemilik yaitu Nurdin bin Ismail alias Din Minimi. Dia merupakan orang nomor wahid yang paling dicari aparat Kepolisian dari Polda Aceh atas berbagai perbuatan kriminal yang dilakukan sejak tahun 2014 lalu.
Hanya Kol. Inf Daniel Chardin (saat itu) Komandan Korem 011/Lilawangsa, yang berani datang ke sana. Begitupun, Senin, 28 Desember 2015 lalu, rumah itu kembali jadi buah bibir dan perhatian wartawan. Maklum, Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Letjen TNI (Purn) Sutiyoso, datang dan bermalam di rumah itu. Mantan Gubernur DKI Jakarta ini bertemu Din Minimi untuk kemudian berakhir dengan “damai”. “Din Minimi kita ajak untuk turun secara baik-baik,” begitu kata orang nomor satu di BIN tadi.
Seperti air mengalir, wajah Din Minimi menghiasi media pers cetak maupun elektronik. Din Minimi menyerah. Din Minimi akhirnya turun gunung! Begitulah kabar (berita) selama sepekan lalu. Seketika itu pula, muncul opsi pemberian amnesti (pengampunan) terhadap semua perbuatan kriminal yang pernah dilakukan Din Minimi beserta anak buahnya.
Keinginan itu disampaikan Kepala BIN, Sutiyoso. Padahal, menurut catatan Polda Aceh, sejak 2014 lalu, Din Minimi cs telah melakukan 14 tindakan/perbuatan melawan hukum. Mulai dari menggunakan senjata api ilegal, merampok hingga membunuh dua prajurit intelijen dari Kodim 0103/Aceh Utara. Disusul pula berbagai tanggapan pro dan kontra terhadap keinginan pemberian amnesti pada Din Minimi.
Dan, seakan tak peduli dengan semua itu, Din Minimi bahkan menggelar syukuran dengan menjamu 300-an anak yatim piatu. Termasuk menggelar dakwah Islam, yang dikaitkan dengan peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW.
***
Serupa tapi tak sama. Kisah Din Minimi mengingatkan saya pada jejak langkah Fidel Castro yang disambut sorak-sorai massa pada sebuah gereja di Harlem, New York, Amerika Serikat.
Butuh beberapa saat sebelum sorak-sorai itu mereda, dan Fidel tampil memulai orasinya diselingi gurauan hangat. Orang yang selama puluhan tahun telah digambarkan oleh pemerintah dan media massa di negeri tersebut sebagai “iblis”, tapi akhirnya disambut sebagai pahlawan oleh warganya.
Secuil cuplikan situasi itu bisa kita ditemukan dalam film dokumenter karya Estela Bravo, Fidel: The Untold Story. Film ini mengangkat satu kisah utuh tentang seorang Fidel Castro, dengan menghadirkan rekaman-rekaman ketokohannya pada saat yang istimewa. Ada juga serangkaian wawancara mengenai Fidel dengan orang-orang yang tak kalah istimewa: novelis penerima Nobel, Gabriel Garcia Marquez, penulis Alice Walker, artis Harry Belafonte, hingga bekas agen Central Intelligence Agency (CIA), Philip Agee.
Film ini mengajak kita untuk menelusuri 76 tahun perjalanan Fidel sebagai seorang revolusioner, penyinta sekian banyak bahaya dan upaya pembunuhan, “seorang sosialis yang bertahan di dunia kapitalis” dan sosok hangat, brilian dan penuh semangat. Film ini juga dapat menjadi referensi singkat untuk menelusuri jalannya revolusi di Kuba.
Ketika Fidel ke Havana untuk kuliah tahun 1945, situasi politik Kuba sedang memanas. Aksi-aksi protes mahasiswa marak melawan korupsi di pemerintahan Ramon Grau (1944-1948). Fidel segera tertarik masuk ke dalam atmosfir tersebut. Saat itu rakyat Kuba sudah melewati sejumlah fase perjuangan setelah merdeka dari Spanyol tahun 1902. Tapi, lama waktu merdeka tidak menjamin demokrasi dan keadilan di negeri tersebut. Havana masih menjadi pusat hiburan bagi banyak orang kaya Amerika. Perjudian, pelacuran, dan kriminalitas tinggi seiring dengan kemiskinan rakyat dan rasisme.
Sampai kemudian pemerintahan berganti dari Grau ke Carlos Prio Soccaras (1948-1952), aksi-aksi perlawanan tidak juga surut. Pemerintahan Carlos Prio mempersiapkan pemilihan umum yang sedianya akan dilakukan tahun 1953. Tapi, Jenderal Fulgencio Batista segera melihat gejala bahwa pemilu tersebut akan dimenangkan oleh Partai Ortodox yang cenderung radikal. Fidel sendiri bergabung ke partai ini. Belum sebagai seorang sosialis, melainkan seorang “nasionalis radikal yang mendamba keadilan sosial”.
Batista melancarkan kudeta terhadap pemerintahan Carlos Prio, tanggal 10 Maret 1952, dan mendirikan kediktatoran yang disebutnya “demokrasi berdisiplin”. Kenaikan Batista segera diikuti dengan represi-represi yang semakin brutal terhadap kelompok-kelompok yang menentangnya.
Bagi Fidel, saat itu tidak ada pilihan lain kecuali menghadapi rezim brutal tersebut dengan perjuangan bersenjata. Ia mulai mengorganisir latihan-latihan di Universitas Havana yang saat itu menjadi sentral pergerakan. Mereka yang terlibat dalam pelatihan ini datang dari berbagai latar belakang, terutama dari kalangan mahasiswa dan anggota Partai Ortodoks.
26 Juli 1953, Fidel dan kawan-kawan melancarkan serangan ke barak Moncada, markas militer terbesar kedua di Kuba. Serangan ini digagalkan oleh pasukan Batista. Sejumlah besar kawan Fidel gugur. Sebagian lagi ditangkap dan disiksa. Sementara Fidel ditangkap dan diadili di pengadilan Havana.
Di pengadilan ini, ia membuat pernyataan sebagai pledoi yang menjadi sangat terkenal. Martha Rojas, jurnalis yang meliput pengadilan tersebut mengisahkan kepada Estela Bravo: Di bagian akhir kesimpulan pembelaannya, Fidel menggebrak meja di depannya, kemudian berkata, “Silakan penjarakan saya. Tidak masalah. Sejarah akan membebaskan saya.” Para hakim dan orang-orang di pengadilan tertegun tanpa kata. Fidel kemudian berdiri dan berucap, “Baiklah, saya sudah selesai.” Kemudian berjalan meninggalkan ruang sidang.
Fidel dibebaskan dua tahun kemudian lewat amnesti umum setelah protes massa yang semakin marak. Dia bersama beberapa kawannya kemudian berangkat ke Mexico untuk mempersiapkan rencana baru menggulingkan diktator Batista. Penggalangan dukungan juga ia lakukan di kalangan imigran Kuba di AS. Mereka menyumbang materi dan dukungan lain untuk perjuangan Fidel dan kawan-kawan.
Di tahun 1956, Fidel telah berhasil membentuk kelompok kecil gerilyawan dan merasa siap untuk kembali ke Kuba. Nama gerakan penjatuhan Batista ini diambil dari tanggal peristiwa serangan barak Moncada, yakni “Gerakan 26 Juli”. Saat itulah datang dan bergabung seorang dokter muda asal Argentina yang kemudian menjadi kawan terbaiknya dalam revolusi: Ernesto Che Guevara.
Kepentingan keluarga Fidel sendiri tidak luput dari kebijakan ini. Ramon Castro, adik Fidel, menuturkan bahwa orangtuanya menyekolahkan Fidel di fakultas hukum dengan harapan ia dapat membela kepentingan keluarganya. Keluarga Castro sendiri pemilik lahan luas dan tergolong petani kaya. Ternyata sarjana hukum tersebut yang justru menandatangani kebijakan bagi-bagi lahan untuk petani miskin.
Ketegangan dengan AS semakin memuncak kala kebijakan Fidel dibalas AS dengan mengembargo perekonomian Kuba. Seluruh perusahaan AS, yang saat itu menguasai perekonomian Kuba, dinasionalisasi. Di saat-saat inilah Fidel mendeklarasikan sosialisme sebagai jalan bagi rakyat Kuba.
Sebagai negeri sosialis yang berada di ujung hidung negeri imperialis, tidak mudah bagi Kuba untuk menempatkan dirinya benar-benar independen dalam hubungan luar negerinya. Tapi, ini tidak mencegahnya untuk memberi solidaritas kepada negeri-negeri lain yang berjuang untuk pembebasan nasionalnya.
Atas komando Fidel, Kuba mengirimkan berbagai bantuan untuk Vietnam ketika menghadapi AS, kemudian mengirim 36.000 pasukan dan paramedis ke Afrika, membantu perlawanan rakyat Angola menghadapi kolonial Portugis yang didukung negeri-negeri imperialis lain.
Daya tahan revolusi Kuba diuji terutama setelah Uni Soviet runtuh tahun 1991. Pasokan bahan bakar menurun drastis, sehingga terjadi kelangkaan angkutan. Perekonomian secara umum pun mengalami penurunan. Ekspor turun sampai 50%, impor turun sampai 70%, dan pabrik-pabrik banyak yang tutup. Sejumlah warga yang tidak sanggup menghadapi situasi sulit ini memilih migrasi ke Amerika Serikat. Banyak di antaranya yang menggunakan perahu seadanya.
Kali ini Fidel kembali tampil menjadi penyemangat. Ia datang ke kampung-kampung rakyat dan secara langsung menyampaikan sikapnya terhadap situasi tersebut, seperti terliput berikut: Kita berada dalam situasi khusus, salah suatu periode yang paling sulit dalam sejarah kita. Kenapa? Karena kita sendirian (di dunia) melawan imperium. Jadi, apa yang dibutuhkan? Bersatu, berani, semangat patriotisme dan revolusioner. Hanya orang yang lemah, kaum pengecut, yang menyerah dan mundur ke perbudakan. Seorang yang terhormat, berani, seperti kita ini, tidak akan menyerah atau mundur ke perbudakan.
Banyak orang meramalkan bahwa sosialisme Kuba paling lama bertahan satu-dua tahun lantas akan ambruk menyusul Uni Soviet. Ternyata sampai detik ini revolusi Kuba masih bertahan. Kemajuan-kemajuan sosial yang telah diraih dalam sosialisme tidak pernah dikompromikan.
Film ini kaya dokumentasi langka; baik tentang kehidupan Fidel di masa lalu maupun yang terbaru, baik pertemuan-pertemuannya dengan tokoh-tokoh dunia maupun keakrabannya dengan kaum buruh, musisi, sampai anak-anak.
***
Kisah Fidel tentu tak sama dengan Din Minimi, baik dari motif maupun pola gerakan. Hanya saja, ada dua pesan yang sama. Pertama, keduanya bergelut dalam pusaran: high risk, high returns! Bermain pada risiko yang tinggi. karena itu wajar pula jika kemudian mendapat “keuntungan besar” baik politik, sosial maupun ekonomi.
Kedua, kisah mereka sangat misteri atau untold story, terutama tentang pertanyaan: mengapa Din Minimi harus dijemput Kepala BIN? Dan, haruskah Din Minimi cs mendapat amnesti (pengampunan) atas semua perbuatan kriminal yang dia lakukan?
Memang, risiko dapat dikatakan sebagai suatu peluang terjadinya kerugian atau kehancuran. Lebih luas, dapat diartikan sebagai kemungkinan terjadinya hasil yang tidak diinginkan atau berlawanan dari yang diinginkan.
Dalam industri keuangan umumnya, terdapat suatu jargon “high risk brings about high return”. Artinya, jika ingin memperoleh hasil yang lebih besar, maka berhadapanlah dengan risiko yang lebih besar pula.
Lazim terjadi, risk and return adalah kondisi yang dialami oleh perusahaan, institusi, dan individu dalam keputusan investasi, baik kerugian maupun keuntungan dalam suatu periode akuntansi. Tapi, bagi daerah seperti Aceh, strategi ini juga sangat jitu terjadi dan dilakukan banyak pihak yang berkepentingan. Sebab, hubungan antara risiko dengan tingkat pengembalian tetap saja bersifat linear atau searah. Itu sebabnya, semakin besar aset yang kita tempatkan dalam keputusan investasi maka semakin besar pula risiko yang timbul dari investasi tersebut. Karena itu, kondisi linear hanya mungkin terjadi pada pasar yang bersifat normal.
Paul L Krugman dan Maurice Obstfeld, ahli manajemen pemasaran berpendapat, seorang investor yang netral terhadap risiko cenderung mengambil posisi agresif maksimum. Sebab, dia akan membeli sebanyak mungkin aset yang menjanjikan hasil tinggi dan menjual sebanyak mungkin aset yang hasilnya lebih rendah. Nah, dalam konteks Din Minimi, perilaku inilah yang terjadi, ada pihak yang telah menciptakan “kondisi suku bunga” tinggi bagi jabatan, pangkat serta modal atau uang.***
"Pileg dan Pilpres 2019" - tentukan pilihan Anda! -

Komentar

Loading...