Breaking News

Kasus Sengketa Tanah Masyarakat

Dilapor Tahun 2015 ke Polisi, Hingga 2019 Belum Ada Tindak Lanjut

Dilapor Tahun 2015 ke Polisi, Hingga 2019 Belum Ada Tindak Lanjut

Meulaboh | Edi Wanda (38) mengaku kecewa. Maklum, laporannya kepada Polres Aceh Barat sejak tahun 2015, Nomor BL/159/IX/2015/ACEH/RES ABAR/SPKT, hingga kini belum ada tindak lanjut dan titik terang. Laporan Edi tadi terkait masalah sengketa tanah yakni adanya akte tanah ganda.

Pada media ini, Edi menjelaskan. Tahun 2004 telah terjadi dugaan pemalsuan dokumen akte tanah yang dilakukan terlapor Atas Nama (AN) M Yusuf. Menurut Edi,  terlapor telah mengakui tanah tersebut miliknya dengan menggunakan akta tanah ganda. Lalu, dia  menggugat ke pengadilan dengan akta tanah AN Chairuddin No 28/KW/1993 luas tanah 100 M X 75 M (7.500 M2).

Pada tahap pembuktian, diajukan akta tanah tersebut tertanggal 30 Juni 1993 dengan luas 66 M X 70 M (6.875 M2) dan terlapor menggunakana akta tanah No 18/KW/1993, tanggal serupa yang digunakan sebagai dasar untuk pembuatan sertifikat yang masih dalam proses saat itu.

Selanjutnya, pelapor meminta pembuktian akta No 28 karena sudah dipidana dengan Nomor Dakwaaan PDM : PDM_13/MBO/4/2014. Kemudian ada satu lagi saksi dalam perkara tersebut yakni Marsidah. Ironisnya, kesaksian Marsidah dituding telah memberi kesaksian palsu di pengadilan.

Alasannya, sertifikat tanah yang dimiliki Edi Wanda di Gampong Ranto Panyang Timur, Kecamatan Mereubo, Kabupaten Aceh Barat. Sementara pelapor sendiri mengakui dan memiliki bukti bahwa tanahnya terletak di kawasan Gampong Gunong Kleng daerah setempat. Kejadian ini membuat pelapor merasa dirugikan dan melaporkan ke Polres Aceh Barat untuk pengusutan lebih lanjut.

Saat itu, laporan tadi diterima Kanit SPKT Regu C Ipda M Yamin. Tanggal 01 September 2015, Edi Wanda kembali menerima surat dari pihak kepolisian tentang Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penelitian Laporan. Itulah masa terakhir pelapor memperoleh kabar tentang laporannya. Sebab, hingga memasuki pertengahan tahun 2019, ia masih belum mendapat tindak lanjut dari laporannya itu. Saat itu jabatan Kasat Reskrim diduduki AKP Haris Kurniawan.

Kepada MODUSACEH.CO, Edi Wanda mengaku heran dengan nasib laporannya tadi, yang sudah begitu lama diajukan namun belum juga tuntas hingga saat ini. Sehingga dirinya merasa ada hal yang aneh. “Kalau seandainya di Surat Perintah Pemberhentian Penyidikan (SP3) pasti saya bakal terima surat itu, namun sampai sekarang tidak ada, entah sudah sejauhmana ditindaklanjuti saya tidak tahu,” ungkap Edi, Rabu (24/7/2019).

Singkatnya kata dia, gandanya akta tanah itu diduga ada permainan dari oknum tertentu. Sayangnya akta dan sertifikat yang dimilikinya untuk menggugatke Pengadilan Negeri Meulaboh tahun 2004, sudah tidak ada lagi akibat musibah Tsunami, 26 Desember 2004, sehingga perkara itu diberhentikan.  Dan, pengadilan setempat mengeluarkan putusan pada tahun 2008, Edi pun kalah dengan segala bukti yang dimiliki.

Diakui Edi, tanah itu didapatkan dari pemilik pertama yang sudah mengadaikan pada salah satu bank untuk pengambilan modal. Namun karena tidak mampu membayar, dirinya kemudian menembus tanah tersebut dengan perjanjian tanah itu menjadi miliknya. Sehingga sesudah ditebus maka digadaikan kembali pada bank untuk modal usaha.

“Pada tahun 2012 saya menebus kembali sertifikat tanah itu dan mengajukan balik nama ke Badan Pertanahan Nasional Aceh Barat, namun BPN tidak bisa karena tanah ini berkasus, sementara sampai saat ini PBB masih ditagih oleh Pemda Aceh Barat pada diri saya," ujarnya.

Dia berharap, pihak kepolisian dapat terbuka dan bisa menindaklanjuti laporannya tentang sengketa tanah tersebut, agar mendapatkan titik terang sehingga permasalahan ini tidak berlarut. Ia pun merasa rugi besar setelah menebus tanah itu namun tidak bisa menggarapnya. “Semua bukti sudah saya serahkan kepada penyidik, tapi masih saja belum ada tindaklanjut,” terangnya.

Dan, sampai kini, MODUSACEH.CO belum memperoleh keterangan lebih lanjut tentang penyebab hambatan dalam tindak lanjut perkara tersebut.***

Komentar

Loading...