KPK Sita Bukti di Rumah Nizarli

Diduga, Selain Terima Fee DOKA 2018, Irwandi Yusuf Juga Terima Fee Lain

Diduga, Selain Terima Fee DOKA 2018, Irwandi Yusuf Juga Terima Fee Lain
indopos
Penulis
Rubrik

Banda Aceh | Ternyata, penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah menggeledah rumah Kepala ULP Aceh, Nizarli yang kini sudah mengundurkan diri. Dalam operasi senyap KPK di Aceh ini, Rabu 15 Agustus 2018.  Penyidik KPK juga berhasil menyita barang bukti (BB) elektronik berupa telpon genggam, DVD serta dokumen lainnya. KPK meyakini, Gubernur Aceh Irwandi Yusuf juga menerima fee, selain fee dari DOKA 2018.

“Kemarin, Selasa 15 Agustus 2018 dilakukan penggeledahan di dua titik di Banda Aceh, yaitu rumah salah satu saksi ULP Aceh dan kantor perusahaan konstruksi. Penyidik menyita barang bukti elektronik seperti HP dan DVD serta dokumen lainnya,” jelas Jubir KPK Febri Diansyah pada media ini, Kamis (16/8/18) siang.

20180816-20180710-rumah-nizarli_1

Menurut Febri, bukti-bukti tersebut semakin memperkuat penanganan perkara yang sedang berjalan. “Kami menemukan indikasi penerimaan lain pada tersangka (Irwandi Yusuf) dan akan didalami juga indikasi berupa arahan-arahan agar dilakukan penyetoran uang pada tersangka,” terang Febri.

Selain itu, kata Febri, KPK terus melakukan pengembangan kasus ini. “Hari ini, Kamis 16 Agustus 2018 dilakukan pemeriksaan sekitar 14 saksi di Ditkrimsus Polda Aceh. Sejak, Senin hingga Rabu, sekitar 40 saksi telah diperiksa,” ungkapnya.

Sebelumnya, KPK telah memeriksa 29 saksi selama Senin dan Selasa (13-14/8/18). Para saksi diperiksa terkait status tersangka Gubernur Aceh non aktif Irwandi Yusuf, di Gedung Dirkrimsus Polda Aceh, Lingke, Banda Aceh.

KPK juga telah mencekal berpergian ke luar negeri beberapa saksi dalam kasus ini. Diantaranya, mantan Kadis PUPR Aceh, Rizal Aswandi, Kepala ULP Aceh, Nizarli, Staf Ahli Gubernur Aceh, Steffy Burase dan seorang swasta T. Fidlilatul Amri.

Dalam kasus ini, Irwandi selaku Gubernur Aceh diduga menerima suap sebesar Rp 500 juta dari Bupati Bener Meriah, Ahmadi, yang kemudian terungkap dari OTT. Penyerahan uang itu diduga dilakukan melalui dua orang swasta bernama Syaiful Bahri dan Hendri Yuzal.

Ahmadi diduga memberikan uang itu sebagai ijon proyek pembangunan infrastruktur yang bersumber dari DOKA Tahun Anggaran 2018. Namun praktik rasuah ini terungkap dari tangkap tangan yang dilakukan oleh KPK pada Selasa (4/7) malam. Dalam OTT itu, KPK mengamankan sekitar 9 orang, termasuk Ahmadi dan Irwandi. Selain itu, KPK juga berhasil menyita sejumlah bukti berupa uang senilai Rp 50 juta, bukti transaksi perbankan, serta catatan proyek.

KPK kemudian menetapkan 4 orang sebagai tersangka. Irwandi bersama Syaiful Bahri dan Hendri Yuzal ditetapkan sebagai pihak yang diduga menerima suap. Sementara Ahmadi ditetapkan sebagai pihak yang diduga memberikan suap.***

"Pileg dan Pilpres 2019" - yuk ikutan polling-nya! -

Komentar

Loading...