Dibalik Laporan Pelecehan Seksual YARA di Polda Aceh

Diduga, Pelakunya Bupati Aceh Jaya Irfan TB

Diduga, Pelakunya Bupati Aceh Jaya Irfan TB
Bupati Aceh Jaya, Drs. HT Irfan TB (Foto: rri.co.id)
Rubrik

Banda Aceh | Potret buram, pelaku pelecehan seksual terhadap N (21), yang dilaporkan Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA), pada Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Dit. Reskrimsus) Polda Aceh, Kamis, 1 Agustus 2019 lalu di Banda Aceh, mulai mendapat titik terang.

Ternyata, perbuatan tak senonoh itu dilakukan I, seorang pejabat di Kabupaten Aceh Jaya. Diduga, inisial I adalah Bupati Aceh Jaya, Drs. HT Irfan TB. Begitupun, untuk memastikan dugaan tersebut, media ini melakukan konfirmasi langsung pada Irfan Tb melalui telpon seluler dan pesan singkat WhatsApp (WA) sejak dua hari lalu. Namun, hingga Senin siang (5/8/2019), tak menjawab dan berbalas.

Sumber media ini di Pemkab Aceh Jaya dan Polda Aceh memastikan, pejabat inisial I tadi adalah Irfan TB. “Kabarnya, sejak Sabtu pekan lalu, Pak Bupati ada di Banda Aceh, bertemu dengan pejabat di Polda Aceh. Tapi, kami tak tahu agenda apa dari pertemuan tersebut,” ungkap sumber tadi.

Kabid Humas Polda Aceh Kombes Pol Ery Apriyono dan Dir. Reskrimsus Polda Aceh Kombes Pol T. Saladin juga belum berhasil diminta keterangan, terkait tindaklanjut dari proses hukum terhadap I, sesuai laporan YARA. Dihubungi melalui telpon seluler, kedua pejabat di Polda Aceh ini tidak mengangkatnya. Begitu juga pesan yang terkirim, belum juga berbalas.

Sekedar mengulang, YARA melaporkan salah seorang pejabat di Aceh Jaya berinisial I, ke Polda Aceh terkait dugaan pelecehan seksual yang dialami korban berinisial N (21). Korban melapor kasus tersebut didampingi tim kuasa hukumya dari Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA).

Korban telah membuat laporan pada 15 Juli 2019 lalu dengan Nomor Laporan Pengaduan Nomor : Reg/138/VII/RES.2.5/2019/Subdit II Tipid PPUC/Ditreskrimsus dan, Kamis (1/8/2019), dilakukan pemeriksaan terhadap korban di Dit. Reskrimsus Polda Aceh.

Menurut informasi kasus dugaan pelecehan seksual tersebut, telah terjadi pada bulan Agustus 2018 lalu. Ceritanya, saat itu menurut laporan Terlapor menjemput korban dan mengajak korban untuk jalan-jalan menggunakan mobil pribadinya ke Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) Aceh Besar.

Di lokasi kejadian parkiran bandara Terlapor menyuruh korban untuk membuka celana Terlapor. Dikarenakan Pelapor tidak mau membuka celana Terlapor, lalu Terlapor membuka sendiri dan menampakkan alat kelaminnya kepada Pelapor dan memaksa Pelapor untuk memegang alat kelamin Terlapor.

Kemudian, petugas bandara yang sedang patroli di parkiran datang, sehingga Terlapor panik dan menyuruh Pelapor untuk turun dari mobil. Pelapor keluar dari bandara dengan berjalan kaki dan langsung menghubungi seorang teman untuk menjemputnya di luar bandara.

Tidak hanya itu, kelakuan bejat terduga ini berlanjut dua minggu kemudian. Saat itu terlapor menghubungi korban melalui Video Call WhatsApp. Terduga memperlihatkan alat kelaminnya sambil melakukan (maaf) onani d kamar mandi, sambil memperlihatkan secara langsung kepada korban.

Tidak hanya sekali, kelakuan seperti itu juga dilampiaskan terduga beberapa minggu kemudian. Namun saat itu korban langsung melakukan screen shot. Terlapor terus melakukan video call itu untuk ke sekian kalinya namun pelapor sudah tidak menggubris atau menolak panggilan masuk video call itu.

“Atas kejadian tersebut, saya merasa dilecehkan dan dirugikan sehingga saya melapor ke Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Aceh,” ujar N pada awak media pers, saat ditemui di Mapolda Aceh.

Dalam surat tanda laporan tersebut juga disebutkan, Terlapor yakni I dalam penyelidikan. Surat laporan tersebut pun ditandatangani oleh Penyidik Pembantu yakni Brigadir Dicky Yulian.

Dalam proses BAP hari itu, Pelapor didampingi tim kuasa hukumya dari YARA dan pendampingan saat pemeriksaan didampingi Mila Kesuma, Kabid Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) di YARA.

Ketua YARA, Safaruddin yang juga hadir di Polda Aceh menyampaikan, kegiatan hari itu adalah pemeriksaan keterangan dari Saksi Korban (Pelapor) dan proses ini masih dalam proses penyelidikan Polda Aceh. “Kegiatan hari ini adalah pemeriksaan keterangan dari Saksi Korban (Pelapor) dan proses ini masih dalam proses lidik Dit Reskrimsus Polda Aceh,” kata Safaruddin.

Lepas dari adanya laporan tadi, tentu azas praduga tak bersalah tetap dikedepankan. Itu sebabnya, Wakil Ketua I DPRK Aceh Jaya T Asrizal mengaku prihatin atas kejadian tersebut. Menurutnya, DPRK tetap menganut azas praduga tidak bersalah, terkait kasus dugaan pelecehan seksual yang merupakan kasus delik aduan ini.

"Kalau kita prihatin atas informasi yang beredar yang kini menjadi konsumsi publik, tapi kita juga tetap menganut praduga tidak bersalah," jelasnya pada medi pers di Aceh Jaya.

Dia menambahkan, DPRK juga membentuk Pansus untuk menyelesaikan kasus dan informasi yang sekarang beredar. "Waktu kita tidak lama lagi (periode DPRK lama) jadi belum bisa, kita tunggu DPRK baru nanti," jelasnya.***

Komentar

Loading...