Kebun Sawit PT. Dwi Kencana Semesta Beralih Kepemilikan

Diduga, Mantan Manager Lapangan Hasanuddin Kuasai Dana Secara Tidak Sah

Diduga, Mantan Manager Lapangan Hasanuddin Kuasai Dana Secara Tidak Sah
dok.MODUSACEH.CO
Rubrik

IDI | Sejak dinyatakan pailit, perkebunan kepala sawit PT. Dwi Kencana Semesta di IDI, Kabupaten Aceh Timur, telah beralih kepemilikan, menjadi milik PT. Makmur Inti Bersaudara. Ini sesuai dengan Surat Penetapan Pengadilan Negeri Kelas 1-A Medan No.06/Pdt.Sus-Pailit/PN Niaga Medan, tanggal 21 Maret 2018.

Itu sebabnya, sejak pengalihan kepemilikan tadi, maka seluruh aset dan tata kelola kebun, sepenuhnya menjadi hak dan milik PT. Makmur Inti Bersaudara. "Sejak menerima surat penetapan Pengadilan Negeri Kelas 1-A Medan, 21 Maret 2018, perusahaan perkebunan Sawit PT. Dwi Kencana Semesta sudah beralih kepemilikan kepada PT. Makmur Inti Bersaudara," tegas Alexander Leonardo Siagian, perwakilan PT. Makmur Inti Bersaudara pada media ini, Kamis, 12 April 2018 di ruang kerjanya.

Menurut Alex, adapun aset PT. Dwi Kencana Semesta yang telah menjadi kepemilikan PT. Makmur Inti Bersaudara berupa tiga bidang tanah/kebun sawit dalam satu hamparan/satu kesatuan, berikut bangunan beserta sarana dan prasarana lainnya/segala sesuatu yang berada di atasnya.

Selain itu, Sertifikat Hak Guna Usaha (SHGU) Nomor: 98/Desa Alue Minyeuk/Alue Muedang dan SHGU No 100/Desa Jambo Reuhat dan Seunebok Bayu yang dijaminkan kepada PT Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk, serta SHGU No 144/Desa Seunebok Bayu yang berlokasi di Aceh Timur, dengan total luas 6.775,99 Ha, sudah terjual kepada PT Makmur Inti Bersaudara sejak 21 Maret 2018. “PT Makmur Inti Bersaudara, merupakan pembeli dan penawar dengan harga terbaik yang terpilih," terang Alex.

Karena itu, segala wewenang penjagaan, pengelolaan dan pemeliharaan atas nama aset PT. Dwi Kencana Semesta, beralih kepada PT. Makmur Inti Bersaudara sebagai pemilik baru yang sah, "tegas Alex. Begitupun, saat penataan manajemen baru oleh PT Makmur Inti Bersaudara, terkesan ada usaha untuk menghalang-halangi dari Hasanuddin, manager lama PT. Dwi Kencana Semesta. Misal, mengelola hasil kebun secara sepihak dan pengelolaan keuangan yang tidak jelas. Padahal, seluruh pertanggungjawaban atas keuangan dari hasil penjualan sebelum peralihan, tanggal 21 Maret 2018, tentu saja menjadi tanggungan jawab Hasanuddin selaku pihak yg memperjualbelikan tandan buah segar (TBS) milik PT Dwi Kencana Semesta.

“Begitu juga dengan pertanggung jawaban atas uang-uang dari hasil penjualan, ditransfer kemana saja? Itu juga menjadi tanggung jawab saudara Hasanuddin,” kejar Alex. Alasannya, kemana saja dana atau pemasukan yang bertahun-tahun dan mencapai miliaran rupiah hingga 21 Maret 2018. Semua itu menjadi tanggung jawab saudara Hasanuddin,” tegas Alex. Alasan Alex memang sangat masuk akal. Sebab, luas tanaman perusahaan DKS mencapai 1.750 hektar yang sudah berbuah atau panen. Secara hitungan pasar atau menurut para pemilik kebun sawit, maka pendapatan per bulannya dari kebun seluas 1.750, bisa mencapai  ratusan juta. “Tinggal dikali tujuh tahun kredit DKS yang macet di Bank BNI,” ulas Alex.

Yang jadi tanda tanya adalah, kemana semua uang hasil kebun tersebut? Apakah Bank BNI turut menikmati hasil kebun PT.DKS selama kredit macet? Atau hanya dinikmati keluarga Hasanudin dan eks pemilik, yang menerima hasil bersihnya setelah dipotong biaya operasional dan gaji karyawan? Termasuk, apakah selama tujuh tahun beroperasi, PT Dwi Kencana Semesta ada membayar pajak pada Kantor Pelayanan Pajak (KPP) di IDI, Aceh Timur. Bahkan, disinyalir, ada aliran dana kepada pemilik lama melalui nomor rekening pribadi Hasanuddin.

 Nah, atas berbagai tanda tanya besar tadi, Hasanuddin yang dihubungi MODUSACEH.CO tak memberi penjelasan banyak. Dia mengakui jika perkebunan PT DKS telah beralih pada PT Makmur Inti Bersaudara. “Memang betul Pak, tapi kami tak bisa menjelaskan melalui handphone. Kalau bapak mau tahu lebih banyak, datang saja ke IDI,” kata Hasanuddin.***

"Pileg dan Pilpres 2019" - tentukan pilihan Anda! -

Komentar

Loading...