Iklan Ucapan Selamat Puasa Ramadhan
Iklan TRH sambut Puasa Ramadhan 1439

Diduga Dianiaya Oknum Polisi Polres Aceh Utara, Nurdin Lapor YARA

Diduga Dianiaya Oknum Polisi Polres Aceh Utara, Nurdin Lapor YARA
YARA

Aceh Utara | Nurdin AB, (40), Warga Gampong Tanjong Beurunyong, Kecamatan Paya Bakong, Aceh Utara, mengaku diciduk serta dianiaya oknum polisi dari Polres Aceh Utara. Pengakuan itu disampaikan Nurdin, saat Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA), mengunjungi Nurdin di kediamannya, Gampong Tanjong Beurunyong, Paya Bakong, Aceh Utara, Kamis (23/03/17), dua pekan lalu.

Dari pengakuan Nurdin, dia merasa heran kenapa dirinya tiba-tiba ditangkap, tanpa diperlihatkan surat panggilan maupun surat perintah dari Polres Aceh Utara, dan langsung di bawa ke Mapolres dengan tangan di borgol. Yang ada sambung Nurdin, lahannya terkena pembangunan Waduk Kerto, Paya Bakong, Aceh Utara. Namun dia tidak mau menerima ganti rugi atas harga, yang dianggapnya murah atau Rp 6000 per meter, padahal yang dijanjikan perusahaan pekerjaan proyek itu harga per meter mencapai Rp 11 ribu.

Masih pengakuan Nurdin, setelah tiba di Polres Aceh Utara, dirinya dianiaya sejumlah oknum polisi dengan pukulan di kepala dan perut. Nurdin juga di paksa untuk memegang senjata api, yang disodorkan salah seorang oknum polisi Polres  Aceh Utara, sebagai upaya menakut-nakuti Nurdin untuk menandatangani surat pernyataan, yang isinya ganti rugi lahannya yang terkena pembangunan Waduk Kerto dengan harga Rp 6.000 per meter. karena tidak tahan di siksa, Nurdin akhirnya menandatangani pembayaran harga Rp 6.000 per meter, yang kemudian hanya diterima Rp  5.000 per meter.

Ketua YARA Safaruddin menyesalkan pembebasan lahan pembangunan Waduk Kerto, Paya Bakong, Aceh Utara, dengan menggunakan aparat kepolisian sebagai upaya menekan dan menyiksa warga. Pada MODUSACEH.CO, ia mengaku akan mengambil langkah-langkah hukum atas tindakan oknum polisi tersebut. Namun dirinya masih berkoordinasi dengan anggotanya, terkait kemana akan dilaporkan kasus itu. "Kita akan laporkan kasus ini ke Polda atau kemana, masih kita kaji dulu dengan anggota, termasuk perusahaan yang yang mengerjakan proyek itu, akan kami laporkan pada Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI," ungkap Safaruddin di Banda Aceh, Selasa (04/04/17).

Kapolres Aceh Utara, AKBP Ir. Ahmad Untung Surianata yang akrab disapa Untung Sangaji, menyangkal semua pengakuan Nurdin kepada YARA. Sambung Untung Sangaji, Nurdin tidaklah ditangkap dan siksa, tapi hanya dipanggil ke Kapolres untuk mengklarifikasi, karena Nurdin mengancam pekerja yang sedang membangun Waduk Kerto, di Paya Bakong, Aceh Utara.

"Tidak ada itu penyiksaan, yang ada kita panggil kenapa mengancam orang yang berkerja, karena orang yang berkerja tidak tahu apa-apa. Jadi kalau sudah mengancam bisa kita pidana, tapi tidak usahlah kita pidana, karena tidak usah kita ribut-ribut lagi, sudah cukup konflik kita rasakan. Jadi saya tegaskan tidak ditangkap, hanya dipanggil, selesai kita minta klarifikasi, kita suruh Nurdin kembali ke rumah", ujar Untung Sangaji melalui telepon seluler pada MODUSACEH.CO, Selasa, (04/04/17).

Masih kata Untung Sangaji, sesungguhnya tanah yang terkena pembangunan Waduk Kerto, bukanlah tanah warga, mengingat tidak ada surat yang bisa ditunjukkan. Namun lanjut Untung Sangaji uang yang diberikan kepada warga yang terkena pembangunan Waduk Kerto, murni dari kantongnya pribadi.

"Bukan saya sombong, itu uang yang saya kasih sama warga, murni dari kantong pribadi saya. Itukan sedekah, seberapa ikhlas saya bersedekah, jadi jangan dipaksa-paksa orang yang bersedekah. Bukan Nurdin saja yang kita bayar, tapi banyak warga lain, tapi warga yang lain tidak protes, hanya Nurdin saja yang protes",  jelas Untung Sangaji.

Mengenai ancaman YARA akan melaporkan pihaknya ke  Polda Aceh, Untung Sangaji mempersilahkan saja. "Silahkan lapor, jangankan sama Kapolda, sama Gubernur juga boleh. Saya hanya menjalankan tugas, apalagi pembangunan ini dari pemerintah, yang harus saya lindungi, ketika ada seperti ini, pembangunan akan macet, dan akan mengganggu pembangunan Aceh secara umum", ungkap Untung Sangaji.***

Komentar

Loading...