Iklan Ucapan Selamat Puasa Ramadhan
Iklan TRH sambut Puasa Ramadhan 1439

Dibalik Penetapan Hasanuddin Sebagai Tersangka

Diduga dan Benarkah Ada Aliran Dana Kepada Razali dan Boy

Diduga dan Benarkah Ada Aliran Dana Kepada Razali dan Boy
Razali Rohimun (Foto: Dok. MODUSACEH.CO)

Aceh Timur | Penetapan Hasanuddin (41), mantan manager PT. Dwi Kencana Semesta (DKS) di IDI, Kabupaten Aceh Timur, mengundang sejumlah tanda tanya. Terutama soal aliran dana dari hasil produksi (panen) tandan buah segar (TBS) sawit di perusahaan tersebut.

Betapa tidak, sejak beroperasi beberapa tahun lalu, kondisi keuangan perusahaan ini dinyatakan kembang kembis, sehingga kewajibannya pada BNI menjadi macet. Akibatnya, kebun sawit ini disita untuk negara dan di lelang.

Menariknya, saat setoran kredit macet, bahkan sudah disita dan lelang, perusahaan milik Razali Rohimun asal Medan, Sumatera Utara ini, melalui manager lapangannya, Hasanuddin justeru terus beroperasi. Tragisnya, praktik tak elok ini terus terjadi walau kebun sawit tersebut sudah berganti kepemilikkan. Buktinya, mantan manager Hasanuddin, terus menikmati dan mengelola hasil kebun tersebut, hingga akhirnya dia ditangkap dan ditetapkan sebagai tersangka oleh Polres Aceh Timur.

Yang jadi soal adalah, benarkah Hasanuddin menikmati sendiri dana segar dari operasinya itu. Atau ada mengalir kepada Razali Rohimun bahkan Boy Hermansyah, yang disebut-sebut sebagai kongsi usaha Razali Logikanya sangat sederhana. Pertama, walau kebun tadi terus berproduksi, namun pemiliknya tidak menjalankan kewajiban atau menyetor kreditnya pada BNI. Kedua, diduga dalam banyak kesepakatan usaha atau bisnis, Hasanuddin sering mewakili direksi untuk membuat atau mengikat perjanjian dengan pihak kedua dan ketiga. Ini artinya, antara pemilik Razali R dan Hasanuddin tetap terjalin komunikasi.

Itu sebabnya dan patut diduga, walau kebun telah disita dan lelang serta berganti kepemilikan, Hasanuddin tetap mengarapnya hingga tertangkap. Sekali lagi, benarkah Hasanuddin bekerja sendiri? Atau ada aktor besar dibalik semua ini? Nah, tugas aparat kepolisianlah untuk mengungkapkannya.

Memang, sejak dinyatakan pailit, perkebunan kepala sawit PT. Dwi Kencana Semesta di IDI, Kabupaten Aceh Timur, telah beralih kepemilikan, menjadi milik PT. Makmur Inti Bersaudara. Ini sesuai dengan Surat Penetapan Pengadilan Negeri Kelas 1-A Medan No.06/Pdt.Sus-Pailit/PN Niaga Medan, tanggal 21 Maret 2018.

Itu sebabnya, sejak pengalihan kepemilikan tadi, maka seluruh aset dan tata kelola kebun, sepenuhnya menjadi hak dan milik PT. Makmur Inti Bersaudara. "Sejak menerima surat penetapan Pengadilan Negeri Kelas 1-A Medan, 21 Maret 2018, perusahaan perkebunan Sawit PT. Dwi Kencana Semesta sudah beralih kepemilikan kepada PT. Makmur Inti Bersaudara," tegas Alexander Leonardo Siagian, perwakilan PT. Makmur Inti Bersaudara pada media ini, Kamis, 12 April 2018 di ruang kerjanya.

20180517-surat-sawit-di-idi-aceh-timur

Menurut Alex, adapun aset PT. Dwi Kencana Semesta yang telah menjadi kepemilikan PT. Makmur Inti Bersaudara berupa tiga bidang tanah/kebun sawit dalam satu hamparan/satu kesatuan, berikut bangunan beserta sarana dan prasarana lainnya/segala sesuatu yang berada di atasnya.

Selain itu, Sertifikat Hak Guna Usaha (SHGU) Nomor: 98/Desa Alue Minyeuk/Alue Muedang dan SHGU No 100/Desa Jambo Reuhat dan Seunebok Bayu yang dijaminkan kepada PT Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk, serta SHGU No 144/Desa Seunebok Bayu yang berlokasi di Aceh Timur, dengan total luas 6.775,99 Ha, sudah terjual kepada PT Makmur Inti Bersaudara sejak 21 Maret 2018. “PT Makmur Inti Bersaudara, merupakan pembeli dan penawar dengan harga terbaik yang terpilih," terang Alex.

Karena itu, segala wewenang penjagaan, pengelolaan dan pemeliharaan atas nama aset PT. Dwi Kencana Semesta, beralih kepada PT. Makmur Inti Bersaudara sebagai pemilik baru yang sah," tegas Alex. Begitupun, saat penataan manajemen baru oleh PT Makmur Inti Bersaudara, terkesan ada usaha untuk menghalang-halangi dari Hasanuddin, manager lama PT. Dwi Kencana Semesta.

Misal, mengelola hasil kebun secara sepihak dan pengelolaan keuangan yang tidak jelas.  Padahal, seluruh pertanggungjawaban atas keuangan dari hasil penjualan sebelum peralihan, tanggal 21 Maret 2018, tentu saja menjadi tanggungan jawab Hasanuddin selaku pihak yg memperjualbelikan tandan buah segar (TBS) milik PT Dwi Kencana Semesta.

“Begitu juga dengan pertanggung jawaban atas uang-uang dari hasil penjualan, ditransfer kemana saja? Itu juga menjadi tanggung jawab saudara Hasanuddin,” kejar Alex.  Alasannya, kemana saja dana atau pemasukan yang bertahun-tahun dan mencapai miliaran rupiah hingga 21 Maret 2018. Semua itu menjadi tanggung jawab saudara Hasanuddin,” tegas Alex.

20180517-hasanuddin

Hasanuddin

Menurut Alex, sangat masuk akal. Sebab, luas tanaman perusahaan DKS mencapai 1.750 hektar yang sudah berbuah atau panen. Secara hitungan pasar atau menurut para pemilik kebun sawit, maka pendapatan per bulannya dari kebun seluas 1.750, bisa mencapai  ratusan juta. “Tinggal dikali tujuh tahun kredit DKS yang macet di Bank BNI,” ulas Alex.

Sekali lagi, kemana semua uang hasil kebun tersebut? Apakah Bank BNI turut menikmati hasil kebun PT. DKS selama kredit macet? Atau hanya dinikmati keluarga Hasanudin dan Razali Rohimun serta Boy Hermansyah? Termasuk, apakah selama tujuh tahun beroperasi, PT Dwi Kencana Semesta ada membayar pajak pada Kantor Pelayanan Pajak (KPP) di IDI, Aceh Timur?

Sayangnya, Razali Rohimun yang dihubungi melalu telpon seluler, nomor 081160XXXX tidak merespon panggilan masuk dari media ini. Pesan singkat yang dikirim, juga tak berbalas.***

Komentar

Loading...