Breaking News

Membekuk  Anggota KPK Gadungan

Diduga Beroperasi dari Sabang Hingga Bantul

Diduga Beroperasi dari Sabang Hingga Bantul
Anggota KPK gadungan di tangkap tim Polres Bantul (Foto: detik.com)
Rubrik
Sumber
dari berbagai sumber

Banda Aceh |  Sebutan gadungan memang berkonotasi negatif dan kurang mengenakkan. Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, sebutan gadungan bermakna; bukan sebenarnya alias palsu.

Tapi, entah kenapa atau tak sedikit orang yang prilaku dan mempraktekkan status ini. Misal, ada prajurit TNI gadungan, polisi gadungan, wartawan gadungan hingga anggota Badan Intelijen Negara (BIN) gadungan.

Nah, walau terus diburu dan diciduk, tetap saja ada orang yang gemar mengaku dan menambalkan dirinya sebagai gadungan. Terakhir muncul pula anggota Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) gadungan. Hasilnya, terpaksa berurusan dengan aparat kepolisian.

Rabu, 15 Agustus 2018 lalu misalnya. Tim Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Aceh, menangkap seseorang yang mengaku sebagai penyidik dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) atas nama Asyari (50). Penyidik KPK Gadungan itu ditangkap di salah satu hotel di Yogyakarta.

Kapolda Aceh Irjen Pol Rio Septianda Djambak melalui Kabid Humas, Kombes Pol Misbahul Munauwar menyebutkan. Penangkapan berdasarkan laporan tentang penipuan yang dilaporkan RF, selaku Kasubdit Perencanaan di Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang (BPKS) ke pihak Kepolisian.

"Melalui pesan WhatsApp, oknum KPK gadungan meminta agar RF tidak mengatur untuk pemenang tender di BPKS," kata Kabid Humas, Jumat (17/8). Merasa penasaran, lanjut Kombes Pol Munawar, korban penipuan menanyakan langsung ke KPK saat tim penyidik KPK yang saat itu sedang melakukan pemeriksaan di BPKS. "Dari hasil percakapan itu didapatkan bahwa AN tidak bekerja, dan bukan tim KPK, dan selanjutnya RF membuat laporan ke Polres Sabang," kata Munawar.

Hasil pemeriksaan awal, kata Misbahul, pelaku adalah anggota Lembaga Swadaya Masyarakat Komisi Pengawasan Korupsi (LSM KPK).

Dari penangkapan pelaku, polisi mengamankan sejumlah barang bukti berupa ID Card KPK, lencana KPK, satu air soft gun, beberapa catatan tangan dan print out terkait proyek. "Saat ini pelaku akan dibawa ke Polda Aceh dan sedang dalam perjalanan," ungkap Kabid Humas Polda Aceh Kombes Pol Misbahul Munauwar.

Menariknya, Asyari ternyata memiliki jaringan atau sindikat serupa di Bantul, Yogyakarta.  Ini dibuktikan, setelah tertangkapnya Risdiyanto (50), anggota KPK gadungan oleh tim Polres Bantul, Jumat (24/7/2018) lalu. Kini, Risdiyanto sudah diamankan di Polres Bantul, Yogyakarta.

"Setelah kita mengembangkan Risdiyanto itu, besoknya salah satu tersangka atau komplotannya ditangkap oleh Polda Aceh dan Polres Sabang, namanya Asyari," kata Kasat Reskrim Polres Bantul, AKP Rudy Prabowo, Jumat (24/7/2018).

20180825-asyari-nurdin-anggota-kpk-gadungan

Anggota KPK gadungan asal Aceh (Foto: Ajnn.net)

Berdasarkan keterangan Asyari, anggota KPK yang diamankan di Bantul, Risdiyanto, berperan sebagai perekrut anggota KPK palsu atau gadungan. Namun Risdiyanto di hadapan penyidik Polres Bantul membantah keterangan tersebut.

"Jadi bisa disinyalir sementara kemungkinan si Risdiyanto itu otaknya (KPK gadungan). Kemungkinan dia otaknya," ungkapnya. Keterangan Asyari tersebut diperkuat dengan keterangan lembaga antirasuah KPK. KPK menyebut Risdiyanto telah beberapa kali berupaya merekrut anggota KPK gadungan dengan syarat menyerahkan mahar.

"Di data KPK itu sudah ada yang melapor sekitar bulan April, bahwa Risdiyanto ini merekrut para tenaga kerja untuk masuk ke KPK dengan syarat membayar uang Rp 15 juta, kemudian dibuatkan semacam KTA sama Risdiyanto," ujarnya.

"Tapi karena korban itu tidak percaya, kemudian dia telepon langsung ke bagian KPK menanyakan, dan itu dijawab tidak ada (syarat membayar uang (yang seperti itu. Kalau KPK itu recruitmentnya jelas," lanjutnya. (selengkapnya baca edisi cetak, Senin, 27 Agustus 2018).***

Komentar

Loading...