Sidang Lanjutan Pengerusakan Kantor Redaksi MODUS ACEH

Diduga Ada Oknum Wartawan Media Online Yang Memprovokasi, Ismayadi: Saya Disuruh AP!

Diduga Ada Oknum Wartawan Media Online Yang Memprovokasi, Ismayadi: Saya Disuruh AP!
Azhari Usman/ MODUSACEH.CO
Penulis
Rubrik

Banda Aceh | Sidang lanjutan perkara pengerusakan Kantor Redaksi Tabloid MODUS ACEH, kembali digelar di Ruang Tirta, Pengadilan Negeri (PN) Banda Aceh, Keudah, Banda Aceh, Senin (31/12/18). Dalam sidang itu, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Kota Banda Aceh, Afrimayanti dan kawan-kawan menghadirkan Ismayadi (39) alias Adi, terdakwa dalam kasus tersebut.

Baru saja Majelis Hakim PN Banda Aceh membuka sidang, kuasa hukum Ismayadi, Ramli, SH mengatakan kliennya harus di tes kejiwaan. Menurutnya, dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP), penyidik Polresta Banda Aceh, tidak menyerahkan hasil lampiran observasi kejiwaan dari Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Aceh pada JPU Kejari Kota Banda Aceh.

“Kami meminta kepada majelis hakim untuk mengizinkan terdakwa dites kejiwaan. Masalah biaya, akan ditanggung keluarga. Beberapa hari lalu, pihak keluarga menemui kami dan meminta terdakwa di tes kejiwaan. Bahkan, mereka mengaku jika terdakwa pernah di rehabilitasi di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Aceh di Banda Aceh,” minta Ramli pada majelis hakim,  Rahmawati (hakim ketua) bersama Elfiayanti dan Muzakir (hakim anggota).

Mendengar permintaan tersebut, Rahmawati memberikan waktu satu minggu, untuk melakukan tes. Namun, dia memerintahkan Ramli untuk membuat surat permohonan secara tertulis, dan meminta terdakwa tetap ditahan dan dibawah penjagaan Kejari Banda Aceh, saat tes itu dilakukan.

“Tolong dibuat surat permohonan dan segera dibuat untuk diserahkan pada kami. Nanti, kami akan meminta JPU Kejari Banda Aceh mengawal tes ini dilakukan. Tentu, akan meminta personel kepolisian,” harapnya. Itu sebabnya, sidang tersebut ditunda atau dilanjutkan pada Senin pekan depan, dan menunggu hasil observasi tes kejiwaan terdakwa.

Usai sidang, Ramli membeberkan. Sebelum kasus ini, dirinya tak pernah mengenal Ismayadi alias Adi. Namun, secara mendadak PN Banda Aceh meminta dirinya mendampingi Adi, untuk memberikan bantuan hukum secara gratis yang disediakan negara.

“Sebelumnya, saya tidak kenal Adi. Namun, keluarganya bilang bahwa Adi pernah di rawat di RSJ Aceh. Dan, sesuai dengan yang kita amati, Adi seperti orang yang kurang waras. Indikasinya, apa yang kita tanyakan, jawabannya sering ngawur. Makanya, kita minta di tes kejiwaan. Jangan sampai hakim menjatuhkan vonis pada orang gila,” ungkapnya.

20181231-2e9a0104-6579-4847-bad6-f610b1a67042

Tentu, apa yang diminta dan dikatakan Ramli sah-sah saja. Memang, sebagai pengacara menjadi tanggungjawabnya membela klien. Apalagi, tugas tersebut tidak cuma-cuma, namun dibayar oleh negara untuk membela Ismayadi.  

Namun, timbul pertanyaan. Apakah mungkin, Ismayadi yang dikatakan terganggu kejiwaannya tahu dan mampu untuk merusak Kantor Redaksi MODUS ACEH, pada Selasa (11/9/18) sekira pukul 23.00 WIB malam? Terlebih, ini bukan kali pertama, pada Juli 2017, Ismayadi juga melakukan perusakan kantor serupa. Selain itu, jika pun Adi melakukan itu dengan kondisi jiwa terganggu, tentu dan patut diduga ada pihak lain yang menyuruh Adi untuk melakukan perbuatan kriminal tadi.

Pada sidang perdana dengan mendengarkan keterangan saksi. Seorang saksi mengaku, dia diajak Adi menuju Kantor MODUS ACEH di Jalan T. Iskandar No: 15 Beurawe, Kota Banda Aceh. Begitu tiba, Adi langsung menuju sasaran dan memecahkan semua kaca, komputer serta sejumlah perangkat lainnya. Peristiwa tersebut, terekam jelas melalui CCTV. Jadi, aksi tersebut patut diduga bukan terjadi spontanitas, tapi sudah direncanakan. Termasuk pelaku membawa sebilah pisau sangkur.

Karena itu, banyak pihak menilai, Ismayadi tidak seperti orang yang terganggu kejiwaannya. Yang ada seperti tidak memiliki rasa malu dan malas. Itu terlihat, dari cara dia meminta-minta uang pada setiap orang yang dia temui. Untuk memuluskan pekerjaannya itu, Adi berlakon sebagai penyemir sepatu.

Kondisi inilah yang sengaja dimanfaatkan segelintir orang yang punya dendam pribadi dengan H. Muhammad Saleh (Pimred MODUS ACEH), untuk menggunakan Ismayadi sebagai suruhanya.

Benarkah? Saat ditanya media ini sebelum sidang digelar, Senin pagi (31/12/2018 di PN Banda Aceh. Ismayadi mengaku ada orang yang menyuruh dia untuk memukul H. Muhammad Saleh. Orang tersebut berinisial AP. ”Saya disuruh AP untuk gebuk Saleh (Muhammad Saleh--red). Tapi, saya berpikir, kalau saya tonjok dia, akan dibalas. Makanya, saya rusak kantornya, biar dia rugi,” ungkap Ismayadi dalam bahasa Aceh.

Tak hanya itu, Ismayadi juga menyebut nama AP, salah satu pimpinan media online di Banda Aceh. Nah, sesuai dengan sebutan Ismayadi tadi, media ini melakukan tracking terhadap salah satu media online tersebut. Hasilnya, nama AP muncul dengan dua jabatan. Pertama sebagai pimpinan perusahaan dan kedua berstatus wartawan. Sebelumnya, AP hanya seorang kepala keluarga yang tidak punya pekerjaan jelas alias serabutan.

Dan menurut beberapa perkumpulan wartawan di Banda Aceh, oknum AP belum mengikuti kompetensi dan sertifikasi sebagai wartawan seperti disyaratkan Dewan Pers. Selain itu, media online tadi hanya berbadan hukum (akte) pendirian perusahaan. Namun, hingga pekan lalu, media online tersebut belum terdaftar di Dewan Pers. Sehari-hari, sikap AP juga arogan dan seperti wartawan senior. Malah, sempat beberapa kali bersinggungan dengan sejumlah pihak. "Ya, kalau liputan di DPR Aceh sangat arongan. Seolah-olah seperti wartawan senior di Aceh," ungkap seorang wartawan di Banda Aceh.

Sementara itu, Pimpinan Perusahaan/Redaksi MODUS ACEH, MODUSACEH.CO dan Majalah INSPIRATOR (Kelompok Media) PT. Agsha Media Mandiri, H.Muhammad Saleh mengaku dapat memahami posisi Ismayadi. Walau disebut-sebut mengalami gangguan jiwa, tapi Saleh, begitu dia akrab disapa tetap bertanya: apakah seseorang yang mengalami gangguan jiwa bisa melakukan pengerusakan dua kali dengan sasaran yang sama?

Itu sebabnya, Saleh menduga ada pihak lain yang sengaja dan sadar untuk menyuruh Ismayadi melakukan itu. "Saya bisa memahami posisi Ismayadi, tapi proses hukum harus tetap jalan. Sebab, selama ini banyak orang mengaku gila sehingga bisa melakukan perbuatan melawan hukum seenaknya. Kita masih ingat tentang pelaku pembunuhan terhadap sejumlah kiyai di Pulau Jawa. Begitu ditangkap, ternyata pura-pura gila," tegas Saleh.

Terkait oknum AP yang disebut Ismayadi, pemilik media ini mengaku mengenalnya. Bahkan, sebelum oknum tadi mendirikan perusahaan media online, Muhammad Saleh sempat membantu dan mempekerjakannya. "Ya, yang namanya teman, tentu kita saling membantu. Jika benar pengakuan Ismayadi, saya sangat menyesalkannya. Sebagai manusia, tentu saya tak sempurnakan juga. Tapi,  sebagai orang yang pernah saya bantu, perbuatan oknum tersebut sangat tidak bermoral. Karena itu, saya sedang berpikir untuk melaporkannya secara hukum. Kecuali oknum tadi datang kepada saya dan mengaku serta minta maaf secara kesatria," ungkap Saleh.

Dalam sidang sebelumnya, JPU Kejari Banda Aceh, Afrimayanti membacakan dakwaan terhadap Ismayadi. Dia didakwa telah melakukan perusakan Kantor Redaksi MODUS ACEH, Rabu (12/9/18). Akibat kejadian itu, semua kaca depan pecah dan seluruh perlengkapan kantor tersebut rusak. Kerugian ditaksir sekitar Rp 40 juta lebih. Sebelumnya, akibat perbuatan pertama Ismayadi, media ini juga mengalami kerugian sekitar Rp 20 juta.***

"Pileg dan Pilpres 2019" - yuk ikutan polling-nya! -

Komentar

Loading...