Mantan Ketua Divisi Pengawalan Suara Sekber Irwandi-Nova

Deni Ardiansyah: Forkab Jangan Provokatif, Hormati Pilihan Politik PNA

Deni Ardiansyah: Forkab Jangan Provokatif, Hormati Pilihan Politik PNA
Deni Ardiansyah (Foto: Dok.Pribadi)
Penulis
Rubrik
Sumber
Reporter Banda Aceh

Banda Aceh | Deni Ardiansyah, mantan Ketua Divisi Pengawalan Suara, Sekretariat Bersama (Sekber) Pemenangan  Irwandi Yusuf-Nova Iriansyah meminta Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Forum Komunikasi Anak Bangsa (FORKAB) Aceh Polem Muda Ahmad Yani, tidak berbicara provokatif dan menghargai pilihan politik Partai Nanggroe Aceh (PNA).

“Secara pribadi, kami meminta kepada semua pihak di Aceh, untuk membiasakan berkomunikasi politik secara konstruktif dan menghormati pilihan politik Partai Nanggroe Aceh (PNA) yang bersepakat bersatu secara permanen dalam Koalisi Aceh Bermartabat (KAB) Jilid II hingga 5 tahun mendatang,” tegas Deni dalam siaran pers yang dikirim ke redaksi media ini, Kamis (11//7/2019) malam.

Menurut  Deni, kekecewaan Ketua FORKAB Aceh, merupakan bagian tidak terpisahkan dari upaya-upaya tertentu untuk memperkeruh suasana perpolitikan di Aceh, pasca penetapan perolehan suara partai lokal di Aceh.

“Caranya, dengan menggiring opini dan menuduh khianat terhadap PNA atas partai koalisi lainnya. Penggiringan tuduhan yang tidak beralasan tersebut, dapat dilihat sebagai upaya Forkab Aceh untuk mengarahkan bola liar pesanan, dalam upaya PNA sebagai partai kader, demokratis dan modern untuk mewujudkan Aceh Hebat,” kata Deni.

Menurut dia, kekecewaan dan tuduhan khianat terhadap Partai Nanggroe Aceh (PNA) seperti pernyataan Ketua FORKAB Aceh pada Harian Serambi Indonesia (11/07/2019), merupakan bentuk tindakan yang tidak mendidik dalam pendidikan politik kepada publik.

“Saya memandang hal ini sebagai sensasi yang coba dimainkan FORKAB Aceh, dengan dalih perjuangan untuk menjumpai Plt Gubernur Aceh, agar mengambil kader PNA menjadi Wakil Gubernur Aceh ke depan. Tetapi Forkab Aceh lupa, ada tanggung-jawab besar yang kini tergantung dipundak Pengurus PNA terhadap 2,4 juta suara masyarakat Aceh yang memberikan pilihan pada Pilkada 2017, untuk berupaya menjaga subtansi 15 Program Unggulan yang telah disampaikan dalam janji kampanye, pasca Gubernur Irwandi Yusuf ditahan,” ulas Deni.

Di sisi lain ungkap Deni, dari beberapa informasi media, Pengurus DPP PNA telah beberapa kali mencoba meminta bertemu dengan Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, terkait tanggung jawab partai pengusung, untuk mengawal berjalannya visi misi pasangan Irwandi-Nova. Namun, sangat disayangkan, usulan atas pertemuan tersebut tidak berbuah manis.

“Saya secara pribadi, tidak ingin berasumsi terlalu jauh lagi terhadap tuduhan tersebut, melainkan meminta dan menyerahkan sepenuhnya kepada Pengurus Pusat Partai Nanggroe Aceh (PNA),  agar adanya pelurusan atas tuduhan ini kepada publik. Sebab, bila aksi-aksi  serupa itu mendapat pembiaran akan berpotensi terjadinya preseden buruk bagi pola demokrasi di Aceh. Pada gilirannya dapat mengganggu proses pembangunan, stabilitas keamanan, psikologis kader PNA maupun relawan lainnya yang telah berkerja ikhlas pada Pilkada 2017 untuk pasangan nomor urut 6 ini,” sebut Deni.

“Tentu semua pihak sangat menginginkan Aceh Hebat dapat terwujud dengan kerjasama yang baik di legislatif dan eksekutif. Kepada semua kader PNA dan partai lokal lainnya, sangat diharapkan mampu melihat kepentingan yang lebih besar untuk wujudkan peradaban Aceh yang lebih baik atas pilihan koalisi ini,” demikian ajak Deni yang juga alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Banda Aceh ini.***

Komentar

Loading...