Redaksi MODUS ACEH

Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda.

Demi Kuasa

Demi Kuasa
Brutus (google.com)

Kisah “pengkhianat  dan “penjilat”, memang terukir dengan berbagai rupa dari sejarah kepemimpinan dunia dan negeri ini. Termasuk Aceh.

Marcus Junius Brutus Caepio (85-42 SM) atau yang lebih dikenal sebagai Brutus, adalah seorang Senator Kota Roma (majelis perundingan kerajaan), yang pada akhirnya menjadi Republik Roma. Dia salah seorang pembunuh Gaius Julius Caesar (100-44 SM).

Brutus bersama temannya sesama senator, membunuh sang kaisar secara dramatik pada 15 Maret 44 SM. Kemudian mencetuskan perang saudara di Republik Roma. Brutus diadili oleh Senatus sebagai “pengkhianat” kerajaan.

Brutus adalah sahabat seperjuangan dan teman dekat Caesar. Namun, dia termakan hasutan bahwa Julius Caesar akan mentahbiskan dirinya menjadi Raja Roma dan mengembalikan sistem “monarki absolut” di  Republik Roma.

Dia sangat percaya cerita dan gosip murahan itu, walaupun pada 15 Februari 44 SM, pada satu upacara umum, Caesar enggan menerima diadem (lambang monarki kuno) dari Marcus Antonius (83-30 SM), ahli politik dan jenderal Roma serta orang kepercayaan Caesar.

Disinilah, dengki dan perasaan tidak senang, bercampur aduk dalam diri, antara orang-orang di sekitar “ring satu” Republik Roma. Brutus pun mulai berkomplot dengan sahabat dan adik iparnya, Gaius Cassius Longinus (85-42 SM), serta orang lain di antara mereka, dengan menyebut kelompoknya sebagai Liberatores (pembebas).

Kisah berlanjut. Senator yang menentang kepemimpinan Julius Caesar merencanakan untuk menjemput Sang Kaisar ke suatu forum majelis perundingan kerajaan. Tujuannya, dipaksa membaca petisi palsu yang ditulis para senator dan meminta Julius Caesar mengembalikan mandat kekuasaannya kepada Senatus .

Mengetahui akal bulus dan siasat para senator pengkhianat tadi, Marcus Antonius coba menghalangi sang kaisar, di tangga forum untuk mengabaikan tuntutan para senator pembelot tadi.

Namun, para senator itu berhasil menghalangi Caesar ketika hendak melewati Teater Pompey dan menggiringnya ke sudut ruangan, bersebelahan dengan porsio timur.

Nasib Caesar tampaknya telah ditetapkan berakhir tragis. Dia berada di tengah lingkaran para “pengkhianat” (Brutus) dan 60 senator yang memegang pisau belati, tersembunyi di balik toga kebesaran Senatus Republik Roma.

Kedengkian dan kebencian telah merasuk darah para negarawan Roma. Hasrat meraih kekuasaan dan hawa nafsu, menghalalkan berbagai cara tak terbendung lagi. Keinginan untuk segera menggenggam kekuasaan telah “membutatulikan” logos para Senatus.

Pengkhianat atau “komplotan Brutus” ini kemudian kalap. Saat Julius Caesar sedang membaca dokumen petisi palsu di atas mimbar, salah seorang senator bernama Publius Servilius Casca menarik lengan sang kaisar, lalu menikam lehernya dengan sebilah belati.

Tindakan ini kemudian diikuti sekitar 23 senator lainnya, yang berkomplot melakukan coup d'état . Sang kaisar mencoba menghindar dan meloloskan diri dari percobaan pembunuhan. Sayang, ia terhempas jatuh berlumuran “darah pengkhianatan”.

Tanpa daya, karena tikaman belati bertubi-tubi ke sekujur tubuh kekarnya. Dia ambruk ke lantai ruang majelis perundingan kerajaan yang tak jauh dari singgasana Republik Roma.

Julius Caesar kemudian dibunuh para “Brutus” ketika terbaring tanpa daya untuk mempertahankan diri. Sang pahlawan legendaris Republik Roma ini menghembuskan nafas terakhir, di bawah patung Pompey, tempat yang terhormat dan penuh kemuliaan.

Saat Julius Caesar menarik nafas terakhir, ia masih sempat berkata kepada sahabatnya, Brutus sang pengkhianat;  “Tu quoque, Brute, fili mi” (engkau juga, Brutus, anakku) atau “ Et tu, Brute ” (dan engkau juga, Brutus). Caesar sadar,  sahabat karibnya telah mengkhianatinya secara sadis!

Setelah tragedi pembunuhan itu, para senator meninggalkan gedung majelis, seraya bertindak seperti demagog, dan Brutus bersorak kepada masyarakat Kota Roma. “Hai rakyat Roma, kita bebas sekali lagi!”

Di saat yang sama, mayat Caesar membujur kaku di ruang majelis dan  diangkat para abdi istana untuk diserahkan kepada sang istri terkasih, Calpurnia.

Brutus lalu mendapat atribut dalam sebuah frasa “Sic semper tyrannis!” (thus always to tytants! ), untuk pendengki dan pengkhianat, selamanya!

Akibat kematian Caesar, para konspirator berkuasa dan menaklukkan provinsi-provinsi di Timur. Sementara itu, mereka membiarkan tiga rekan dekat Caesar memerintah di Barat.

Tiga orang itu adalah, Marcus Antonius atau Mark Antony, seorang jenderal; Octavianus, keponakan Caesar yang masih berusia 19 tahun; dan Lepidus. Setelah mengumpulkan kekuatan, mereka menyerang para republikan di Timur, dan berhasil menang di Filipi (42 SM).

Tak hanya itu, setelah mengambilalih kekuasaan, mereka membagi-bagi wilayah: Octavianus di Barat termasuk Italia, Marcus Antonius di Timur termasuk Mesir, dan Lepidus di Afrika Utara selain Mesir.

***

Di Aceh, ada kisah pengkhianatan Panglima Tibang. Nama aslinya Ramasamy. Dia seorang pemuda dari India Selatan. Suatu ketika singgah di pelabuhan kerajaan Aceh. Ia hanya seorang perantau yang punya keahlian sebagai pesulap.

Berbekal keahliannya itu, ia mampu menarik simpati masyarakat dan raja Aceh hingga akhirnya sampai juga ke istana kerajaan Aceh Darussalam. Dia diundang Sultan Aceh untuk menunjukkan kebolehannya. Dan, kesempatan tersebut dimanfaatkan pemuda pengembara ini untuk masuk istana.

Niat itu berhasil dituainya, setelah ia memeluk agama Islam dan mengganti namanya menjadi Muhammad. Sebagai mualaf, biaya hidupnya ditanggung kerajaan.

Bermula ketika ia ditunjuk Sultan Aceh, memimpin utusan kerajaan yang akan berunding dengan Belanda di Riau. Tujuannya, Belanda sebaiknya datang ke Aceh pada Desember 1872. Ini merupakan upaya untuk mengulur-ngulur waktu, sambil mempersiapkan kerja sama dengan Amerika dan Italia dalam menghadapi Belanda.

Tentu, setelah utusan sultan pulang dari Turki di bawah pimpinan Perdana Menteri Kerajaan Aceh merangkap Mangkubumi Habib Abdurrahman el Zahir. Persaingan politik pun terjadi. Panglima Tibang bermaksud menancapkan pengaruhnya kepada sultan, mengalahkan Habib.

Lalu, ia menuju Singapura. Namun, dalam perjalanan pulang, ia menghubungi utusan Amerika dan Italia, guna memperoleh bantuan untuk menghadapi perang melawan Belanda. Dan, armada Amerika yang berada di Hongkong, di bawah pimpinan Laksamana Jenkis setuju untuk membantu Aceh, berperang melawan Belanda. Namun informasi itu akhirnya diketahui Belanda.

Memahami akibat lebih jauh, jika perjanjian Aceh dengan Amerika dan Italia terwujud, Belanda pun mendahuluinya.  

Gubernur Jenderal Hindia Belanda, James Loudon, pertengahan Februari 1873, mengirimkan armadanya ke Aceh. Apalagi, setelah mendapat informasi, armada Amerika di bawah pimpinan Laksamana Jenkins berangkat dari Hongkong menuju Aceh pada Maret 1873.

Menghadapi situasi seperti itu, para diplomat Aceh di Pulau Penang dan Malaysia membentuk Dewan Delapan (empat bangsawan Aceh, dua Arab dan dua orang keling kelahiran Pulau Pinang).

Akhirnya, Rabu 26 Maret 1873, bertepatan dengan 26 Muharam 1290 Hijriah, dari geladak kapal perang Citadel van Antwerpen, yang berlabuh antara Pulau Sabang dan daratan Aceh. Belanda menyatakan maklumat perang dengan Aceh, karena Aceh menolak mengakui kedaulatan Belanda.

Maklumat perang itu diumumkan Komisaris Pemerintah, merangkap Wakil Presiden Dewan Hindia Belanda, F.N Nieuwenhuijzen.

Tindak lanjut dari maklumat perang tersebut, Senin, 6 April 1873, pasukan Belanda di bawah pimpinan Mayor Jenderal J.H.R Kohler, berkeluatan kekuatan enam kapal perang, dua kapal angkutan laut, lima barkas, delapan kapal peronda, satu kapal komado, dan lima kapal layar. Melakukan pendaratan di Pante Ceureumen, yang disambut dengan perlawanan rakyat Aceh. Perang pun berkecamuk.

Dalam agresi pertama itu, Belanda mengerahkan 168 perwira, 3.198 pasukan, 31 ekor perwira berkuda, 149 pasukan berkuda, 1.000 orang pekerja paksa, 50 orang mandor, 220 orang wanita, 300 orang pelayan. Perang dengan Belanda pun terus berlanjut.

Namun, di tengah usaha Aceh melawan agresi Belanda tersebut, tahun 1879, Panglima Tibang yang dipercayakan sultan menggalang diplomasi di luar negeri, justeru berbalik arah. Dia meninggalkan rekan seperjuangannya, kemudian bergabung bersama Belanda untuk menyerang Aceh.

Kepercayaan raja Aceh kepadanya, dibalas pengkhianatan. Tak pelak, nama Panglima Tibang sampai kini tertoreh di sanubari rakyat Aceh sebagai pengkhianat yang tak terampuni.

Nah, dari kisah tersebut, ada beberapa bentuk “pengkhianatan dan penjilat” dalam kepemimpinan dan kekuasaan. Ada istilah; one to one (satu orang kepada satu orang).

Penghianatan one to one menggambarkan praktik seseorang yang ‘menikam dari belakang’ atau seorang bermuka dua (penjilat), yang dilakukan seseorang kepada seseorang yang lain.

Misalnya menjelekan sahabatnya sendiri, memfitnah teman (sahabat), merebut hak teman (sahabat), mengakui hasil karya orang lain sebagai hasil karyanya, menjatuhkan reputasi teman (sahabat) sendiri dan sebagainya.

Kedua, one to many (satu orang kepada banyak orang). Ini menggambarkan praktik ‘menusuk dari belakang’ yang dilakukan seseorang kepada sekelompok orang, lembaga, organisasi atau perkumpulan.

Contoh, seorang anggota organisasi yang menyebarkan informasi rahasia kepada pihak lain. Seorang anggota organisasi yang mencaci-maki organisasinya dengan pihak lain, dan sebagainya. Ketiga, many to one (banyak orang kepada satu orang). Menggambarkan praktik ‘menikam dari belakang’ yang dilakukan sekelompok orang, bisa lembaga, organisasi atau perkumpulan terhadap seseorang.

Misalnya sekumpulan orang-orang licik, picik dan iri pada satu lembaga, partai politik, intansi dan perusahaan yang punya niat sama, ingin menyingkirkan pemimpinnya dari lembaga tersebut.  Atau satu pimpinan partai politik, yang ingin menyingkirkan anggotanya dengan menghalalkan berbagai cara. Bahkan sampai melanggar hukum, asal tujuannya tercapai.

Dan keempat, many to many (banyak orang kepada banyak orang). Praktik ‘menikam dari belakang’ atau sikap bermuka dua (penjilat) yang dilakukan sekelompok orang dengan kelompok orang yang lain.

Misal, seorang pemimpin tampak di depan sepertinya baik-baik saja, tetapi di belakang, dia mencaci-maki, menjelek-jelekan, meremehkan, membodoh-bodohkan, bahkan memfitnah anak buah serta koleganya.

Nah, adakah kisah tersebut terjadi saat tumpuk kekuasaan dan kepemimpinan Aceh dipegang Irwandi Yusuf, kemudian beralih ke tangan Nova Iriansyah saat ini? Entahlah!***

Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi!
Rubrik

Komentar

Loading...