Daud P, Meracik Ubo untuk Perkokoh ‘Senjata’ Nelayan

Daud P, Meracik Ubo untuk Perkokoh ‘Senjata’ Nelayan
Penulis
Rubrik

Meulaboh |Tuk...tuk...tuk... bunyi jeungki-alat tradisional penumbuk padi terdengar riuh. Tiga perempuan terlihat sibuk menghentakkan kaki mereka secara bersamaan, sementara seorang lelaki tua dengan cekatan mengaduk kulit kayu dalam lesung.

Seirama dengan hentakan kaki Wati, Susi Sarah dan Meliyati dan naik turunnya alu (penumbuk), sang kakek bernama Daud P (75) sudah lama menekuni pekerjaan itu. Bersama anak dan dua cucunya, Daud P mengolah kulit Ubo saban Jumat pagi, di Dusun Raja Aceh, Desa Leuhan, Kecamatan Johan Pahlawan, Kabupaten Aceh Barat.

Pekerjaan itu, bukan hanya dikerjakan saat usianya yang sudah senja. Namun, Daud P mengerjakan itu sejak ia masih muda. Kini, meski pun Daud P mengerjakan pekerjaan serupa, namun Daud P tak lagi keluar masuk rimba raya, di Kabupaten Aceh Barat untuk mengupas pohon-pohon Ubo itu.

Jumat pagi, 2 Februari 2018 lalu Daud P yang sedang mengaduk kulit Ubo dalam lesung yang sedang ditumbuk dengan Jeungki, anaknya, Wati dan dua cucunya Susi Sarah dan Meliyati, menceritakan, ayah dan kakeknya ini tidak lagi mereka izinkan untuk pergi ke hutan mencari kulit Ubo. “Sekarang kami tidak berikan kakek kami pergi ke hutan untuk cari kulit Ubo,” kata Susi Sarah dan Meliyati, Jumat, 2 Februari 2018 lalu.

Itu sebabnya, Daud P, Wati, Susi Sarah dan Meliyati sebagai tugas menumbuk kulit Ubo untuk dijual kepada nelayan, mereka masing-masing mendapat upah Rp 10 ribu per satu sak beras, berat 15 kilo gram. Satu sak mereka menjual kulit Ubo yang sudah diolah agar bisa diperas mengambil air atau getah Ubo, senilai Rp 75 ribu. Maka, sebagai pekerja yang mengupas kulit Ubo dalam hutan, mendapat jeripayah senilai Rp 35 ribu dalam satu sak.

Sedikitnya, setiap Jumat mereka berasil menjual perwarna tradisional untuk tali pukat nelayan, sekitar enam sak. Kegunaan kulit Ubu, sebagai pewarna untuk memperkuat tali pukat, khususnya tali pukat yang terbuat benang. Sedangkan tali pukat yang terbuat dari bulu nira, itu tidak dibutuhkan air kulit Ubo. “Kalau pukat dari nira itu ngak perlu kulit Ubo. Ini khusus pukat dari benang,” kata Daud P.

Karena itu, kulit Ubo diolah dengan Jeungki setiap Jumat pagi. Sebab, hari Jumat nelayan tidak melaut dan merendam tali pukat mereka. Sebagai langanan kulit Ubo, itu khususnya nelayan yang bekerja dengan boat ukuran kecil. “Kalau kita tumbuk malam Jumat, itu tidak bisa, keras tidak bisa digunakan,” kata Daud P, Jumat tiga pekan lalu.

Pohon Ubo, itu mirip dengan pohon jambu air. Sedangkan buahnya kata Daud P, mirip dengan buah jambu biji. “Buahnya seperti buah Geulima (Jambu Biji), bisa dimakan,” ujar Daud P. Sedangkan pohon Ubo bisa diambil kulitnya, jika pohon Ubo itu sudah sebesar pohon pinang atau lebih. Sedangkan kecil dari Pohon Pinang, kulit Ubo belum bisa diambil, salah satu alasanya karena getah belum begitu banyak.

Nah, karena sudah lama Dau P mengolah Ubo untuk dijulan pada nelayan, Daud P menanam pohon itu samping rumahnya, Dusun Raja Aceh, Desa Leuhan, Kecamatan Johan Pahlawan, Aceh Barat.***

Komentar

Loading...