Cerita Nasruddin Daud Proyek PL BPKS Sabang

Cerita Nasruddin Daud Proyek PL BPKS Sabang
Ir. Nasruddin Daud/Foto Juli Saidi
Penulis
Rubrik

 Banda Aceh | Usai jumpa pers terkait situs sejarah Gampong Pande, media ini menjumpai mantan Kepala Pelaksana Tugas (Plt), Badan Pengusahaan Kawasan Sabang (BPKS) Ir. Nasruddin Daud, di Komplek Meuligoe Wali Nanggroe, Jalan Soekarno Hatta, Aceh Besar, Minggu (10/06/2018).

Nasruddin Daud bercerita, proyek BPKS yang dilaksanakan dengan cara penunjukan langsung (PL) itu, terjadi pada saat periode Teuku Saiful Ahmad (TSA) dan Ruslan Abdul Gani (RAG). Sedangkan periode saat dirinya menjabat Plt Kepala BPKS, hanya melanjutkan apa yang telah disetujui Saiful Ahmad. “Yang terakhir kemarin, itu periode Ruslan semua. Ini tidak ada hubungan dengan saya. Dulu paket pertama PL juga,” kata Nasruddin Daud, Ahad.

Lanjut Nasruddin Daud, waktu ia menjabat sekitar enam atau tujuh bulan, sedangkan sebelumnya Teuku Saiful Ahmad. Tetapi tiga tahun saat dipegang Saiful Ahmad, anggarannya tidak begitu besar. “Tiga tahun sebelumnya Pak Saiful, PL-PL juga, tiang-tiang saja. Waktu saya baru bikin plat betonnya. Waktu saya Plt sekitar enam sampai tujuh bulan dan sudah ada persetujuan Pak Saiful untuk di PL-kan,” ujar Nasruddin Daud.

Jelas Nasruddin Daud, karena sudah disetujui  almarhun Teuku Saiful Ahmad itulah, dirinya hanya buat kontrak saja. “Jadi tidak ada urusan, karena persetujuannya Pak Saiful waktu itu. Kemudian pada waktu Pak Ruslan, di PL juga,” sebut Nasruddin Daud.

Nasruddin Daud mengaku, sempat tidak sepaham dengan Saiful Ahmad. “Saya melawan dengan Pak Saiful, saya tidak mau di PL-kan, heboh waktu itu, saya antar surat ke Departemen Keuangan, ke PU, segala macam, saya tanya apa betul ini di PL, pokoknya saya cari tahu,” ujarnya.

Ketika itu jelas Nasruddin, semua menyarankan supaya proyek CT-3 BPKS ini aman jangan di-PL-kan alias ditender saja. “Artinya saya cari tahu, saya tidak mau, tetapi karena sudah disetujui Pak Saiful saya jalani aja, satu minggu sebelum saya dilantik sudah disetujui Pak Saiful,” kata Nasruddin Daud.

Namun, Nasruddin Daud mengaku tiga tahun ketika masa Saiful Ahmad, anggarannya tidak sebesar pada saat Ruslan Abdul Gani menjabat Kepala BPKS Sabang. “Waktu Pak Saiful ngak besar, kecil-kecil, waktu saya agak besar sedikit, waktu Ruslan besar lagi anggarannya,” sebut Nasruddin Daud. Katanya “mendekati Rp 200 miliar juga, waktu Pak Ruslan lebih lagi,” sambung Nasruddin Daud.

Disinggung rapat di Hotel Borobudur, Nasruddin Daud mengaku pada rapat tersebut Teuku Saiful Ahmad sebagai inisiatornya. “Pak Saiful ingin mendiskusikan masalah itu. Hadir Pak Irwandi," katanya.

Pertemuan di Borobudur kata Nasruddin Daud membicarakan proyek CT-3  BPKS, apakah wajar di PL atau tidak. “Pak Saiful didukung Nanta Sofwan sebagai konsultan, ada juga Puddu Razak. Mereka itu sebenarnya mau klarifikasi saja, sebab sudah bulat dan sepakat untuk di PL kan,” ungkap Nasruddin.

Sambung Nasruddin Daud. “Saya saja krodit, cuma cari tahu jangan orang lain yang makan, saya kena getah”. Akui Nasruddin Daud, Gubernur Aceh Irwandi Yusuf ikut hadir di rapat. “Memang betul dia ngomong, mana yang bisa dan jangan dibisakan sesuatu yang tidak bisa. Ada dia ngomong seperti yang ditulis MODUS ACEH kemarin itu, yang penting cepat, dia bilang,” katanya.***

Komentar

Loading...