Iklan HUT 16 TAHUN MODUS ACEH

Caleg Partai Demokrat Aceh dan Coattail Effect

Caleg Partai Demokrat Aceh dan Coattail Effect
Komandan Komando Satuan Tugas Bersama (Kogasma) Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) saat menyampaikan pidato politik bertajuk Rekomendasi Partai Demokrat Kepada Presiden Indonesia Mendatang di ballroom Djakarta Theatre, Jakarta Pusat, Jumat (1/3/2019) malam.(KOMPAS.com/KRISTIAN ERDIANTO)
Rubrik
Sumber
Muhammad Saleh/Pimpinan Redaksi MODUSACEH.CO

Pidato politik Komandan Komando Satuan Tugas Bersama (Kogasma) Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Jumat malam pekan lalu di Jakarta. Tak hanya sarat pesan politis. Lebih dari itu, memberi isyarat tentang komitmen dan platform perjuangan dari partai besutan Presiden RI Ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini, menghadapi Pilpres dan Pileg mendatang.

JALAN semakin mulus, karena partai ini tak mengusung Capres maupun Cawapres sendiri. Itu sebabnya, Partai Demokrat tidak berharap banyak adanya efek ekor jas (coattail effect) dari Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, sebagai calon presiden dan wakil presiden RI versus Jokowi-Ma’ruf Amin, yang akan ditentukan nasibnya oleh rakyat Indonesia, 17 April 2019.

Menurut AHY, sejak awal Partai Demokrat (PD) berorientasi pada perjuangan calon legislatifnya. Ini berarti, tidak bisa terlalu berharap pada efek ekor jas dari pilpres atau partai secara keseluruhan. Karena itu, caleg lah yang berada di garda terdepan untuk meraih suara (kursi), kepercayaan dan mandat dari rakyat.

Sebab kata AHY, hanya ada dua partai yang diuntungkan dari pelaksanaan pemilu serentak tahun ini, yaitu partai yang mengusung kadernya sebagai capres atau cawapres. Karenanya, PD mengusung strategi yang berorientasi pada pemenangan caleg.

AHY berpendapat, jika seorang caleg populer, rajin turun ke lapangan dan punya program yang rasional untuk rakyat, mereka punya peluang untuk menang. Sebaliknya  jika diam, tentu tak memberi hasil.

Begitupun, DPP Partai Demokrat dan dirinya sendiri sebagai Komando Kogasma, tetap melakukan supporting system, memberikan dukungan penuh pada setiap caleg yang berjuang di seluruh nusantara.

Dalam psikologi politik, memang dikenal istilah coattail effect. Jika diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia  berarti; pengaruh ekor jas.

Syahdan,  suatu hari di tahun 1899, dua orang berbincang sambil menungu sepatunya selesai di semir, di taman belakang Globe Hotel di Richwood, Ohio, Amerika Serikat. Namanya, Warren Harding, seorang editor surat kabar dari kota kecil Marion, Ohio yang sedang mengikuti pemilihan menjadi anggota senat.

Satu lagi bernama Harry Daugherty, orang cerdas dalam politik. Dia dikenal sebagai sosok di belakang layar. Harry Daugherty jatuh hati dengan gestur (bahasa tubuh) Harding yang menurutnya; menyerupai presiden.

Ketika itu, usia Harding sekitar 35 tahun. Namun, semua anggota tubuhnya begitu menarik perhatian. Bahkan, wartawan setempat mengatakan Harding seperti; Dewa Romawi. Saat itu yang ada dalam pikiran Daugherty adalah; orang ini bisa menjadi presiden yang hebat? Dan sejak saat itu (1899), Harding mulai dipoles Daugherty untuk menjadi tokoh nasional. Menariknya, ia selalu menang karena tampang yang berwibawa.

Hasilnya, di tahun 1914, dia terpilih menjadi senat Amerika, walaupun tidak hadir saat debat masalah penting, soal undang-undang (UU) peredaran minuman keras.

Seiring bertambah usia, penampilan Harding semakin mapan. Rambut keperakan dan alisnya yang tebal, membuat konstituen terpana dan menyatakan dia seperti; Julius Cesar.

Nah, dengan tampang itulah, banyak media memberitakan Harding sebagai calon presiden yang tampan serta sosok sempurna untuk seorang Presiden Amerika ketika itu.

Selanjutnya atau tahun 1920, Daugherty meyakinkan  Harding untuk maju dan mengikuti konvensi calon presiden melalui Partai Republik. Lagi-lagi, Dewi Fortuna berpihak kepada Harding. Dia mampu menyingkirkan lima calon lain dengan pidato yang belakangan disebut; ungkapan kosong tanpa makna. Tapi gaya dan pembawaannya tetap mempesona!

Dan sebagai calon presiden, Warren Harding yang berasal dari desa ini, akhirnya terpilih sebagai Presiden Amerika. Namun, nasib tragis menimpanya. Harding menduduki jabatan presiden hanya dua setengah  tahun, sebelum akhirnya meninggal dunis secara mendadak karena stroke.

Sempat muncul spekulasi bahwa ia meninggal karena tidak tahan dengan tekanan publik yang mendesaknya mundur. Banyak sejarawan setuju, Harding adalah salah satu presiden yang sangat buruk dalam sejarah Amerika Serikat.

Sejak itu pula, political science (ilmu politik) berkembang pesat. Salah satunya soal coattail effect atau yang  menyebabkan Amerika memilih “orang yang salah” untuk memimpin.

Saat itu, sejumlah pakar di negeri Paman Sam ini berpendapat, telah terjadi sistem pemilihan presiden yang salah. Karena, Harding dipilih terlebih dahulu, baru kemudian memilih parlemen, sebagai akibat dari kemenangan Harding, yang kemudian diklaim sebagai kemenangan Partai Republik.

Sekali lagi, ini merupakan coattail effect atau orang-orang yang sudah sangat  terpesona dengan sosok atu citra seseorang, sehingga ketika dia mengibaskan “ekor” jasnya, maka luluhlah hati rakyat atau orang-orang di sekitarnya.

Kondisi dan realitas politik ini memang ada persamaan dengan tipe pemilih di negeri ini. Coattail effect, sepertinya masih sangat berpengaruh untuk rakyat Indonesia. Maklum, segala sesuatu masih dilihat dari penampilan dan fisik semata.

Selain itu, budaya patrilineal masih melekat dan kental serta berakar pada sendi-sendi kehidupan rakyat Indonesia saat ini. Model sosiologis (memilih karena sama suku bangsa, agama, jenis kelamin, ras dangolongan) dengan model rasional (memilih arena program), justeru menjadi kurang relevan.

Lihat saja, untuk membuat calon pemilih kepincut, salah satu cara yang paling efisien ialah melalui coattail effect. Itulah kenyataan, coattail effect masih sangat susah untuk dicegah. Sebab, masih begitu sulit untuk mengajak orang berpikir rasional.

Dan kalau mau jujur, strategi Partai Demokrat dibawah komando AHY menghindari coattail effect pada pemilu tahun ini, tentu pilihan tepat. Sebaliknya, pada tataran arus bawah, terutama para caleg DPRK, DPRA dan DPR RI dari Aceh misalnya, strategi ini justeru menjadi jurus ampuh.

Tak hanya itu, harapan AHY agar para caleg PD wajib turun ke bawah dan kerja keras, juga tak ada perdebatan. Hanya saja, harapan tersebut terkesan masih sangat sulit dilakukan para caleg PD di Aceh secara personal, tanpa “menjual” sosok SBY dan AHY, untuk meraup suara sebanyak-banyaknya.

Pada Pemilu 2004-2009 contohnya. Partai Demokrat mampu meraih tujuh kursi untuk DPR RI. Inilah capaian yang luar biasa dan tak lepas dari sosok SBY sebagai Presiden RI yang mampu melahirkan perdamaian untuk Aceh. Termasuk catatan sukses dari proses rehabilitasi dan rekonstruksi melalui BRR NAD-Nias, paska gempa dan tsunami, 26 Desember 2004 silam.

Sayangnya, sukses story ini tak mampu dijaga dan rawat oleh kader PD di eksekutif dan legislatif lokal. Selanjutnya, perolehan kursi DPR RI turun drastis atau terjun bebas menjadi dua kursi di DPR RI.

Kini, peluang itu masih tetap ada dan terbuka. Sebab, bagi rakyat di Bumi Serambi Mekah, SBY adalah Bapak Perdamaian Aceh dan AHY adalah sosok anak muda yang progresif serta visioner untuk bangsa ini.

Perpaduan dua kekuatan; mantan militer dan sipil dengan segudang prestasi akademis, membuat kaum milenial di negeri, termasuk Aceh memang pantas untuk mengantungkan harapan dan masa depan Indonesia di pundak AHY.

Begitupun, jika berbagai persoalan lokal (daerah) seperti Aceh, tak mampu dikelola dengan baik oleh sejumlah kader PD di eksekutif dan legislatif. Bukan mustahil justeru akan menjadi “senjata makan tuan”.

Pertanyaannya adalah, apakah tata kelola Pemerintah Aceh yang saat ini dijalankan kader Partai Demokrat yaitu, Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah, yang sadar atau tidak telah memunculkan berbagai “pergesekan” di akar rumput di Aceh akan menambah elektabilitas caleg dan PD pada Pileg 17 April 2019? (selengkapnya baca edisi cetak).***

Komentar

Loading...