GeRAK Aceh Barat Sorot Proyek Irigasi dan Jembatan Gantung

Bupati Perintahkan Dinas Terkait dan Inspektorat Lakukan Audit

Bupati Perintahkan Dinas Terkait dan Inspektorat Lakukan Audit
Bupati Aceh Barat H. Ramli. MS/Foto Dok
Penulis
Rubrik
Sumber
Kontributor Meulaboh

Meulaboh | Koordinator Gerakan Anti Korupsi (GeRAK) Aceh Barat Edy Syah Putra menemukan dua proyek yang diduga bermasalah. Proyek dimaksud adalah, pembangunan peningkatan jaringan irigasi DI Alue Diam, Kecamatan Woyla Timur, Kabupaten Aceh Barat, senilai Rp 2,2 miliar.

Menurut GeRAK, pembangunan jaringan irigasi DI dimaksud mulai dianggarkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2016. Menurut Edy Syah Putra, Senin (01/10/2018), berdasarkan data lapangan dan laporan masyarakat, jaringan irigasi itu didugaan terbangkalai paska dibangun 2016-2018.

Edy mencontohkan, pintu air yang berfungsi untuk mengairi sawah masyarakat, kini kondisinya sudah ditumbuhi semak belukar, begitu juga tiang besi untuk  dinding bangunan irigisi ada yang tidak tercor serta mulai berkarat.

Masih penuturan Edy, dinding beton bangunan irigasi yang dinilai pembangunannya tidak tuntas. Saluran air yang tidak berfungsi untuk mengairi sawah warga. Kata Edy, berdasarkan pengakuan masyarakat di sana, akibat dugaan tidak berfungsinya jaringan irigasi Alue Diam, seratusan hektar lahan persawahan produktif masyarakat di Kecamatan Woyla Timur, Aceh Barat, mengalami kesulitan air (kekeringan).

 

20181001-jaringan-irigasi-alue-diam

Jaringan Irigasi Alue Diam/Foto GeRAK

Sehingga sebut Edy,  sangat sedikit petani yang turun ke sawah pada di musim tanam Gadu 2018 ini. “Bahkan hanya tersisa 10 kepala keluarga (KK) yang tetap nekad untuk menanam padi dalam masa tanam Gadu 2018 ini,” ujar Edy Syah Putra, Senin.

Padahal sebut Edy, di sana sedikitnya dari 97 KK, 85 persen bermata pencarian sebagai petani.  Nah, sejak program pembangunan proyek Irigari DI Alue Diam dicanangkan, dengan harapan air berasal dari rawa genangan dapat dialiri secara merata pada ratusan area sawah milik petani. Pesawahan dimaksud melingkupi tiga desa yaitu, Cot Punti, Aleu Empek, dan Pasi Jenang. ”Tapi sayangnya proyek Irigari Alue Diam ini, terhenti dan tidak berlanjut lagi sampai sekarang,” sebut warga desa,” ujar Edy.

Selain itu, Koordinator  GeRAK Aceh Barat, juga menyoroti  pembangunan Jembatan Gantung Cot Punti. Sebab, pelaksanaan proyek jembatan gantung itu ada dugaan tak sesuai. Karena, kondisi di lapangan kata Edy, pembangunan Abutment tidak selesai.

 

20181001-jembatan-cot-punti

Jembatan Gantung Cot Punti/Foto GeRAK

Karena tanjakan jembatan gantung itu  belum dibangun. Pantauan GeRAK Aceh Barat, tumpukan karung disusun di bagian abutment, menjadi alas yang digunakan warga agar dapat naik ke jembatan yang menghubungkan Gampong Cot Punti dan Gampong Panton,  Kecamatan Woyla.

Bahkan, untuk memudahkan warga naik ke jembatan, menumpukan karung pasir atau batu dengan swadaya uang dari desa.  “Warga mengecor tumpukan karung tersebut agar mudah dilalui dengan kendaraan,” katanya.

Menurut Edy GeRAK, pembangunan jembatan Gantung Cot Punti dengan pagu anggaran sebesar Rp 2,7 miliar bersumber dari APBD 2017. Sedangkan berdasakan dokumen yang diperoleh GeRAK Aceh Barat, dianggarkan melalui satuan kerja Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPPD) Kabupaten Aceh Barat, dengan volume panjang 140 meter.

Bupati Aceh Barat H. Ramli. MS di sela-sela kesibukannya melakukan pertemuan dengan Satuan Kerja Perangkat Kabupaten (SKPK) Aceh, Senin (01/10/2018) mengatakan, terkait pelaksanaan jaringan irigasi Alue Diam, Bupati akan memerintahkan dinas terkait bersama Inspektorat untuk lakukan audit.

“Terhadap pelaksanaan proyek jaringan irigasi Alue Diam, saya akan perintahkan Kepala Dinas bekerjasama dengan Inspektorat untuk mengaudit,” kata H. Ramli. MS. Sedangkan adanya penambahan anggaran Rp 300 juta untuk pembangunan Jembatan Gantung Cot Punti, orang nomor satu Aceh Barat itu juga meminta dinas terkait untuk turun lapangan, guna melihat langsung kondisi riil.

"Sebab, terhadap penambahan dana di Cot Punti, itu teknis yang bisa menjawab,” ujar Bupati.

Sebaliknya, jika hasil turun lapangan tidak sesuai, harap Bupati Aceh Barat, anggaran itu dihapus. Namun jika anggarannya masih kurang, maka pada anggaran 2019 akan dilanjutkan kembali. “Kalau itu tidak sesuai spek atau tidak tepat sasaran, itu lebih bagus dibatalkan, tapi itu dinas teknis yang bisa menjawab. Sebaliknya, apakah dananya kurang akan dianggarkan 2019,” jelas Bupati Aceh Barat H. Ramli. MS.***

Komentar

Loading...