Pertama di Aceh Barat

Bisnis Pelacuran Bawah Umur Pasutri Terungkap

Bisnis Pelacuran Bawah Umur Pasutri Terungkap

Meulaboh | Pengungkapan bisnis esek-esek (prostitusi) yang mempekerjakan perempuan bawah umur, berawal dari informasi masyarakat, sekira pukul 16.00 WIB, Jumat (16/03/2018).

Informasi mengejutkan ini, kemudian dikembangkan anggota Reskrim Polres Aceh Barat, hari itu juga.

Nah, berselang sekitar satu jam kemudian, anggota polisi mrlakukam penyamar an sebagai pelanggan untuk menggunakan jasa perempuan yang dibekuk itu.

“Tanggal 16 Maret 2018 anggota Bareskrim mendapat informasi dari masyarakat bahwa adanya mucikari yang memperdagangkan anak di bawah umur. Itu sekitar pukul 16.00 WIB,” kata Kapolres Aceh Barat AKBP Raden Bobby Aria Prakasa, melalui  KBO Reskrim IPDA N. P. Panggabean, Minggu (18/03/2018) malam.

Lalu, anggota Reskrim Polres Aceh Barat menghubungi mucikari penyedia jasa esek-esek ini, yaitu Eka (35) yang tak lain istri dari Erw (41). Komunikasi via telpon anggota Polisi Reskrim Aceh Barat dengan Eka berjalan lancar.

Anggota polisi menanyakan pada Eka, apakah ada menyediakan perempuan. Diduga tanpa curiga, Eka pun menjawab ada. Lalu, anggota Reskrim Polres Aceh Barat meminta Eka menjemputnya di salah satu warung, Jalan Meulaboh-Banda Aceh. Anggota polisi itu beralasan, ia tidak tahu alamat rumah.

Eka kemudian meminta suaminya, Erw untuk menjemput anggota polisi yang berlagak sebagai pemakai jasa perempuan bawah umur tadi. Tanpa pikir panjang, Erw pun menjemput dan bertemu dengan anggota polisi dari Polres Aceh Barat, serta melanjutkan perjalanan dengan menggunakan kendaraan roda dua masing-masing, menuju rumah pasangan suami (Eka-Erw), di  kawasan Gampong Seuneubok, Kecamatan Johan Pahlawan, Kabupaten Aceh Barat.

Sampai di rumah mucikari, anggota polisi tadi berbincang-bincang sejenak. Lalu menyerahkan uang sRp 450 ribu untuk satu trep. “Anggota menelpon, apa bisa menyediakan perempuan. Lalu, di jemput dan di bawa ke rumah. Bicara sebentar, lalu anggota memberikan uang Rp 450 untuk sekali trep,” kata Polres Aceh Barat melalui KBO Reskrim Aceh Barat IPDA N.P. Panggabean.

Setelah menyerahkan uang, anggota polisi tadi menuju ke kamar rumah kontrak mucikari tersebut. Di dalam kamar, ada perempuan berusia 15 tahun, sebut saja namanya Keong yang sudah menunggu.

Setelah memastikan ada, kemudian tim yang dipimpin Kanit Eksus Reskrim AIPDA Firdaus, langsung menangkap Eka dan Erw serta Keong yang masih berusia 15 tahun tadi. “Uang diterima pemilik rumah itu, lalu ditanya mana perempuan tersebut, sudah ada dalam kamar. Kemudian masuk petugas,” ujarnya.

Pasangan suami (pasutri) diamankan di Polres Aceh Barat. Sedangkan Keong, dikembalikan pada orang tuanya, juga disaksikan kepala desa  setempat yang masih satu kecamatan dengan rumah kontrakan pasutri tadi.

“Anggota mengembangkannya, setelah sekitar lebih kurang pukul 17.00 WIB, undercover untuk membuktikan,” kata Kapolres Aceh Barat melalui KBO Reskrim Aceh Barat, Minggu malam (18/03).

Saat penangkapan, hanya satu perempuan pemuas nafsu yang ada di rumah kontrakan mucikari tadi.

“Waktu itu cuma satu orang, sudah ada di rumah,” katanya. Menurut tersangka, Keong baru berkerja sebagai pemuas pria hidung belang. 

“Menurut keterangan tersangka, anak bawah umur imi baru sekitar bulan Maret 2018 bekerja,” kata Kapolres Aceh Barat.

Kemudian, Rp 450 ribu sebagai upah perkara pemuas nafsu tersebut, pekerja mendapat bagian Rp 300 ribu dan mucikari Rp 150 ribu. Sedangkan tersangka akan dijerat dengan Pasal 76i Jo Pasal 88 Undang-Undang Nomor 35 tahun 2014 tentang perlindungan anak. Kasus esek-esek yang memperkerjakan perempuan bawah umur, sedang didalami oleh Polres Aceh Barat.

Lalu, saat ini Eka dan Erw ditahan, dua anaknya sempat mendatangi Mapolres Aceh Barat. Bahkan sempat pulang larut malam dan minta polisi bebaskan kedua orang tuanya. Polres Aceh Barat melalui IPDA N.P. Panggabean mengaku, kasus tersebut pertama  terjadi di Aceh Barat.***

Komentar

Loading...