Bisnis Kreatif, Mengelola Limbah Tulang Ikan Jadi Pakan

Bisnis Kreatif, Mengelola Limbah Tulang Ikan Jadi Pakan
Ridwan, pengelola limbah ikan menjadi pakan ternak (Foto: Aidil Firmansyah)

Meulaboh | Jika mendengar kata Limbah pasti tersebit tentang pencemaran lingkungan atau hal yang merusak dan kotor. Namun, jika dikelola dan diolah dengan baik, tentu malah menjadi suatu yang menguntungkan dan bermanfaat.

Seperti yang dilakukan Ridwan, warga Desa Ujong Kalak, Kecamatan Johan Pahlawan, Kabupaten Aceh Barat. Dia pelaku usaha pembuatan ikan keumamah atau ikan kayu. Patut menjadi contoh bagi para pengusaha serupa. Sebab limbah tulang ikan yang dihasilkan, tidak terbuang begitu saja.

“Dulu limbahnya dibuang, sekarang sudah tidak lagi karena juga bisa diolah dan dimanfaakan menjadi pakan ternak,” kata Ridwan kepada MODUSACEH.CO, Selasa (12/3/2019).

Sebagai pembuat ikan kayu, inovasi bisnis kreatif limbah tulang ikan itu diketahui Ridwan dari rekannya di daerah lain. Kini ia tidak lagi membuang limbah begitu saja karena itu juga bernilai ekonomis. Bahkan hasil dari penjualan pakan ternak berbahan baku tersebut juga cukup menjanjikan.

Ridwan mengatakan, pembuatan ikan kayu berbahan baku dasar daging ikan tongkol. Setelah ikannya dibersihkan kemudian direbus hingga dagingnya lunak dan dapat dipisahkan dari tulang. Selain ikan kayu usahanya tersebut juga memproduksi berbagai ikan asin dengan harga terjangkau.

Usai direbus, kata Ridwan, daging ikan yang telah dipisahkan kemudian dijemur untuk melanjutkan tahapan pembuatan ikan kayu. Sementara tulang dan bagian ikan lainnya, disatukan untuk direbus agar lebih lunak, baru dijemur supaya bau dari tulang ikut hilang.

“Kalau keringnya tergantung cuaca, jika cuacanya terik dan panas pasti cepat kering. Sebaliknya kadang proses penjemuran memakan waktu hingga 2 sampai 3 hari sebelum dihaluskan dan dibuat menjadi pakan ternak,” sebut Ridwan.

Ia melanjutkan, bahan baku limbah ikan yang sudah kering itu lalu dibuat menjadi halus dengan mesin penggiling. Dalam prosesnya ia membagi dua jenis, yakni kasar dan halus. Harga yang dijual per kilogramnya hanya Rp 5 ribu sampai Rp 7 ribu sesuai dengan kualitas yang sudah jadi. 

“Yang paling halus itu dapat dipakai untuk pakan ternak seperti lele dan ikan rawa lainnya, sementara yang sedikit kasar kebanyakan dipakai untuk pemberian pakan unggas seperi ayam dan itik, tapi usaha utama kita ikan keumamah. Sementara pakan dari limbah tulang ikan ini dapat kita anggap sebagai sampingan, sembari membuat ikan asin,” katanya.

Ridwan  telah melakoni itu hampir dua tahun. Kendala utama dalam memproduksi pakan ikan ini adalah, keterbatasan bahan baku dan modal untuk mengembangkan usaha agar dapat bersaing di pasar nasional. Industri skala rumah tangganya sekarang hanya mampu berproduksi 1 ton sampai 1,5 ton pakan per bulan.

Pakan tersebut dilepas ke pasar lokal di Aceh Barat dan pedagang di Kota Banda Aceh. Bahkan, kata dia, karena harganya tidak seberapa mahal, ada beberapa warga dari kabupaten lain datang ke tempat usahanya untuk membeli pakan dari limbah tulang ikan tersebut.

"Usaha pakan baru berjalan hampir dua tahun, selama ini yang sudah terbangun usaha pengolahan ikan kayu saja. Tentunya ini sangat membantu petani tambak dan peternak unggas karena harga murah dan terjangkau, apalagi kita tidak menggunakan campuran bahan kimia apa pun," jelasnya.***

Komentar

Loading...