Cover Story

“Birahi” Seratus Hari Pemerintahan Irwandi

“Birahi” Seratus Hari Pemerintahan Irwandi
dok. MODUSACEH.CO
Penulis
Rubrik

MODUSACEH.CO | Pengajuan dana Rp 10 miliar untuk panjar pembelian enam pesawat Shark Maritim, membuka kembali posisi Gubernur Aceh Irwandi Yusuf terhadap perusahaan tersebut. Dia mengaku sebagai agen untuk Asia Tenggara.

Bisa jadi, itulah awal sebab musabah mengapa Badan Anggaran (Bangar) DPR Aceh terkesan ogah menyetujuinya. Maklum, selain jenis dan kepentingan, soal usulan uang panjar Rp 10 miliar, juga dipertanyakan.

Tapi, bukan Irwandi namanya jika tak pinter berdalih. Melalui akun facebooknya, sosok yang disebut-sebut ahli propaganda ini pun memberikan klarifikasi bertajuk; SPESIFIKASI DAN BIAYA OPERASIONAL PESAWAT TIPE SHARK MARITIM. Ibarat eksekutif marketing, dia pun mengurai speks pesawat tersebut. Termasuk biaya operasional dan gaji pilot.

Sikap Irwandi ini tentu tak aneh. Sebab, Senin, 16 Januari 2017 lalu, pada awak media dia mengaku sebagai agen dari perusahaan tersebut. “Karena saya menjadi agen untuk Asia Tenggara, maka pesawat itu saya beli dengan harga Rp 700 juta,” katanya pada wartawan yang hadir memenuhi undangan coffee morning di kediamannya, kawasan Lampriet, Banda Aceh.

Menurut Irwandi, pesawat Shark Aero made in pabrik Slovakia itu bisa didapatkan dengan harga yang relatif murah atau setara Rp 1,8 miliar. Nah, dia pun menyentil, jika  dibandingkan harga Bus Simpati Star yang mencapai Rp 3,5 miliar. Kabarnya, Bus Simpati Star yang disinggung Irwandi tadi, milik mantan pejabat Aceh.

Masih kata Irwandi, karena dia agen pabrikan pesawat itu, maka mendapat diskon besar, hingga dia bisa mendapatkan pesawat tersebut dengan harga Rp 700 Juta. Dari harga tersebut, Irwandi mengaku jika diakumulasi bisa didapatkan tiga unit Toyota Avanza, dan keseluruhan biaya yang dihabiskan untuk Pesawat Eagle One "Hana Karu Hoka Gata" Rp 1 miliar, karena harus menanggung biaya pengiriman dan pajak.

Nah, dengan sedikit sesumbar pula, Irwandi menyebut bahwa pesawatnya, satu-satunya di Asia. Bahkan, dirinyalah satu-satunya pilot yang bisa menunggangi pesawat itu. “Di Asia cuma saya, yang orang Indonesia dan orang Aceh. Orang Aceh harusnya bangga,” kata Irwandi, setengah bercanda.

Itu sebabnya, Irwandi berharap ada kaum tajir di Aceh yang mengikuti jejaknya, menyukai dunia dirgantara. Apalagi, hobi ini tidaklah semahal tampilannya. “Mana lebih mahal dengan Toyota Alphart? Mana Lebih mahal dengan Land Cruiser, Super Cherokee dan Mercy? Mana lebih mahal dengan Simpati Star (nama bus yang beroperasi di Aceh),” ucapnya saat itu. Menariknya, wartawan yang hadir saat itu menyambutnya dengan penuh tawa.

Persoalan kemudian muncul. Keinginan atau 'birahi' program seratus hari Irwandi ini, tak langsung diamini Badan Anggaran (Banggar) DPR Aceh. “Sebenarnya ndak masalah, tapi kami perlu tahu apakah dibenarkan secara aturan dan undang-undangan pengadaan pesawat itu dengan panjar. Bukankah melalui system e-katalog dan lelang terbuka,” kritik Nurzahri, Ketua Komisi II DPR Aceh pada media ini.

Lantas, adakah kaitan usulan pembelian pesawat tadi dengan posisi Irwandi sebagai agen perusahaan itu untuk asia tenggara? Simak kupasan tajam dan mendalam di di Tabloid Berita Mingguan MODUS ACEH, edisi 23, beredar mulai, Senin, 2 Oktober 2017.

Komentar

Loading...