Breaking News

Secarik Catatan dari Dataran Tinggi Gayo (bagian dua)

Biar Kedua, Walau tak Bahagia Asal Jangan Sengara!

Biar Kedua, Walau tak Bahagia Asal Jangan Sengara!
serambinews.com
 
Banda Aceh | Amarah dan dendam SZ, istri kedua Mansyur Ismail, anggota DPRK Bener Meriah, mensahihkan sebuah fakta. Tak selamanya poligami membawa ‘bahagia’. Sebaliknya, menimbulkan keretakan rumah tangga, bahkan harus dibayar dengan nyawa. Begitupun, banyak wanita menyadari resiko tersebut. Tapi, karena tak ada pilihan, mereka pun rela menjadi istri kedua jika tak elok disebut simpanan. Walau mereka mengaku tak bahagia, asal tidak sengsara. Itu saja sudah cukup!
***
Awalnya saya ‘curhat’ pada adik saya (AF -red). Saya bilang, ‘Dik, saya sedih dan sakit kali hati.’ Adik saya sempat bertanya, ‘Kenapa, Kak?’ Lantas saya jawab, ‘Saya sudah banyak diam dan mengalah, tetapi sering diteror oleh anak suami saya dan sering dipukuli oleh anak suami saya itu’. Padahal, saya memilih suami ini, saya tinggalkan keluarga. Meski keluarga tidak setuju, tapi saya tetap menikah dengan suami saya ini (Mansyur Ismail-red).
 
Itulah pengakuan  SZ (35), tersangka utama penggranatan mobil dinas anggota DPRK Bener Meriah, Sabtu sore (17/9/2016) lalu. Pengakuan itu disampaikan  SZ (35) dalam wawancara eksklusif dengan Harian Serambi Indonesia, Banda Aceh, Kamis, 22 September 2016 lalu.
 
Seperti banyak kisah lainnya, SZ memaparkan semua duka dan nestapanya. Sebagai istri kedua, posisinya kerap mendapat teror dan intimidasi dari almarhum Aulia Tahar, putra tertua Mansyur. “Karena saya kesal sering diintimidasi,” ucap SZ.
 
Sebaliknya, SZ menyebutkan, hubungannya dengan suami, tetap baik-baik saja. “Tidak pernah ribut. Komunikasi juga bagus. Bahkan dia sering mengunjungi saya ke rumah,” ungkap SZ pada Serambi Indonesia. SZ menikah dengan Mansyur bulan Oktober  2015 lalu.
***
Berbeda dengan SZ, perjalanan hidup yang dialami Anisa (30) bukan nama sebenarnya, relatif lebih baik. Sebagai istri kedua dari pernikahan sirinya dengan salah seorang pejabat SKPA basah di Banda Aceh. Nisa begitu dia akrab disapa, mengaku mendapat perhatian lebih dari sang suami. “Ya, pinter-pinter saya. Bagaimana membujuknya untuk mengirim uang setiap bulan serta membeli rumah buat saya dan anak. Walau dia datang minimal sebulan sekali ke Takengon. Kami juga bisa ketemu di Medan atau Jakarta,” ungkap mantan janda beranak satu ini.
 
Pengakuan Nisa terjadi dengan tidak sengaja. Paska pemberitaan tertangkapnya AF (26), adik kandung SZ, Sabtu malam kemarin, media ini mendapat kirim pesan melalui surat elektronik (email). “Kasihan nasib Kak SZ. Saya ikut berduka dan sedih. Alhamdulillah, Allah masih tetap melindungi saya. Kalau boleh saya bercerita dan MODUS ACEH mau memuatnya. Salam, Nisa (08526040XXXX),” begitu tulisnya singkat. Pesan itu dikirim ke email pribadi saya. Katanya, dia mendapat alamat email itu dari salah seorang wartawan di Takengon, setelah dia baca berita tertangkapnya AF, adik SZ. “Itu rahasia, yang pasti alamat email bapak saya dapat dari abang-abang wartawan di Takengon,” sebut Nisa.
 
Awalnya, kabar tersebut tak membuat saya ‘tergoda’. Namun, Minggu pagi tadi, pesan serupa masuk kembali, lengkap dengan fotonya. “Biar Anda kenal, tapi tolong foto saya jangan dimuat ya,” pesan dia. Benar saja, salah seorang wartawan di Takengon kemudian menghubungi saya. Dia memberi kabar ada seorang perempuan yang meminta nomor telpon dan alamat email saya. “Karena belum ada izin dari abang, makanya saya tidak beritahu nomor handphone dan saya kasih alamat email aja,” sebut wartawan tadi.
 
Apa mau dikata, nasi sudah jadi bubur. Andai pun saya larang, toh semua sudah terjadi. Nah, dari sanalah berbagai cerita tentang poligami, perceraian dan perselingkuhan saya peroleh dari Nisa. “Biasa itu, ada juga teman-teman Anda yang wartawan poligami dan bercerai kemudian menikah lagi,” ungkap Nisa.
 
Nisa berkisah, banyak hal yang menjadi penyebab, kenapa perempuan di dataran tinggi Gayo, lebih memilih bercerai kemudian jadi janda dan mau menjadi istri kedua dari para pejabat atau anggota DPRK, Bahkan, ada dari anggota DPR Aceh. Sebut Nisa, semua itu tak lepas dari himpitan ekonomi dan tuntutan hidup. Umumnya, perempuan yang menikah di usia muda. Selain itu, ada juga yang terlanjur berbuat yang dilarang agama. Misal, hamil di luar nikah. “Dari pada malu keluarga, lebih baik menikah,” ujar Nisa.
 
Tak hanya itu, ada juga karena faktor sosial, budaya dan gaya hidup. Mereka ingin tampil seperti layaknya perempuan di perkotaan. Hidup serba cukup serta memiliki tabungan yang memadai. Salah satunya Nisa, yang menikah diusia relatif muda, 20 tahun, enam tahun lalu atau 2010 silam. “Capek juga kerja belasan tahun sebagai honorer bidan desa atau perawat dengan gaji Rp 700 ribu per bulan. Untuk biaya makan saja kurang, bagaimana dengan perawatan tubuh,” ungkap Nisa yang juga mantan istri seorang staf dinas basah di Banda Aceh.
 
Nisa mengaku berkenalan dengan mantan suaminya itu, saat Somad (nama samaran) bertugas ke Aceh Tengah, mengawasi sejumlah proyek. Dia juga diperbantukan sebagai staf Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) NAD-Nias untuk wilayah Aceh Tengah. Dari kenalan singkat tersebut, Nisa menerima lamaran Somad yang sudah beristri dan punya dua anak tersebut. “Saya suka dia dan dia mau dengan saya, akhirnya kami menikah walau keluarga saya berat untuk menerimanya. Lalu, dia buat rumah untuk saya hingga anak kami lahir. Lalu, kami berpisah secara baik-baik,” kata Nisa berkisah.
 
Itu sebabnya, jika ada pejabat atau anggota DPRK Aceh Tengah, Bener Meriah, DPR Aceh atau pejabat Aceh serta pengusaha yang mau menikahkan dengan mereka, peluang itu langsung disambut. Maklum,  selain mendapat biaya hidup tiap bulan, juga bisa diangkat menjadi PNS. “Paling tidak bisa diurus untuk pindah ke puskesmas terdekat atau rumah sakit umum,” papar dia.
 
Satu hal yang patut dicatat sebut Nisa, menjadi istri kedua jika tak elok disebut simpanan, memang resikonya tinggi. Terutama jika ketahuan istri tua. “Bisa berantakan. Sedikit sekali ada istri tua yang mau menerima dan di madu,” tutur Nisa.
 
Nah, agar semua berjalan lancar, banyak pejabat di sana yang sengaja membeli atau mengontrak rumah buat istri mudanya. “Kalau pun bapak datang (sebutan) untuk suaminya, masyarakat tidak curiga. Selain sudah menikah juga di rumah sendiri. Gampang kan,” kata Nisa. Selain dirinya, Nisa juga menyebut beberapa nama temannya yang hingga kini masih menyandang status istri kedua alias simpanan. Ada yang bersuamikan anggota dewan, pengusaha serta pejabat di Aceh Tengah, Bener Meriah maupun Banda Aceh. “Teman saya si Mawar (samaran) sampai saat ini masih istri bapak Badu (samaran), anggota dewan di Banda Aceh,” ungkap dia. Kata Nisa, Mawar janda anak satu juga. Dia bercerai dengan suami pertama, karena sering mendapat siksaan. Selain itu, suami lamanya tak punya pekerjaan tetap, tapi suka menegak minuman keras. “Kalau sudah mabuk suka mukul pula. Makanya Mawar minta cerai,” papar Nisa.
 
Ada lagi, sebut saja Bunga dan Intan (keduannya nama samaran). Bunga minta bercerai dari suami pertamanya yang berprofesi sebagai pengusaha, karena ketahuan berselingkuh. “Padahal kurang apa, dia cantik dan putih. Tapi suaminya tega mengandeng mahasiswi di Banda Aceh,” ujar Nisa. Itu terjadi saat suami pulang pergi dari Takengon ke Banda Aceh dengan dalih mencari proyek. Sementara Intan, terpaksa bercerai karena suami yang berusia 15 tahun dari dia, sudah tak mampu lagi memberi nafkah batin. “Uangnya banyak, kebun kopinya puluhan hektar. Tapi kan tidak cukup dengan itu. Dari pada dia berbuat dosa dengan orang lain, lebih baik bercerai saja,” sebut Nisa.
 
Kini, Nisa, Bunga dan Intan juga sudah menikah alias menjadi istri kedua dari oknum pejabat di Aceh Tengah, Bener Meriah dan Aceh. “Itu saja dulu. Terima kasih ya,” ucap Nisa, mengakhiri kisahnya. Dia juga berkali-kali mengingatkan saya untuk tidak menulis dan memasang foto dirinya.***

Komentar

Loading...