Breaking News

Hasil Pileg 2019, Caleg NasDem Terjun Bebas di Aceh

Berharap Surya Paloh Ikhlas Terima Kenyataan

Berharap Surya Paloh Ikhlas Terima Kenyataan
Surya Paloh bersama Abu Razak (Foto: acehportal.com)

MODUSACEH.CO | KONTESTASI pesta demokrasi lima tahunan bernama pemilihan presiden (Pilpres) dan pemilihan legislatif (Pileg), 17 April 2019 berakhir sudah. Ini sejalan dengan selesainya rekapitulasi perhitungan suara yang dilakukan Komisi Pemilihan Independen (KIP) Aceh, Senin, 13 Mei 2019 dini hari lalu di Gedung DPR Aceh, Banda Aceh.

Walau sempat muncul beberapa protes dari para saksi peserta kontestasi (Piplres, DPD, DPR RI, DPRA dan DPRK). Namun, kondisi tersebut masih dalam batas wajar. Selanjutnya, penyelesaian ada di tangan pimpinan partai politik (parpol). Kika tak sejalan dan sepakat, maka jalan terakhir ada di Mahkamah Konstitusi (MK) di Jakarta.

Tentu, apa pun hasilnya, tetap saja melahirkan kesan berbeda. Ada yang gembira karena meraih suara maksimal. Namun, ada pula yang berduka, karena capaian suara (kursi) tak sesuai target. Nasib tak elok ini pula yang dialami Partai Nasional Demokrat (NasDem) Aceh.

Bayangkan, jika Pemilu 2014, Partai Nasdem mampu menguasai 8 kursi DPR Aceh dan 62 kursi DPRK (kabupaten dan kota) di Aceh serta berhasil menempatkan kadernya sebagai salah satu pimpinan DPR Aceh. Namun, tidak halnya dengan hasil Pileg 2019. NasDem hanya mampu meraih dua kursi di DPR Aceh dan 49 di kabupaten-kota.

Tragisnya, untuk kursi DPR RI Senayan, Jakarta. NasDem tak meraih satu kursi pun pada Pileg 2019, sementara 2014 mampu merebut dua kursi dari dua daerah pilihan (dapil) di Aceh. Kondisi pahit ini, diakui atau tidak, telah mengusik psikologis para kader dan petinggi partai politik yang lahir  di era reformasi ini. Terutama sang pendiri partai restorasi tersebut; Surya Paloh. Pengusaha berdarah Aceh yang menetap di Jakarta.

Lantas, apa yang menjadi penyebab NasDem begitu terpuruk di Aceh? Secara pasti tentu sulit untuk menjawabnya. Sebab, politik tak bisa diukur mutlak dengan rumus matematis dan hitam-putih. Begitupun, beberapa variabel tak salah jika dijadikan pendekatan. Misal, Partai NasDem di Aceh, terlalu all out dan full melakukan kampanye untuk memenangkan pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden 01, Joko Widodo-Ma’ruf Amin, sehingga relatif over confiden (percaya diri berlebih) untuk memenangkan caleg yang diusung partai.

Kondisi ini tentu saja berbeda dengan parpol pengusung Paslon 01 lainnya seperti, Partai Golkar, PKB, Hanura dan PPP. Kecuali PDIP. Jika tak elok disebut relatif pasif, mereka tampil lebih landai alias “bermain cantik”. Kedua, sebagai partai pengusung Paslon 01, Partai NasDem di Aceh juga menerima efek dari kampanye hitam tentang partai “penista agama” yang berlaku secara nasional (masid). Termasuk di Aceh.

Dalam konteks politik identitas, bisa jadi pendapat Prof. Mahduf MD bahwa Aceh merupakan basis “Islam Garis Keras” ada benarnya. Dan, Partai NasDem menerima akibat dari pemahaman Islam kultural dan ideologis yang dipegang teguh rakyat Aceh.

Ketiga, mengusung sejumlah mantan politisi Partai Aceh (PA) untuk kursi DPR RI, dinilai sebagai taktik yang telah berakibat memakan strategi. Sebab, saat mereka menjadi anggota DPR Aceh, tak ada prestasi yang bisa dibanggakan.

Bahkan, pembentukan Sekretariat Bersama (Sekber) Partai Aceh-Partai NasDem, dinilai sebagai salah satu penyebab terjadinya turbulensi politik terhadap partai ini. Sebab, masuknya sejumlah mantan politisi PA sebagai caleg NasDem semakin membuat partai ini tereliminasi dari pilihan rakyat Aceh.

Hanya itu? Tunggu dulu. Kinerja 8 anggota DPRA dari NasDem selama lima tahun lalu, juga dinilai tak memberi kesan dan peran positif kepada rakyat Aceh. Situasi semakin kritis, ketika kiprah dua anggota DPR RI dari NasDem yaitu; Zulfan Lindan dan Prof Bahtiar Aly, juga bernasib setali tiga uang.

Sebagai Ketua Forum Bersama (Forbes) DPR RI Senayan, Jakarta, Prof Bahtiar Aly juga dikenal pasif dengan berbagai persoalan yang terjadi di Aceh, terutama terhadap konflik regulasi antara Aceh dan Jakarta.

Sebenarnya, jika mau jujur, tanda-tanda kemunduran Partai NasDem di Aceh telah terlihat dari hasil Pilkada 2017-2018 lalu. Ini terbukti dari sejumlah kandidat yang diusung dan didukung Partai NasDem, mayoritas kalah dalam pertarungan.

Bayangkan, dari 23 kabupaten dan kota, Partai Nasdem hanya berhasil unggul di lima kabupaten dan kota. Misal, mengusung paslon Bupati Aceh Barat Daya (Abdya), Banda Aceh, Aceh Besar, Bireuen dan Kota Langsa. Selebihnya kalah.

Pada Pilkada 2018, nasib serupa juga dialami partai ini. Di Kabupaten Pidie Jaya misalnya, Nasdem mengusung Yusri Yusuf (Yusri Melon)-Saifullah dan di Aceh Selatan, HT. Sama Indra SH-Drs H Harmaini M.Si. Hasilnya juga terjun bebas.

Nah, inikah yang disebut; taktik telah memakan strategi? Hanya merekalah yang tahu. Yang pasti, Partai NasDem di Aceh harus segera melakukan revitalisasi dan restorasi secara menyeluruh serta berharap; Bang Surya Paloh dapat ikhlas menerima kenyataan pahit ini. (Selengkapnya baca Laporan Utama edisi cetak, beredar mulai Rabu, 15 Mei 2019).***

Komentar

Loading...