Berharap Irwandi Jujur dan Kesatria

Berharap Irwandi Jujur dan Kesatria
Foto: coconuts.co

MODUSACEH.CO | Menjalani hidup, tentu banyak hal yang tidak disangka-sangka bisa terjadi. Itu sebabnya, walau banyak yang sudah kita rencanakan, kita hitung dan prediksi. Faktanya bisa saja tidak terjadi atau terwujud.

Sebaliknya, yang tak disangka-sangka atau inginkan, justeru itulah yang terjadi. Salah satunya, nasib yang kini dialami Gubernur Aceh nonaktif Irwandi Yusuf. Dia terjerat Operasi Tangkap Tangan (OTT), Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), 3 Juli 2018 lalu di Banda Aceh.

Diduga, Irwandi menerima sejumlah dana (gratifikasi) dari Bupati Kabupaten Bener Meriah nonaktif Ahmadi, terkait proyek yang bersumber dari Dana Otonomi Khusus Aceh (DOKA) 2018.

Inilah kenyataan hidup. Ada kalanya kita kalah, juga menang. Semua itu merupakan kesempatan untuk proses pendewasaan dan kematangan bagi seseorang. Menang menjadi santun dan rendah hati, jika kalah tetap tegak berdiri dan tak menyalahkan orang lain.

Itu sebabnya, saat kalah pada kontestasi Pilkada 2012, Irwandi mampu meyakinkan rakyat Aceh, memilihnya kembali pada Pilkada 2017. Hasilnya, dia meraih dan menuai kemenangan.

Tak hanya itu, dia juga memastikan bahwa semua program akan berjalan sesuai aturan dan tetap bisa dinikmati rakyat daerah ini dengan bebas dan nyaman, tanpa ada tekanan serta intervensi dari siapa pun. Termasuk dirinya sendiri, sahabat dan kerabat maupun keluarganya.

Simpati kemudian diraihnya dengan penuh suka cita, tat kala dia berikrar bahwa dirinya menerapkan mahzab: hana fee  (tidak ada punggutan maupun fee) dari sejumlah anggaran pembangunan daerah.

Namun, semua itu terbantahkan saat proses hukum berlangsung di KPK (gugatan praperadilan). Lembaga anti rasuah itu pun dengan terang menderang, menjawab semua pernyataan Irwandi sebelumnya. Mulai dari mahzab hana fee, nikah siri dengan Steffy Burase hingga aliran dana Rp 16 miliar dari ijon proyek Dermaga CT-3 tahun 2012 silam.

Ironisnya, semua itu dibantah Irwandi dengan sejumlah dalil dan alibi, yang  pada gilirannya, sadar atau tidak akan semakin memojokkan posisinya di mata hukum. Selain itu, citra jujur dan kesatria yang selama ini ditunjukkan dan pertontonkan Irwandi kepada rakyat Aceh. Ternyata, tak sesuai kata dengan perbuatan.

Kini, rakyat Aceh bisa belajar. Ternyata, seorang pemimpin yang selama ini dinyakini jujur dan berjiwa kesatria, mau mengaku serta belajar dari kesalahan masa lalu dan cepat memperbaiki diri melalui tindakan-tindakannya. Sekali lagi,  ternyata tak kita temui pada diri Irwandi saat ini.

Bisa jadi, Irwandi tak sadar jika orang yang defensif, tidak mengakui kesalahan bahkan menghindar, sudah tidak memiliki tempat di hati manusia-manusia kritis dan modern saat ini.

Kebiasaan untuk menghindar dari kesalahan sudah tidak lagi bisa diterima. Sebab, informasi sudah terlalu terbuka sehingga orang dengan mudah bisa mencari kebenaran fakta yang dibicarakan.

“People want to see you own it. They want to see you say, straight-up, ‘I did it and I regret having done this”. (Orang ingin melihat Anda memilikinya. Mereka ingin melihat Anda berkata langsung; saya melakukannya dan saya menyesal telah melakukan ini). Begitulah kira-kira arti dan maknanya.

***

Kepemimpinan melayani dimulai dari dalam diri sendiri. Kepemimpinan menuntut suatu transformasi dari dalam hati dan perubahan karakter. Kepemimpinan yang melayani, dimulai dari dalam dan kemudian bergerak keluar untuk melayani mereka yang dipimpinnya.

Disinilah pentingnya karakter dan integritas seorang pemimpin untuk dapat diterima oleh rakyat yang dipimpinnya. Faktanya, betapa banyak pemimpin yang mengaku wakil rakyat ataupun pejabat publik, justru tidak memiliki integritas sama sekali. Sebab, apa yang diucapkan dan dijanjikan ketika kampanye dalam Pilkada lalu, justeru tidak sama dengan yang dilakukan ketika sudah duduk nyaman di kursi kekuasaan.

Ken Blanchard, seorang penulis dan ahli manajemen Amerika menyebut, ada sejumlah ciri-ciri dan nilai yang muncul dari seorang pemimpin yang memiliki hati yang melayani; tujuan utamanya adalah, melayani kepentingan mereka yang dipimpinnya. Orientasinya bukan kepentingan diri pribadi maupun golongan dan keluarga, justru kepentingan publik yang dipimpinnya.

Seorang pemimpin, harusnya memiliki kerinduan untuk membangun dan mengembangkan mereka yang dipimpinnya, sehingga tumbuh banyak pemimpin dalam kelompoknya. (baca: John Maxwell; Developing the Leaders Around You).

Keberhasilan seorang pemimpin sangat tergantung dari kemampuannya untuk membangun orang-orang di sekitarnya, karena keberhasilan sebuah organisasi sangat tergantung pada potensi sumber daya manusia dalam organisasi tersebut.

Jika sebuah organisasi atau masyarakat mempunyai banyak anggota dengan kualitas pemimpin, organisasi atau daerah dan bangsa tersebut tentu akan berkembang dan menjadi kuat.

Pemimpin yang melayani memiliki kasih sayang dan perhatian kepada mereka yang dipimpinnya. Itu terwujud dalam bentuk kepedulian akan kebutuhan, kepentingan, impian dan harapan dari mereka yang dipimpinnya. Bukan sebaliknya, caci maki dan saling hujat.

Seorang pemimpin yang memiliki hati melayani adalah,  akuntabilitas (accountable). Berarti, penuh tanggung jawab dan dapat diandalkan. Artinya, seluruh perkataan, pikiran dan tindakannya dapat dipertanggungjawabkan kepada publik. Terutama kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Nah, adakah semua itu pada diri Irwandi, tat kala berhadapan dengan penyidik KPK? Tentu, hanya Irwandi dan rakyat Aceh yang bisa menilainya. Kita hanya bisa berharap, Irwandi jujur dan kesatrialah, menghadapi masalah hukum yang kini menimpa dirinya. Sebab, tak ada asap jika tidak ada api. Dan, Irwandi telah memantiknya. (Selengkapnya, baca edisi cetak, beredar mulai Senin, 22 Oktober 2018).***

Komentar

Loading...