Bergek dan Efek Popularitas

Bergek dan Efek Popularitas
habadaily.com
Rubrik

Awal Desember 2016, kabar tak sedap menerpa Zuhdi (25) atau akrab disapa Bergek. Bersama temannya Safar (27), penyanyi Aceh yang populer dengan tembang Boh Hate ituditangkap Tim Opsnal Satreskrim Polres Lhokseumawe di sebuah kafe Kawasan KP3 Lhokseumawe, Sabtu (3/12) sekira pukul 19.00 WIB. Keduanya ditangkap atas dugaan penganiayaan terhadap Khairul (22), warga Dewantara, Aceh Utara, awal Oktober 2016 lalu.

Terkait kasus ini, polisi juga menetapkan satu lagi teman Bergek sebagai tersangka. Namun, karena buron, pemuda itu dinyatakan buron dan dimasukkan polisi ke dalam daftar pencarian orang (DPO). Polisi menahan Bergek karena insiden yang menjeratnya terjadi di wilayah hukum Lhokseumawe atau persis di pantai Ujong Blang, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe. Tak hanya  itu, Bergek yang juga warga Ulee Jalan dan temannya, Safar, merupakan warga Lancang Garam, sama-sama berada dalam Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe.

Kapolres Lhokseumawe, AKBP Hendri Budiman, melalui Kasat Reskrim AKP Yasir SE pada media pers, Minggu (4/12) menyebutkan, Bergek beserta dua temannya dilaporkan ke Polres Lhokseumawe oleh keluarga Khairul, 10 Oktober 2016, atas dugaan penganiayaan. Sedangkan penganiayaan terjadi beberapa hari sebelum keluarga korban membuat laporan.

Menurut AKP Yasir, sesuai laporan keluarga korban, pada malam kejadian, korban dijemput Bergek bersama sejumlah temannya dengan sebuah mobil di kawasan Dewantara, Aceh Utara. Lalu, korban dibawa ke kawasan Ujong Blang, Kecamatan Banda Sakti, Lhokseumawe. Di lokasi itulah--sesuai keterangan korban kepada penyidik, terjadi penganiayaan. “Ini dilakukan Bergek Cs atas tuduhan bahwa korban telah mengganggu keluarganya Bergek,” kata AKP Yasir. Tidak dirincikan, siapa keluarga Bergek yang diusik korban. Namun, sejumlah sumber menyebutkan, keluarga dimaksud adalah istrinya.

Akibat penganiayaan ini, lanjut AKP Yasir, sesuai hasil visum et repertum, korban mengalami luka gores di badan. Berdasarkan hasil keterangan korban kepada penyidik, yang melakukan tindak penganiayaan itu terhadapnya adalah Bergek bersama dua rekannya.

Jadi, setelah melalui berbagai tahap proses penyelidikan, akhirnya polisi menetapkan Bergek bersama dua rekannya sebagai tersangka penganiayaan. “Setelah ditetapkan sebagai tersangka, kita juga sempat melayangkan surat panggilan kepada Bergek dan teman-temannya. Tapi Bergek dan temannya tidak datang menghadap ke Polres Lhokseumawe,” ungkap AKP Yasri.

Dan, karena Bergek serta kedua temannya tidak mau datang ke Polres Lhokseumawe, maka pihaknya terus mencari. Begitu diperoleh informasi bahwa Bergek sedang berada di sebuah kafe di kawasan KP3 Lhokseumawe, Tim Opsnal Satreskrim langsung bergerak ke kafe tersebut dan menangkap Bergek bersama seorang temannya. Untuk sementara, Bergek bersama Safar ditahan di sel Mapolres Lhokseumawe guna proses hukum lanjutan. Sedangkan satu lagi teman Bergek yang diduga terlibat masih terus diburu polisi.

Sementara itu, kuasa hukum Bergek Sayuti Abubakar, SH., M.H mengatakan hingga saat ini kasus yang menimpa kliennya tersebut sedang dalam proses penyidikan. "Dia beserta temannya bernama Safar telah diperiksa dan di-BAP pada malam Minggu kemarin," kata Sayuti Abubakar pada portalsatu.com, Senin, 5 Desember 2016, malam.

Sayuti menyebut perkara yang menjerat kliennya itu sebenarnya persoalan 'kecil'. "Pertengkaran anak muda, seharusnya bisa diselesaikan secara kekeluargaan oleh pihak keluarga dan aparat gampong karena perkara ini masuk dalam yurisdiksi perkara yang bisa diselesaikan oleh aparat gampong," ujarnya. "Tapi di sini polisinya malah lebih proaktif dengan menjerat Bergek dan temennya dengan pasal 170 KUHP dan pasal 351 ( pengeroyokan dan penganiayaan). Seharusnya laporan pelapor dialihkan oleh polisi untuk diselesaikan oleh aparat gampong," kata Sayuti.

Sayuti menjelaskan, Bergek sudah pernah melakukan upaya perdamaian dengan pihak pelapor, tapi kesepakatannya tidak tercapai. "Sampai saat ini pihak keluarga Bergek masih berupaya melakukan upaya perdamaian. Sementara Bergek sendiri baik-baik saja di tahanan polres dan tidak dalam keadaan depresi. Dia rileks saja," sebut Sayuti.

***

Sebagai penyanyi pendatang baru dalam belantika musik Aceh, nama Bergek memang sempat melijit. Ini disebabkan, penampilannya yang mampu mengundang perhatian kaum muda Aceh. Kehadirannya bagai magnet ditengah lesunya musisi Aceh yang tampil seadanya. Begitupun, tak berarti penampilan atau show Bergek berjalan mulus. Lihat saja, beberapa penampilannya sempat mengundang perhatian pemerintah daerah setempat hingga show tersebut dibatalkan. Alasannya beragam, mulai dari persoalan izin hingga tak sesuai syariat Islam. Disisi lain, Bergek juga sempat diisukan tertangkap karena ‘mengunakan narkoba’. Tapi, isu ini kemudian menghilang begitu saja.

 Walikota Banda Aceh saat dijabat Hj Illiza Sa'aduddin Djamal SE misalnya menyebutkan. Konser Adi Bergek di Taman Sri Ratu Safiatudin, Sabtu (12/3/2016 ) malam, tidak sesuai dengan izin yang dikeluarkan Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu (KPPTSP) Kota Banda Aceh.

 Sebab kata dia, saat mengajukan izin kegiatan ke KPPTSP, penyelenggara kegiatan telah membuat pernyataan secara tertulis bahwa dalam pelaksanaan konser akan memenuhi peraturan sesuai dengan kondisi daerah yang melaksanakan Syariat Islam dan memenuhi fatwa tentang syarat-syarat keramaian sesuai Keputusan MPU Aceh Nomor: 6 tahun 2003.

Dalam pernyataan tersebut, kata Illiza, penyelenggara telah menyatakan tunduk sesuai dengan aturan yang berlaku seperti, penonton maupun para pemain atau pemegang peran dalam pertunjukan tidak bercampur antara laki-laki dan perempuan, materi, bentuk, cara penampilan tidak menjurus maksiat, pornografi, tidak membawa kepada syirik, merusak aqidah, melecehkan agama dan moral.

Selanjutnya panitia, pemain, pelayan dan penonton harus berpakaian menutup aurat, sopan, layak dan tempat acara penonton pria dan wanita dipisahkan, diatur secara baik dan pantas. "Namun jika dalam pelaksanaan di lapangan ternyata tidak sesuai dengan pernyataan yang telah dibuat kami kira ini kesalahan dari penyelenggara dan Pemko Banda Aceh akan mengevaluasi panitia,” sebut Illiza saat itu.

Hanya itu? Tunggu dulu. Arena konser Bergek di lapangan Buket Pala, Kecamatan Ranto Peureulak, Aceh Timur, Minggu petang (6/3/2016), tiba-tiba berubah menjadi rusuh ketika massa mengamuk dan membakar panggung beserta semua peralatan pendukung konser. Peristiwa itu disebut-sebut dipicu kekecewaan penonton karena penyanyi fenomenal tersebut tak kunjung muncul.

Maklum sejak pukul 14.00 WIB, Minggu (6/3), penonton sudah memadati lapangan sepakbola Buket Pala dan tampak sangat terkendali meski di bawah sengatan terik matahari. Sambil menunggu tibanya sang idola, panggung diisi oleh penyanyi lokal, A Bakar AR dan timnya.

Kapolres Aceh Timur, AKBP Hendri Budiman SH SIK MH melalui Kapolsek Ranto Peureulak, Iptu Zulfikar saat itu menyebutkan, tidak ada korban jiwa akibat insiden terebut. “Tidak ada korban jiwa maupun luka-luka. Hanya panggung dan semua alat musik yang dibakar massa,” kata Zulfikar. “Penonton merasa ditipu. Itulah dugaan sementara motifnya,” lanjut Zulfikar. Menurut polisi, pada pukul 14.30 WIB, A Bakar AR mengatakan setengah jam lagi atau pada pukul 15.00 WIB Bergek sudah masuk. Nyatanya, hingga pukul 15.30 WIB belum datang juga. “Saat itu emosi penonton masih bisa kami redam. Namun karena hingga pukul 16.00 WIB tidak juga muncul, emosi penonton sudah tidak mampu lagi dikendalikan,” jelasnya.

Kabag Ops Polres Aceh Timur, Kompol Rusman Sinaga yang langsung terjun ke lokasi menyebutkan, saat terjadinya insiden pembakaran, pihaknya langsung mengamankan kru konser Bergek ke Mapolres Aceh Timur. “Mereka diamankan karena khawatir diserang masyarakat,” kata Kompol Rusman Sinaga. Inikah yang disebut Bergek efek? (simak laporan lengkapnya di Tabloid Berita Mingguan MODUS ACEH, edisi 33, beredar mulai Senin, 12/12/2016).***

Komentar

Loading...