Breaking News

Melirik Ocek Penjahit Sepatu

Begini Kondisi Pendapatan Masyarakat Kecil Era Pemerintah Kini

Begini Kondisi Pendapatan Masyarakat Kecil Era Pemerintah Kini
Jahit Sepatu/Foto Juli Saidi
Penulis
Rubrik

Meulaboh | Dua tangan Lizar Adu asal Manggeng, Aceh Barat Daya (Abdya), Minggu pagi (02/09/2018) terlihat lincah.

Jarum di tangan kanan ayah dua anak tersebut terus menusuk di sepatu yang sedang diperbaikinya itu. Diikuti benang, pun merangsek masuk dalam sepatu bergerak lurus melingkari sepatu yang mulai renggang.

Saban hari dari peras keringat di pasar induk Kota Meulaboh, Kecamatan Johan Pahlawan, Aceh Barat, Lizar Adu rata-rata bisa mengupulkan fulus senilai Rp 70 ribu. Jumlah upah yang diterimanya itu, masih hitungan kotor. Sebab, dari Rp 70 ribu ia harus mengeluarkan biaya benang dan lem sekitar Rp 10 ribu.

Biaya pengeluaran lain dari uang 70 ribu tersebut untuk minum kopi dan rokok Rp 10 ribu satu hari. “Kita harus pandai berhemat dengan penghasilan segitu,” kata Lizar Adu, Minggu (02/09).

Lizar Adu harus berhemat bukan tanpa sebab, karena ia mengambil kredit motor sebagai transportasi untuk berangkat kerja. Karena menggunakan angkutan sewa, seperti becak, justeru akan lebih banyak lagi pengeluaran Lizar Adu.

Alasannya, ia tinggal di Peunaga, Kecamatan Meureubo, Aceh Barat. Maka jarak ke tempat ia bekerja, sekali pergi bisa mengeluarkan biaya Rp 15 ribu, sehingga pulang pergi menghabiskan anggaran Rp 30 ribu.

Itu sebab, Lizar Adu memilih mengambil kredit motor yang saban hari ia harus mengumpulkan uang Rp 20 ribu-alias bisa berhemat Rp 10 ribu jika naik becak.

Maka, dari pendapatan Rp 70 ribu per hari, Lizar Adu hanya bisa membelanjakan dari sisa pengeluaran tadi, Rp 30 ribu. Kemudian, Rp 30 ribu tersebut ia gunakan untuk beli beras dan jajan anaknya ke sekolah. Untuk beras, kata Lizar Adu per bambu atau dua liter Rp 16 ribu. “Kalau jajan anak paling bisa kita kasih satu hari Rp 3 ribu,” ujarnya, Minggu pagi.

Lizar Adu meraih rezeki menjahit sepatu, sejak 2014 lalu. Selama empat tahun pekerjaan itu dilakukan, hingga 2018 ini diakuinya belum ada tanda-tanda peningkatan.  

“Dari 2014 lalu saya kerja begini saja pengahasilan saya, juga kawan-kawan lain,” kata Lizar Adu.

Namun ia tetap bersyukur karena masih bisa  membawa pulang uang ala kadarnya untuk keluarganya. Sebab akui Lizar Adu, ada juga sahabat seprofesi dengannya, terkadang ada yang tidak dapat bawa pulang uang, jangan bawa pulang uang, ongkos pulang kadang-kadang kawannya itu terpaksa ngutang.

“Ada juga kawan ngak dapat uang,” jelas Lizar Adu sembari menunjuk meja kerja kawannya, Minggu pagi.

Ayah dua anak ini mengalihkan pekerjaan jadi tukang jahit sepatu sejak 2014 lalu karena sakit pada tahun 2013. Sebelumnya, ia bekerja sebagai tukang becak. Namun karena sakit, sehingga setoran kredit becak tidak bisa diberikan Rp 30 ribu per hari, maka becaknya ditarik.***  

Komentar

Loading...