Breaking News

Terkait Usulan Qanun Legalitas Poligami di Aceh

Anggota DPRA Siti Nahziah: Apakah Perempuan Siap?

Anggota DPRA Siti Nahziah: Apakah Perempuan Siap?

Banda Aceh | Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) dari Fraksi Partai Aceh Hj. Siti Nahziah S.Ag merespon usulan Ketua Organisasi Kepemudaan (OKP) Srikandi Pemuda Pancasila (PP) Kota Langsa, Oktarina, terkait saran agar Pemerintah Aceh membuat qanun legalitas poligami di Aceh, Rabu (16/8/2017) kemarin.

Menurut anggota DPR Aceh dari Daerah Pemilihan Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, Aceh Singkil, dan Kota Subulussalam itu, apakah dengan adanya Qanun Poligami perempuan di Aceh sanggup. “Apakah nanti kita sebagai perempuan siap?” tanya Hj. Siti Nahziah melalui telpon yang mengaku sedang di Sumatera Utara, mengantar orangtuanya menunaikan ibadah haji, Kamis (17/8/2017). Itu sebabnya, Siti Nahziah berpendapat, usulan pembentukan Qanun Poligami itu perlu dikaji dan disosialisasikan terlebih dahulu. Karena bila qanun itu dibuat, sudah pasti akan terjadi pro dan kontra, terutama bagi kaum perempuan.

Sebenarnya, sebut anggota DPR Aceh itu, soal laki-laki atau suami itu menikah lebih dari satu orang sudah diatur dalam Al-Quran--surat An-Nisa. “Dalam Al-Quran, sudah diatur. Saya pikir kalaulah dibuat qanun, sensitif sekali. Kenapa, ini jelas ada pro dan kontra, terutama bagi kami kaum perempuan. Memang yang usulkan itu perempuan, bukan laki-laki,” sebutnya. Karena itu, bagi anggota DPRA yang mewakili perempuan di parlemen menjelaskan, soal poligami cukup berpegang pada Al-Quran saja. Lalu, jika suami ingin menikah lebih dari satu orang, dimusyawarahkan saja dalam rumah tangga masing-masing.

“Kalau menurut saya, tidak perlu qanun. Kalau dalam rumah tangga, bisa dimusyawarahkan kalau setuju. Seperti ulama-ulama, ada juga yang nikah lebih dari satu. Tetapi mufakat dulu. Saya pikir ini kembali pada individu,” katanya.

Sebaliknya, jika dibuat qanun, akan muncul qanun-qanun lain, sedangkan qanun yang sudah ada saja belum maksimal dijalankan. Kata Siti Nahziah, baginya, poligami agak tabu bagi perempuan karena ini tahap kehidupan dan tahap keimanan. “Poligami itu rata-rata suami tidak adil. Perempuan bukan tidak terima poligami tetapi tingkah laku dari laki-laki itu sendiri terhadap perempuan. Memang tidak ada seperti Nabi,” ujarnya.

Lazim terjadi jika suami sudah poligami, ada kewajiban-kewajiban suami yang tidak dijalankan, seperti masalah perhatian dan nafkah suami pada istri atau anak. “Coba lihat poligami hari ini tetap menyiksa istri. Perhatian sudah berkurang, materi juga sudah berkurang. Kalau masalah berbagi itu, tidak ada persoalan saya pikir,” ulas Siti Nahziah, Kamis (17/8/2017).***

Komentar

Loading...