Breaking News

Indonesia Tuan Rumah Press Freedom Day 2017

Anggota Dewan Pers, Nezar Patria: Arah Baik Kebebasan Pers di Indonesia

Anggota Dewan Pers, Nezar Patria: Arah Baik Kebebasan Pers di Indonesia
dok. pribadi/Fb
Rubrik

Paris |Anggota Dewan Pers, Nezar Patria menyebutkan, jika tidak ada halangan, Indonesia akan menjadi tuan rumah World Press Freedom Day 2017, pada 3 Mei 2017 tahun depan. Pertemuan ini, merupakan kesempatan pertama bagi negara di Asia. Informasi tersebut diterima MODUSACEH.CO melalui akun media sosial facebook Nezar Patria. “Benar, informasi itu. Dan, boleh untuk dikutip,” sebut Nezar pada media ini, Jumat pagi (18/11/2016).

Kata Nezar, Ini kesempatan bagus, karena setelah 15 tahun, Indonesia menjadi negara Asia pertama menyelenggarakan World Press Freedom Day. Selain itu, juga peluang bagi media pers di tanah air (Indonesia) untuk melakukan refleksi diri, apakah kebebasan pers sudah banyak manfaat bagi rakyat atau justru sebaliknya. “Di pertemuan ke 30 dari Intergovernmental Council of IPDC (International Programme for the Development of Communication) yang berlangsung di Markas Besar Unesco 17-18 November 2016 ini, dibahas banyak hal tentang kondisi kebebasan pers di dunia. Pada umumnya ada satu nada dasar bahwa "crisis of journalism" sedang terjadi dengan munculnya media sosial, juga ancaman tentang keselamatan wartawan kian penting untuk dibahas,” tulis Pimpinan Redaksi The Jakarta Post ini.

 Menurut mantan Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia itu, sesuai data Unesco, selama satu dekade ini telah terbunuh sekitar 827 wartawan di seluruh dunia, dan mereka tewas saat menjalankan tugas. “Saya kira momen World Press Freedom Day 2017 sangat baik digunakan untuk menegaskan kembali arah kebebasan pers, dan penghormatan terhadap kebebasan berbicara,” kata alumni The London School of Economics and Political Science, Inggris ini.

Nezar menilai, betapapun Indonesia dinilai terbaik di kawasan Asia Tenggara (dengan segala kekurangan yang ada) dan jadi model bagaimana demokrasi dan kebebasan berbicara bekerja. “Tentu ini kita tebus dengan harga yang mahal, dan saya kira tak seorang pun ingin kembali ke masa otoritarianisme gaya Orde Baru,” papar aktivis 98 yang sempat mengalami penculikan ketika itu.***

Komentar

Loading...